Senin 28 Maret 2016, 05:50 WIB

Waduk Nipah Tingkatkan Produksi Pangan

Mohammad Ghazi | Nusantara
Waduk Nipah Tingkatkan Produksi Pangan

MI/GHOZI

 

KEBERADAAN Waduk Nipah di Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, akan mampu meningkatkan produksi pangan di Madura.

Waduk, yang pembangunan konstruksinya dimulai sejak 2003 lalu itu, akan mampu mengairi 1.150 hektare sawah.

"Selama ini sawah-sawah itu masih berupa sawah tadah hujan. Dengan beroperasinya waduk ini, sawah-sawah ini akan menjadi sawah dengan sistem irigasi teknis sehingga jumlah produksinya juga akan meningkat," kata Presiden Joko Widodo saat meresmikan pengoperasian Waduk Nipah, Sabtu (19/3).

Kepala Negara mengakui kendala program peningkatan swasembada pangan ialah ketersediaan air.

Karena itu, hingga 2019 nanti pemerintah menargetkan akan membangun 49 sembilan bendungan dan waduk.

Hingga tahun ini telah terbangun 21 waduk, 13 di antaranya dibangun pada 2015 lalu dan 8 lainnya mulai dibangun tahun ini.

"Kalau waduk-waduk itu kita bangun, ketersediaan air untuk produksi pangan akan terjamin. Karena salah satu kuncinya ada pada ketersediaan air. Kalau airnya ada, semua bisa menanam," ujar Jokowi.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono memerinci Waduk Nipah mampu mengairi sawah seluas 1.150 hektare.

Sebanyak 925 hektare di antaranya, yang semula merupakan sawah tadah hujan, akan meningkat menjadi sawah dengan pengairan teknis.

"Dengan adanya Waduk Nipah, kawasan pantai utara Madura yang selama ini hanya dikenal sebagai penghasil ikan, juga akan menjadi salah satu daerah penopang stok pangan nasional," katanya.

Proses pembangunan Waduk Nipah yang berdiri di tiga desa, yakni Desa Montor, Sebanah, dan Nagasareh, sebetulnya sudah dimulai sejak 1993 lalu yang diawali dengan kajian teknis pada 1973.

Akibat terjadinya penolakan warga dan pemilik tanah, bentrokan warga dengan petugas keamanan pun pecah.

Empat warga tewas. Pada tahun itu juga, proses pembangunannya dihentikan total.

Setelah dilakukan pendekatan, pada 2003 proses pembangunan konstruksi dimulai dengan dana sebesar Rp120 miliar.

Sampai diresmikan, waduk ini menelan biaya sebesar Rp212,125 miliar.

8 waduk

Tahun ini, pemerintah akan memulai pembangunan delapan waduk di seluruh Indonesia.

Delapan waduk itu di antaranya Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi di Jawa Barat serta Bendungan Kolhua di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, ada juga Bendungan Rukoh di Pidie, Aceh, Bendungan Kuwil di Minahasa, Sulawesi Utara, Bendungan Sukoharjo di Pringsewu, Lampung, Bendungan Sindangheula di Banten, dan Bendungan Cipanas di Jawa Barat.

Di masa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, waduk tidak hanya digunakan sebagai pemasok air irigasi.

Dari sana, air juga digunakan sebagai air baku industri dan rumah tangga.

Sebagai pendukung ketahanan pangan utama, di Jawa Barat, Waduk Jatiluhur atau Waduk Juanda, yang menjadi waduk terbesar di Tanah Air, mampu menjamin ketersediaan air bagi 230 ribu hektare sawah di Kabupaten Purwakarta, Karawang, dan Bekasi.

Waduk juga dimanfaatkan sebagai sumber energi dengan mengembangkan pembangkit listrik tenaga air.

"Ketahanan air menjadi penting karena pada musim penghujan volume air sangat melimpah. Sebaliknya, di musim kemarau kondisinya sangat kekurangan," papar Menteri Basuki Hadimuljono.

Karena itu, peningkatan pembangunan infrastruktur tampungan air tidak kalah penting dari pembangunan infrastruktur jalan, bandara, atau pelabuhan. (N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More