Senin 28 Maret 2016, 03:00 WIB

Bea Cukai Tangkap Tanker

Hendri Kremer | Nusantara
Bea Cukai Tangkap Tanker

MI/HENDRI KREMER

 

DIREKTORAT Jenderal Bea dan Cukai Kepulauan Riau menangkap kapal tanker berbendera Indonesia MT Tabonganen di perairan Natuna, akhir pekan lalu.

Dari kapal itu, petugas menyita 1.115 ton minyak mentah senilai Rp4 miliar.

"Ini kapal tanker kedua yang kami tangkap tahun ini. Sebelumnya, kami menggagalkan upaya penyelundupan yang dilakukan kapal tanker MT An Hock berbendera Mongolia, Januari lalu," papar Kepala Bidang Penindakan dan Sarana Operasi, Kanwil Ditjen Bea, dan Cukai Kepulauan Riau, R Evy Suhartantyo, di Batam, kemarin.

Penangkapan dilakukan dengan menerapkan strategi jumping frog alias melompat-lompat dari satu pulau ke pulau lain.

Pada saat bersamaan, petugas mengintai, memantau, dan menyergap sasaran.

Menurut Evy, kondisi kondisi geografis Kepulauan Riau membuat petugas tidak mudah untuk mengintai kapal-kapal tanker penyelundup.

Dengan ribuan kilometer luas lautan dan sekitar 11 ribu pulau kecil di Kepulauan Riau, petugas harus terus berinovasi dalam menerapkan strategi untuk menangkap penyelundup.

Dalam penangkapan MT Tabonganen, lanjut dia, pihaknya menerima informasi intelijen dan menindaklanjutinya dengan mendekati tanker yang sedang berlayar.

"Kami mengejar dan menghentikan kapal itu di tengah lautan. Saat pemeriksaan dokumen, nakhoda tidak mampu menunjukkan dokumen resmi."

Dalam pemeriksaan, MA, sang nakhoda, warga Indonesia, mengaku minyak mentah itu berasal dari Palembang dengan tujuan west out port limit Singapura.

Teknisi kapal yang lain ialah AMJ, warga Indonesia, dan MFJ, warga asing.

"Penyelundupan ini sangat merugikan negara karena mengganggu persediaan minyak dalam negeri dan penerimaan devisa," papar Evy.

Kesabaran

Kepala Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Kepulauan Riau, Parjiya, mengakui penyelundupan mulai marak lagi di wilayahnya.

Karena itu, informasi sekecil apa pun, terutama soal penyelundupan minyak, pasti akan segera ditindaklanjuti anggota di lapangan.

"Kami juga membekalkan pelatihan bagi anggota di lapangan untuk meningkatkan keahlian mereka saat berada di laut. Salah satunya ialah menganalisis jalur-jalur tersembunyi yang sering dimanfaatkan para penyelundup," lanjutnya.

Selain keahlian yang terus ditingkatkan, ungkap Parjiya, petugas di lapangan juga dituntut bersabar karena dalam melakukan pengintaian, pemantauan, dan penyergapan, biasanya paling sedikit membutuhkan waktu tiga hari.

Itu pun jika didukung informasi intelijen yang akurat.

"Tanpa informasi intelijen, kami tetap bekerja dengan menelaah dan memetakan jalur hitam sebagai upaya antisipasi. Kesulitan kami tidak kecil karena para penyelundup ini juga melengkapi diri dengan peralatan yang canggih," tegasnya.

Terkait dengan penangkapan MT Tabonganen, Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Kepulauah Riau juga memeriksa 12 anak buah kapal, sedangkan nakhoda dan dua stafnya dipastikan akan diproses hukum sesuai dengan UU No 17/2006 tentang Kepabeanan dengan ancaman pidana 10 tahun penjara dan denda hingga Rp5 miliar. (N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More