Sabtu 26 Maret 2016, 07:06 WIB

Deteksi Narkoba melalui Rambut

Dhika Kusuma Winata | Teknologi
Deteksi Narkoba melalui Rambut

FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana

BELAJAR dari kasus narkoba Bupati Ogan Ilir yang tertangkap pekan lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengusulkan dilakukan tes rambut bagi calon kepala daerah yang akan mengikuti Pilkada 2017. Mengapa rambut dipilih sebagai metode uji laboratorium? Seberapa efektifkah? Uji forensik rambut menjadi senjata mendeteksi zat kimia, termasuk narkoba. Berbeda dengan tes urine yang hanya mampu mendeteksi narkoba kurun waktu tujuh hari, uji laboratorium rambut mampu memeriksa riwayat pemakaian obat hingga 90 hari ke belakang. Tes darah hanya efektif mendeteksi penggunaan zat narkotika yang terjadi paling lama 5-7 hari. Secara alamiah, keuntungan itu didapat karena rambut kepala tumbuh cukup lama. Rambut memanjang hanya 1 cm per bulan. Jika Anda mengonsumsi obat, bahan-bahan kimia aktif yang terkandung dalam obat masuk ke tubuh. Zat kimia itu lalu akan terakumulasi di folikel rambut. Seiring bertambahnya helai rambut, folikel akan menimbun bahan-bahan kimia tersebut di dalamnya. Zat kimia mampu mengendap secara efektif hingga 3 bulan lamanya. Karena itu, rekam jejak penggunaan narkoba dapat ditelusuri jauh ke belakang. Tes umumnya dilakukan dengan pengambilan sampel rambut 1 sentimeter dari ujung pangkal sebanyak tiga helai.

Satu rambut digunakan sebagai sampel, sisanya biasanya disimpan sebagai cadangan. Sampel rambut dimasukkan ke kaca selanjutkan masuk ke alat pendeteksi dengan bantuan zat kimia. Hasil bisa didapat 2-3 hari kemudian. "Tes rambut lebih akurat daripada tes urine. Air dalam tubuh bisa berganti terus. Dalam waktu tiga hari hingga satu minggu itu bisa bersih," kata Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Sinta Dame Simanjuntak, Senin (21/3) lalu.

Struktur
Meskipun sama-sama akurat, tes urine hanya bersifat situasional. Ketika dalam satu minggu seseorang yang dites tidak menggunakan narkoba, hasilnya bisa negatif karena tidak terindikasi zat narkoba apa pun. Sementara itu, tes rambut mampu mendeteksi zat-zat kimia karena strukturnya tidak berubah meski menyerap zat kimia. "Ada kisaran waktunya (tes rambut), bisa satu bulan sampai tiga bulan dan itu pun dilihat jenis narkoba apa yang mau diperiksa," tutur Sinta. Menurut Sinta, alat pendeteksi rambut hanya tersedia di BNN pusat dan belum tersedia di BNN provinsi karena pihaknya ingin tes rambut dilakukan secara tersentralisasi.

Jika tes rambut disetujui KPU untuk Pilkada 2017, ia meminta adanya mekanisme yang jelas dan rapi karena tes rambut memerlukan waktu tiga hari. "Harus ada mekanisme yang benar-benar rapi, dari daerah mestinya waktu pengiriman barang bisa sehari sampai, mengirim kembali sehari tidak ada masalah, karena prosesnya membutuhkan waktu tiga hari," kata dia. Menurut catatan, uji sampel rambut untuk mendeteksi zat berhaya sebetulnya sudah dikembangkan pada abad ke-19. Kasus forensik pertama untuk menguji kandungan zat berbahaya pada rambut dilakukan pada 1850-an. Kala itu, investigasi forensik terhadap rambut jazad yang sudah berusia 11 tahun membuktikan kandungan arsenik. (Ant/Forensic Magz/L-2)

Baca Juga

AFP/Olivier Douliery

Instagram Hadirkan Fitur Obrolan Video Hingga 50 Orang

👤Antara 🕔Sabtu 23 Mei 2020, 07:00 WIB
Meskipun seluruh pengaturan untuk memulai panggilan video terjadi pada aplikasi Instagram, ketika percakapan video dimulai, pengguna akan...
Istimewa/Kemenkominfo

Kemenkominfo Buka 17.200 Beasiswa Pelatihan DTS Online Academy

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 20 Mei 2020, 09:16 WIB
Pelatihan Program DTS 2020 itu ditujukan untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam mendukung transformasi digital di Indonesia menuju...
DOK. Waze

Menurut Waze, Bandung Paling Taat PSBB

👤Antara 🕔Rabu 20 Mei 2020, 08:07 WIB
Sejak PSBB diberlakukan, aktivitas mengemudi kendaraan di Kota Bandung turun 82 persen dari jumlah rata-rata kilometer mengemudi sebelum...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya