Sabtu 31 Oktober 2020, 18:50 WIB

Risiko Kesehatan Atlet Esport Jadi Perhatian Dokter

Galih Agus Saputra | Weekend
Risiko Kesehatan Atlet Esport Jadi Perhatian Dokter

Unsplash/ Alex Haney
Para dokter spesialis olahraga menilai dunia medis perlu protokol baru untuk atlet esport.

PESATNYA perkembangan dunia Esport rupanya juga menarik perhatian tenaga medis, khususnya di kalangan dokter spesialis olahraga. Hal tersebut, dapat dilihat dari sebuah laporan yang dipublikasikan melalui The Journal of American Osteopathic Association beberapa waktu lalu.

Dalam laporan tersebut, sejumlah tenaga medis tampak memperhatikan perkembangan altet Esport di Amerika Serikat. Menurut mereka, kedokteran olahraga butuh protokol baru untuk menjamin kesehatan para atlet.

"Bisa dikatakan kini esports tidak lagi dalam tahap awal. Ini kompetisi kelas dunia dan bisnis yang serius. Sudah waktunya kita dalam kedokteran olahraga memberi para atlet ini dukungan yang mereka butuhkan," kata Direktur Kedokteran Olahraga New York Institute of Technology College of Osteopathic Medicine, Hallie Zwibel seperti dilansir dari Sciencedaily, Jumat, (30/10).

Zwibel mengatakan, Esports mungkin dimainkan sambil duduk, dan orang-orang akan berpikir bahwa secara harfiah mereka tidak akan cedera. Akan tetapi, mereka sebenarnya dapat mengalami masalah kesehatan yang signifikan karena sifat olahraga yang tidak banyak bergerak.

Zwibel dan tim mengamati, atlet esport biasa berlatih tiga hingga 10 jam per hari untuk menyempurnakan strategi dan refleks mereka dalam permainan. Penelitian sebelumnya mendapati 56% atlet esports mengalami kelelahan mata, 42% melaporkan nyeri leher dan punggung, 36% nyeri pergelangan tangan, dan 32% nyeri tangan.

Selain itu, 40% dari mereka mengaku tidak melakukan aktivitas fisik pada hari tertentu dan hanya 2% dari mereka yang mengaku pernah mencari atau meminta perawatan medis. Beberapa gangguan yang ditemui, misalnya, disregulasi metabolik karena duduk terlalu lama. Mereka juga mengonsumsi kafein dan gula dengan cukup tinggi, selain menderita depresi dan kecemasan.

"Kami baru saja menyadari betapa esport menuntut fisik dan mental. Seperti atlet di perguruan tinggi atau tingkat profesional lainnya, mereka membutuhkan pelatih, terapis fisik, dan dokter untuk membantu mereka mengoptimalkan kinerja dan menjaga kesehatan jangka panjang," imbuh Zwibel.

Baca Juga

Dok Jacoweek

Jakarta Coffee Week 2020 Siap Digelar Daring

👤Retno Hemawati 🕔Selasa 24 November 2020, 23:15 WIB
Diadakan sejak tahun 2016, di tahun ke-limanya kali ini Jacoweek dilakukan secara online...
Dok Lazada

Gandeng Lima Desainer Lazada Meriahkan Jakarta Fashion Week

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 November 2020, 22:03 WIB
Kelima desainer muda itu 3Mongkis, SSST, HAM! Jeansku, Nadjani, dan Warning...
Instagram Galeri Nasional

Kehabisan Slot Pameran Imersif Affandi? Pakai Saja Fitur Ini

👤Galih Agus Saputra 🕔Selasa 24 November 2020, 19:15 WIB
Pameran berlangsung sampai besok, namun slot tiket mengunjungi pameran telah habis direservasi sejak jauh...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya