Selasa 20 Oktober 2020, 06:43 WIB

BKSDA Aceh Selamatkan Harimau Sumatra Terkena Jerat

Ferdian Ananda Majni | Nusantara
BKSDA Aceh Selamatkan Harimau Sumatra Terkena Jerat

Dok BKSDA Aceh
Evakuasi harimau Sumatra yang terkena jerat di APL Desa Malelang Jaya, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues.

 

TIM Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh berhasil  mengevakuasi satu individu Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang terkena jerat di kawasan perkebunan masyarakat (APL), Desa Malelang Jaya, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues.

Berdasarkan identifikasi tim medis, Harimau Sumatra tersebut diperkirakan berumur 2-3 tahun dengan jenis kelamin betina dan memiliki berat 45–55 kg.

"Hasil pemeriksaan dan penanganan tim medis di lapangan, kondisi Harimau Sumatra ini secara fisik tidak ditemukan luka terbuka, hanya memar dan lecet. Namun, perlu observasi lanjutan karena satwa tersebut belum dapat optimal menggerakkan kaki belakang, yang diperkirakan karena jerat menganggu sistem sirkulasi dan motorik syaraf," kata Kepala Balai KSDA Aceh Agus Rianto dalam keterangan resmi, Senin (19/10).

Baca juga: Membangun Industri Wisata Berbasis Hutan

Mengingat kondisi dan keamanan satwa tersebut, Agus menjelaskan proses observasi dan pemulihan dilakukan di Kantor SPTN 3 Blangkejeren, BPTN Wilayah 2 Kutacane, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BTNGL), selama 3–4 hari ke depan.

Jika kondisi Harimau Sumatra tersebut menunjukkan perkembangan kesehatan yang bagus, akan dipersiapkan rencana proses pelepasliaran ke habitat alaminya. Namun, apabila perkembangan kesehatannya belum menunjukkan perkembangan yang berarti maka akan dilakukan observasi kesehatan lebih lanjut dan perawatan yang lebih intensif di Banda Aceh.

Tim penyelamatan kali ini terdiri dari tim medis balai dan Resort Wilayah 14 Aceh Tenggara - SKW II Subulussalam serta didukung Balai Besar TNGL, tim medis FKL, WCS, RPH Tongra-KPH Wilayah 5 dan Polsek Terangun.

"Informasi adanya Harimau Sumatra yang terjerat diperoleh dari petugas pengamanan RPH Tongra, Terangun pada Sabtu (17/10) sore. Sejak Minggu (8/10) pagi, tim melakukan upaya penyelamatan satwa malang tersebut," sebut Agus.

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.

Berdasarkan The IUCN Red List of Threatened Species, satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatra ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

"Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian, khususnya Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa, serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati," terangnya.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar tidak memasang jerat atau pagar jerat babi, racun, pagar listrik tegangan tinggi yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi yang dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurutnya, beberapa aktivitas tersebut juga dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya Harimau Sumatra dengan manusia, yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa, baik bagi manusia ataupun keberlangsungan hidup satwa liar tersebut.

"Kami mengapresiasi dukungan semua pihak, khususnya masyarakat di Desa Malelang Jaya, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues yang sangat antusias membantu proses evakuasi. Mereka pun mendukung dilakukan pelepasliaran kembali di wilayah kawasan hutan Terangun, karena menurut mereka, harimau tersebut adalah satwa penghuni di wilayah hutan Terangun yang harus dikembalikan ke wilayah tersebut," ungkap Agus.

Sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap kelangsungan hidup harimau tersebut, mereka mengusulkan nama “Jaya” pada harimau betina tersebut.

Sementara itu, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK, Indra Exploitasia mengatakan harimau mempunyai peran dan fungsi penting bagi alam. Oleh karena itu perlu menyadari nilai eksistensi spesies ini begitu dibutuhkan dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

"Untuk itu, pemerintah berupaya keras dalam menyelamatkan satwa ini dari segala bentuk ancaman dan gangguan serta bagaimana meningkatkan populasinya di alam," kata Indra.

Peningkatan populasi spesies top karnivor ini pada site monitoring menunjukkan semakin efektifnya konservasi, dan meningkatkan optimisme kerja konservasi spesies pada berbagai lansekap Sumatra. (OL-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Bareskrim Selidiki Dugaan Cagub Sumbar Curi Start Kampanye

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Selasa 24 November 2020, 17:09 WIB
Pasangan calon gubernur Sumbar, Mulyadi-Ali Mukhni melakukan kampanye di luar jadwal melalui sebuah tayangan di program televisi nasional...
DOK USU

Dua Mengundurkan Diri, Empat Orang Ikuti Audisi Calon Rektor USU

👤Puji Santoso 🕔Selasa 24 November 2020, 17:06 WIB
Empat kandidat calon rektor akan memaparkan program kerja sesuai dengan visi dan misi USU apabila terpilih sebagai rektor USU periode...
DOK MI

Pemkab Sukabumi Serahkan Bantuan 1.315 Rapid Test Kit

👤Benny Bastiandy 🕔Selasa 24 November 2020, 16:54 WIB
Pelaksanaan Pilkada yang bersamaan pandemi covid-19, harus memberikan rasa aman dan nyaman. Tak hanya bagi penyelenggara, tapi juga kepada...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya