Senin 19 Oktober 2020, 09:39 WIB

Menuju Petani Modern, Petani Indonesia Harus Ubah Mindset

Kristiadi | Nusantara
Menuju Petani Modern, Petani Indonesia Harus Ubah Mindset

Dok BPPSDMP
Pertemuan para penyuluh pertanian di Ciamis dengan Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi (duduk ke-2 kiri).

 

MENJADI petani dan berusaha di sektor pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan adalah keniscayaan dan bisa diraih. Hal itu sudah dibuktikan di negara-negara maju yang memiliki pertanian yang maju dan modern.

"Semua negara maju bertumpu pada pertanian. Lihat Amerika, Rusia dan Tiongkok. Mereka pastikan dulu pangan rakyat terpenuhi, untuk meraih capaian suksesnya saat ini sebagai negara maju," kata Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi saat kunjungan kerja di Kabupaten Ciamis, Jabar, Sabtu (17/10).

Dedi Nursyamsi menyebut sukses sejumlah negara di Tmur Tengah yang kini ijo royo-royo setelah manfaatkan arang dari batok kelapa menjadi filter penjernih air. Fungsi lain, menyimpan air di dalam tanah. Padang pasir berhasil 'disulap' menjadi lahan pertanian.

"Lihat di sini, batok kelapa dibiarkan berserakan, Timur Tengah tidak punya pohon kelapa seperti Indonesia. Mereka harus impor. Peluang emas bagi petani Ciamis mengolah jadi komoditas ekspor," katanya.

Dalam kunjungan kerja ke Ciamis, Dedi mengingatkan para penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian Paamrican dan BPP Sindang Kasih untuk selalu mendampingi para petani dalam melaksanakan digitalissi pertanian KostraTani dan mengawal hadirnya petani maju, mandiri dan modern.

"Petani harus untung, jangan biarkan pedagang dan middle men yang untung," katanya lagi.

Ia menambahkan mengapa profesi petani kurang diminati karena maslaah utama petani di Indonesia adalah sekedar bertani dan bekerja tanpa orientasi laba. Akibatnya anak-anak petani jarang terjun sebagai petani karena melihat orangtua bekerja sebagai petani tidak pernah untung dan tidak cukup untuk makan.

Dedi pun mengutip arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo seperti diinstruksikan Presiden RI Joko Widodo bahwa pertanian Indonesia ke depan harus berbasis korporasi selaku korporasi petani yang dikelola dengan manajemen profesional. Ia mengajak petani Ciamis maupun seluruh Indonesia jangan lagi menjual hasil panen dalam bentuk mentah. Proses dan olah dahulu menjadi produk olahan bernilai tambah, sehingga hasilnya menguntungkan petani setelah dilepas ke pasaran.

"Bayangkan, petani jual gabah, harganya R4.000 sekilo. Harus tunggu tiga sampai empat bulan untuk panen. Selama itu pula seluruh risiko kebanjiran, kekeringan, hama penyakit ditanggung petani sendirian," katanya.

baca juga: Pertanian Modern Bukan Lagi Tanam, Panen lalu Jual

Setelah petani membentuk korporasi, maka saham yang dikumpulkan dapat digunakan membeli rice milling unit (RMU) dan mesin pengering (dryer). Hasil panen diolah dulu di RMU dan dryer kemudian dikemas menjadi beras premium seharga Rp15.000. Berarti petani meraih laba empat kali lipat dari sekadar menjual gabah.

"Faktanya saat ini, petani masih jual gabah. Pedagang raih untung berlipat ganda dalam hitungan hari. Tanpa risiko kerugian berbulan-bulan seperti ditanggung petani. Penyuluh harus mampu mengubah mindset petani." kata Dedi mengakhiri arahannya di BPP Pamarican, Ciamis. (OL-3)

Baca Juga

ANTARA

Kawasan Wisata di DIY Diingatkan Jalankan Prokes

👤Agus Utantoro 🕔Senin 26 Oktober 2020, 20:41 WIB
Stakeholder pariwisata diharuskan memastikan penerapan protokol kesehatan (prokes) secara konsisten khususnya pada industri pariwisata,...
MI/Nurul Hidayah

Demi Libur Panjang, PSBT di Kota Cirebon Dicabut

👤Nurul Hidayah 🕔Senin 26 Oktober 2020, 20:05 WIB
JELANG libur panjang di akhir bulan, Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon cabut aturan pembatasan sosial berskala terbatas (PSBT), sebab libur...
MI/Heri Susetyo

Polri-TNI AL Perkuat Sinergitas Jaga Kamtibmas Jatim

👤Heri Susetyo 🕔Senin 26 Oktober 2020, 19:43 WIB
Sinergitas dua instansi ini terbukti mampu menciptakan situasi kamtibmas kondusif di Jatim pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya