Senin 19 Oktober 2020, 07:21 WIB

Ribuan Warga Prancis Gelar Aksi Dukung Guru yang Dipenggal

Basuki Eka Purnama | Internasional
Ribuan Warga Prancis Gelar Aksi Dukung Guru yang Dipenggal

AFP/GEORGES GOBET
Seorang demonstran menunjukkan kover majalah Charlie Hebdo dalam aksi demonstrasi di Paris sebagai solidaritas untuk Samuel Paty.

 

PULUHAN ribu warga turun ke jalan di Paris dan kota lain di Prancis, Minggu (18/10), dalam aksi solidaritas kepada seorang guru yang dipenggal karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Demonstran di Place de la Republique membawa spanduk bertuliskan 'Tolak totalitarian pikiran' dan 'Saya seorang guru' sebagai bentuk dukungan untuk mendiang Samuel Paty.

"Anda tidak bisa menakuti kami. Kami tidak tidak takut. Anda tidak akan bisa memecah belah kami. Kami adalah Prancis!" cicit Perdana Menteri Prancis Jean Catex yang ambil bagian dalam aksi demonstrasi di Paris.

Baca juga: Kasus Global Meningkat, Eropa Berlakukan Pembatasan Baru

Castex didampingi Menteri Pendidikan Jean-Michal Blanquer, Wali Kota Paris Anne Hidalgo, dan Menteri Muda Dalam Negeri Marlene Schiapa yang mengaku dirinya ambil bagian dalam aksi demonstrasi sebagai bentuk dukungan untuk guru, sekularisme, dan kebebasan berekspresi.

Sejumlah demonstran meneriakan, 'Aku Samuel', mirip dengan seruan 'Aku Charlie' ketika kelompok militan menewaskan 12 orang di kantor majalah satir Charlie Hebdo pada 2015 karena menerbitkan kartun Nabi Muhammad.

Samuel Paty dibunuh saat pulang dari sekolah tempat dia mengajar di Paris pada Jumat (16/10) sore.

Foto guru itu dan pesan pengakuan ditemukan di ponsel sang pembunuh, Abdullakh Anzorov, imigran asal Chechnya berusia 18 tahun, yang tewas ditembak polisi.

Saksi mata mengaku melihat Anzorov di sekolah tempat Paty mengajar pada Jumat (16/10), mencari guru itu.

Pada Sabtu (17/10), jaksa antiteror Prancis Jean-Francois Ricard mengatakan Paty menjadi sasaran ancaman daring karena memperlihatkan kartun Nabi Muhammad kepdaa para muridnya.

Ayah dari seorang siswa di kelas Paty telah melancarkan seruan daring agar Paty dipecat dari sekolah itu.

Dia menyebutkan nama lengkap Paty serta alamat sekolah itu di unggahan di media sosial beberapa hari sebelum pemenggalan guru itu yang disebut Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagai aksi terorisme.

Ayah itu dan seorang militan kelompok radikal telah ditangkap polisi Prancis bersama empat anggota keluarga Anzorov.

Menurut sekolahnya, Paty telah memberi opsi kepada siswa muslim untuk meninggalkan kelas sebelum menunjukkan kartun Nabi Muhammad dengan alasan tidak mau mereka tersinggung.

Kamel Kabtane, imam masjid di Lyon dan tokoh Islam di Prancis, Minggu (18/10), mengatakan Paty hanya menjalankan tugasnya dan dia telah melakukannya dengan penuh penghormatan. (AFP/OL-1)

Baca Juga

AFP/MANAN VATSYAYANA

Topan Molave Hantam Vietnam, 13 Tewas dan Puluhan Hilang

👤Faustinus Nua 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 12:25 WIB
Tanah longsor, yang melanda daerah terpencil di Provinsi Quang Nam, sehari sebelumnya, menewaskan 13 orang dengan 40 orang...
AFP/ATTA KENARE

Pemimpin Iran Kecam Sikap Macron Terkait Kartun Nabi Muhammad

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 12:19 WIB
"Tanya kepada presiden Anda mengapa dia mendukung penghinaan terhadap rasul Allah atas nama kebebasan berekspresi. Apakah kebebasan...
AFP/YASSER AL-ZAYYAT

Kuwait Boikot Produk Prancis Terkait Kartun Nabi Muhammad

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 11:52 WIB
Serikat Toko Kuwait mengatakan 60 dari 69 toko di negara itu telah menarik produk asal Prancis sementara sisanya akan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya