Senin 19 Oktober 2020, 05:00 WIB

Pertanian Modern Bukan Lagi Tanam, Panen lalu Jual

mediaindonesia.com | Nusantara
Pertanian Modern Bukan Lagi Tanam, Panen lalu Jual

Dok:Pusluhtan
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi bersama Kadistan Ciamis, S Budi Wibowo dan Kapusluh Leli Nuryati di BPP Sindangkasih, Ciamis

 

PETANI abad 21 di era digital 4.0, kolotnial maupun milenial, seharusnya tidak lagi berfikir "tanam, petik lalu jual" maka bentuklah korporasi. Dukung dengan inovasi dan mekanisasi, agar menguasai pertanian dari hulu ke hilir sebagai bisnis bukan sekadar bertani.

"Bukan lagi jamannya petani bekerja dan berusaha tani sendiri-sendiri. Harus berjamaah. Awali dari kelompok-kelompok tani untuk membentuk korporasi petani. Saham korporasi dari petani," kata Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi di Ciamis, Jabar, kemarin

Di hadapan sejumlah penyuluh dan petani Ciamis di Kecamatan Pamarican maupun Sindangkasih, Dedi Nursyamsi mendorong petani mengubah semangat dan etos kerja, dari sekadar bertani menjadi pengusaha.

Menurutnya, para penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pamarican dan BPP Sindang Kasih, pelaksana digitalisasi pertanian Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KostraTani) berperan mendampingi dan mengawal hadirnya petani maju, mandiri dan modern.

"Pertanian terbukti bertahan di tengah pandemi Covid-19. Pertanian tumbuh 16,24%. Begitu pula ekspor produk pertanian, kontribusinya positif bagi perekonomian nasional," kata Dedi Nursyamsi.

Padahal, katanya, anggaran APBN 2020 untuk pertanian dipangkas hingga 2/3, berdampak pada alokasi Dana Dekonsentrasi  dan Dana Alokasi Khusus untuk BPP pun susut dari Rp1,4 triliun jadi Rp150 miliar.

"Kadistan Ciamis tadi mengaku padahal sudah siap rehab dan bangun BPP, tapi ditunda karena Covid-19," katanya.

Dedi Nursyamsi hadir di Ciamis bersama Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Dadan Hidayat; Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, S Budi Wibowo; dan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan BPPSDMP) Leli Nuryati.

"Pertanian tetap tumbuh karena semangat petani dan penyuluh bahu-membahu di lapangan. Tidak berlaku WFH (work from home) di lapangan, Sinar matahari malah menyehatkan untuk menangkal Corona," katanya.

Dedi merujuk sukses Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Lampung Tengah. Ada sembilan Pasar KWT dari 11 kecamatan, yang dibangun bupati. "Penggerak KWT, penyuluh honorer THL-TBPP, sampai saat ini belum diangkat jadi PNS tapi tetap berprestasi."

Dia pun mengutip arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo seperti diinstruksikan Presiden RI Joko Widodo bahwa pertanian Indonesia ke depan harus berbasis korporasi selaku korporasi petani yang dikelola dengan manajemen profesional.

"Petani tidak lagi sendiri-sendiri. Korporasi petani yang akan menjaga setiap anggota mendapat laba yang sama. Bilamana merugi, risikonya dibagi ke seluruh pemegang saham, sehingga kerugian tidak terasa," katanya seperti dilansir dari keterangan tertulis Pusluhtan BPPSDMP.

Menurutnya, masalah utama petani kita adalah sekadar bertani dan bekerja. Tanpa orientasi laba. Akibatnya, anak petani enggan turun ke sawah, karena melihat bapaknya sudah bekerja keras di sawah berbulan-bulan, tapi hanya cukup untuk makan.

Dedi Nursyamsi mengajak petani Ciamis dan di seluruh Indonesia jangan lagi menjual hasil panen mentahan. Proses dahulu menjadi produk olahan bernilai tambah, sehingga petani meraih laba setelah dilepas ke pasaran.

"Bayangkan, petani jual gabah, harganya R4.000 sekilo. Harus tunggu tiga sampai empat bulan untuk panen. Selama itu pula seluruh risiko kebanjiran, kekeringan, hama penyakit ditanggung petani sendirian," katanya.

Setelah petani membentuk korporasi, maka saham yang dikumpulkan dapat digunakan membeli rice milling unit (RMU) dan mesin pengering (dryer). Hasil panen diolah dulu di RMU dan dryer kemudian dikemas menjadi beras premium seharga Rp15.000, berarti petani meraih laba empat kali lipat dari sekadar menjual gabah.

"Faktanya saat ini, petani masih jual gabah. Pedagang raih untung berlipat ganda dalam hitungan hari. Tanpa risiko kerugian berbulan-bulan seperti ditanggung petani. Penyuluh harus mampu mengubah mindset petani." kata Dedi mengakhiri arahannya di BPP Pamarican, Ciamis. (OL-13)

 

Baca Juga

MI/Dwi Apriani

Bangun Kantor Gubernur Sumsel Untuk Keseimbangan Ulu dan Ilir

👤Dwi Apriani 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 11:28 WIB
Bangunan kantor gubernur Sumsel sebagai bangunan warisan budaya (heritage) yang ditetapkan dan tidak boleh diubah bentuknya karena usia...
MI/Hendri Kremer

Efek Pandemi, Usaha Pariwisata Harus Sertifikasi CHSE

👤Hendri Kremer 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 11:20 WIB
Seritifakasi CHSE iditerapkan di seluruh Indonesia sebagai langkah pemerintah membangun citra pariwisata dengan menerapkan...
MI/Tosiani

Aliran Adem Hatie Berkembang Pesat di Temanggung

👤Tosiani 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 10:56 WIB
Kendati para anggotanya berasal dari berbagai agama, namun sekte Adem Hatie ini bukanlah agama. Semua anggota memuja Dewa Tan Tik Sioe atau...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya