Minggu 18 Oktober 2020, 14:05 WIB

Bencana Alam Mengancam, Ini Protokol Covid-19 saat Harus Mengungsi

Zubaedah Hanum | Humaniora
Bencana Alam Mengancam, Ini Protokol Covid-19 saat Harus Mengungsi

Antara
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito.

 

PANDEMI covid-19 masih berlangsung di tengah ancaman bencana hidrometeorologi akibat penyimpangan iklim. Satgas Penanganan Covid-19 pun memperingatkan pentingnya disiplin protokol kesehatan covid-19 dalam kondisi bencana alam.

"Upaya mitigasi bencana juga perlu disiapkan dengan matang oleh pemerintah daerah ataupun pihak-pihak yang terkait. Hal ini bertujuan untuk menekan penularan Covid-19 di lokasi pengungsian," tegas Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito di lansir dari laman BNPB, Minggu (18/10).

Ia menyampaikan, kontigensi plan dan mitigasi risiko harus disiapkan dengan matang untuk meminimalisir kerugian bahkan korban jiwa pada sektor terdampak termasuk memastikan lokasi pengungsian, yang akan digunakan untuk dapat meminimalisir penularan Covid-19.

Di pengungsian harus dipastikan masyarakat mendapatkan masker cadangan, hand sanitizier, alat makan pribadi dan tempat evakuasi yang dirancang untuk menjaga jarak pengungsi. Dan harus ada petugas kesehatan di sekitar pengungsian.

Satgas Penanganan Covid-19 meminta pemerintah daerah, khususnya yang wilayahnya rawan bencana, segera menyiapkan segala peralatan dan fasilitas sesuai protokol kesehatan. Bagi masyarakat tetap patuhi 3M, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak selama di lokasi pengungsian.

"Pemerintah daerah juga harus lakukan monitoring yang ketat termasuk testing dan tracing jika dibutuhkan di lokasi pengungsian," ujarnya.

Pemerintah daerah juga diminta bersinergi dengan lembaga daerah TNI, Polri serta masyarakat untuk menghindari klaster Pengungsian. Bagi daerah yang rawan tersebut agar berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), untuk mempersiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan.

Jika tidak terpaksa, Satgas mengimbau masyarakat untuk menghindari lokasi pengungsian di tenda. "Manfaatkan tempat-tempat penginapan yang terdekat sebagai lokasi pengungsian," pungkas Wiku.

Berdasarkan analisis potret data suhu permukaan laut yang dilakukan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), saat ini La Lina teraktivasi di Pasifik Timur. Kondisi ini dapat memicu frekuensi dan curah hujan wilayah Indonesia pada beberapa bulan mendatang.

Dampak La Lina memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi, dibandingkan kondisi normal. Sehingga, potensi banjir dan tanah longsor perlu diwaspadai. (H-2)

Baca Juga

ANTARA/Aswaddy Hamid

Realisasi Bansos Tunai Covid-19 Kemensos Capai 82%

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 10:26 WIB
Bansos tunai Kemensos ditujukan bagi 9 juta masyarakat tidak mampu di 33 provinsi di...
ANTARA FOTO/Indrianto Eko

Populasi Komodo di Lembah Loh Buaya Meningkat dalam Beberapa Tahun

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 10:17 WIB
Total jumlah biawak komodo pada 2018 sebanyak 2.897 individu dan pada tahun 2019 bertambah menjadi 3.022 individu atau bertambah 125...
Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden Tinjau Pengembangan Lumbung Pangan Baru di Sumatra Utara

👤Andhika Prasetyo 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 10:10 WIB
Presiden juga diagendakan menyerahkan sertifikat hak atas tanah untuk rakyat di Stadion Simangaronsang, Kecamatan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya