Minggu 18 Oktober 2020, 01:50 WIB

Sungsang Bawana Balik

Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend
Sungsang Bawana Balik

MI/Ebet
Ono Sarwono Penyuka wayang

PAHAM demokrasi yang dianut negeri ini menjamin kebebasan setiap warga menyampaikan pendapatnya, termasuk lewat berunjuk rasa atau berdemonstrasi.

Akan tetapi, harus diakui bahwa cara menikmati kemewahan yang kita dapatkan sejak era reformasi itu hingga kini belum disertai dengan tanggung jawab. Adab berdemonstrasi belum menunjukkan kedewasaannya. 

Mengamuk atau berbuat anarkistis hampir selalu menyertainya.Aksi-aksi barbar atau perusakan terhadap fasilitas publik atau apa pun ketika berunjuk rasa, seperti yang terjadi baru-baru ini, merupakan bukti kita masih mentah dalam berdemokrasi.


Melamar Prabasini

Dalam dunia wayang, model demonstrasi penuh nafsu, emosi, otot, atau brutalisme pernah dilakukan oleh begundal bernama Kala Pracona bersama tandemnya, Sakipu. Kedua raksasa dari Negara Gilingwesi ini mengobrak-abrik Kahyangan Jonggring Saloka karena aspirasinya ditolak.

Pracona berpandangan bahwa semua makhluk (manusia) memiliki hak dan derajat yang sama. Ia menolak aturan yang membeda-bedakan satu sama yang lain yang diyakini sebagai kebenaran. Diskriminasi ini dinilai tidak adil.

Atas dasar itulah, Pracona memprotes Kahyangan, pihak yang dianggapnya bertanggung jawab dalam mengatur kehidupan di marcapada. Ia menuntut diberi hak untuk bisa memperistri widadari.

Ia kepincut Bathari Prabasini. Untuk mewujudkan aspirasinya itu, Pracona mengutus patihnya, Sakipu, pergi ke Kahyangan. Jika tidak digubris, sang duta diberi keleluasaan mengambil keputusan sendiri. 

Sakipu paham dengan perintah itu, Kahyangan harus dibikin sungsang bawana balik, segala isinya dijungkirbalikan atau diobrak-abrik. Misi yang diemban Sakipu tidak mudah. Baru di depan gapura Kahyangan, ia sudah dicegat prajurit dorandara.  Karena tidak diizinkan, terjadilah perselisihan. Namun, Sakipu mudah menundukkan tentara penjaga kerajaan dewa tersebut. Sejumlah lapisan gerbang pemeriksaan bisa ia lewati hingga akhirnya bertemu Bathara Narada.

Paranpara Kahyangan ini memang sengaja menemui Sakipu untuk memberi penjelasan, asumsinya barangkali demonstrans itu belum
membaca atau paham tentang undang-undang jagat. Narada menegaskan bahwa dewa tidak bermaksud menolak lamaran Pracona, tapi semata-mata karena ketentuan alam. 

Dalam hal perjodohan, berdasarkan undangundang jagat, dewa harus berpasangan dengan dewi, sedangkan widadarawidadari, aksasaraksesi. Bila itu diterjang, rusaklah harmoni dunia. Sakipu tidak peduli.

Ia mengancam bila tuntutannya tidak dipenuhi, Kahyangan diganyang. Narada kukuh berpegang pada aturan tersebut. Maka, Sakipu mengamuk, semua bangunan dihancurkan dan dibakar. Tidak ada dewa yang mampu menghentikan amarahnya.

Penguasa Kahyangan, Bhatara Guru, kemudian mengutus Narada turun ke marcapada menemui Werkudara-Arimbi guna meminjam putra mereka yang masih bayi, Tetuka, untuk dijadikan jagonya dewa. Tugas Narada itu juga sekaligus membawa pusaka untuk memutus tali pusar Tetuka.

Singkat cerita, Narada lalu menghadapkan Tetuka kepada Sakipu. Ia katakan bila bisa mengalahkan jabang bayi itu, lamarannya diterima. Namun, meski sudah dengan berbagai upaya, Sakipu tidak kuasa membunuh Tetuka. Ia meminta lawan yang sepadan.


Sakipu dan Pracona sirna

Narada kemudian men-njedhi atau menggembleng Tetuka agar cepat besar. Putra kedua Werkudara itu dicemplungkan ke Kawah Candradimuka. 

Biasanya, makhluk yang dimasukkan ke tempat api itu akan hancur lebur, tetapi tidak demikian yang terjadi pada Tetuka. Tetuka malah menjelma menjadi pemuda gagah perkasa. Ia diberi berbagai pusaka oleh para dewa sehingga menjadi sakti mandraguna. 

Semua pusaka menyatu dalam tubuhnya. Bathara Guru memberinya nama Gatotkaca. Setelah diwejang Narada, Gatotkaca lalu menyatroni Sakipu yang sudah berhari-hari menduduki Kahyangan. Maka, terjadilah perang sengit antartitah yang sama-sama sakti. Akhirnya, Sakipu tewas setelah digigit Gatotkaca.

Narada mengingatkannya bahwa sebagai kesatria tidak boleh menggigit. Sebenarnya, yang dilakukan Gatotkaca itu naluri alamiahnya, apalagi musuhnya juga menggigit. Ia hanya spontan membalas dengan cara yang sama.

Kodratnya, Gatotkaca memang memiliki taring. Ini tidak aneh karena ia putra Arimbi yang aslinya raksesi. Gatotkaca juga cucu mendiang Prabu Tremboko, raja Pringgondani yang berwujud raksasa. 

Uaknya, Arimba, dan semua pamannya juga golongan diyu (raksasa). Setelah melenyapkan Sakipu, Gatotkaca yang bisa terbang bak secepat kilat masih harus melawan Pracona. Kali ini, ia menghabisi lawan tidak dengan cara menggigit, tetapi memuntir kepalanya hingga lepas dari badan.

Matinya Pracona dan Sakipu menjadikan Kahyangan pulih kembali. Namun, para dewa harus mengeluarkan dana ekstra dan tenaga untuk membangun kembali fasilitas publik dan bangunan lain yang dihancurkan dua satru tersebut.

Ibarat peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, anak Pracona yang bernama Niwatakawaca di lain waktu juga menjadi demonstran anarkistis. Persoalannya juga sama. Ia mengamuk di Kahyangan karena keinginannya mempersunting Bathari Supraba ditolak mentahmentah oleh dewa.

Lagi-lagi, atas perintah Bathara Guru, Narada kembali mengejawantah ke marcapada mencari bantuan. Kali ini yang dimintai jasanya ialah panengah Pandawa, Arjuna, yang saat itu sedang laku tapa brata di Gunung Indrakila.

Tidak mudah mengalahkan Niwatakawaca. Raksasa ini tidak bisa mati bila noktah hitam di langit-langit mulutnya tidak terkena pusaka. Rahasia ini terkuak setelah Supraba berpura pura bersedia menjadi istrinya dengan syarat dikasih tahu kunci di balik kesaktiannya.

Berbekal info itu, Supraba memberi tahu Arjuna. Kesatria Madukara ini lalu melepaskan panah Pasopati tepat mengenai sasaran saat Niwatakawaca tertawa terbahak-bahak merasa keinginannya terkabul. Kahyangan pun kembali tenang.


Berwatak kesatria

Hikmah kisah singkat ini adalah Kala Pracona dan Sakipu serta Niwatakawaca merupakan contoh demonstran anarkistis, tidak beradab. Mereka memaksakan kehendak dengan amarah dan otot, dan justru kerena itulah mereka sirna.

Konteks dengan peristiwa belum lama ini, mestinya sudah cukup waktu bagi kita matang berdemokrasi, terutama dalam berunjuk rasa. Apalagi jati diri kita adalah bangsa yang berwatak kesatria, bukan bermental begundal. (M-2)


 

Baca Juga

Unsplash/ Markus Spiske

Musisi Dunia Serukan Peningkatan Tarif Royalti di Spotify

👤Fathurrozak 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 17:10 WIB
Musisi menuntut pembayaran sesuai jumlah streaming, bukan proporsi prorata streaming...
123RF

Ternyata Ada Hubungan antara Fobia Matematika dan Kepercayaan Diri

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 15:35 WIB
Selalu cemas, jantung berdegup, atau bahkan keringat dingin saat belajar...
Dok. Instagram @ideosource

Losmen Bu Broto Kembali ke Layar Lebar

👤Fathurrozak 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 15:15 WIB
Maudy Koesnaedi akan memerankan sosok Bu Broto versi layar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya