Sabtu 17 Oktober 2020, 17:28 WIB

​​​​​​​Indonesia Punya Modal Kuat dalam Moderasi Beragama

Indriyani Astuti | Humaniora
​​​​​​​Indonesia Punya Modal Kuat dalam Moderasi Beragama

Antara/Aprillio Akbar
Sejumlah umat Muslim menuju Masjid Istiqlal seusai memarkir kendaraan di halaman Gereja Katedral.

 

MANTAN Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai konflik antarumat beragama di Maluku memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Dia pun mengajak umat beragama untuk kembali pada inti pokok ajaran agama itu sendiri. Menurutnya, agama hadir untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

"Setiap umat beragama yang sampai pada esensi ini, dengan perbedaan sekeras dan setajam apapun, tidak bisa dijadikan alasan untuk saling berkonflik," ujar Lukman dalam diskusi virtual, Sabtu (17/10).

Baca juga: Moderasi Beragama Cegah Arus Intoleransi dan Radikalisasi

Menyikapi keragaman agama bukan berarti harus menyeragamkan. Oleh karena itu, Lukman mengajak seluruh pemeluk agama, terutama Islam, untuk tidak berpretensi apalagi terobsesi menyamakan semua umat. Menurutnya, perbedaan pandangan adalah hal wajar dan harus dihormati.

"Orang memakai celana cingkrang, atau menggunakan cadar, itu hak mereka. Hal yang harus diwaspadai adalah ketika sebuah keyakinan kemudian dimonopoli menjadi suatu kebenaran. Lalu, menyalahkan pihak yang berbeda dengan yang diyakininya," pungkasnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan Universitas IAIN Metro Lampung Suhairi menyoroti peluang dan tantangan moderasi bergama. Dia berpendapat modal moderasi beragama di tingkat lokal dan nasional hampir sama.

Baca juga: Wapres: Kerukunan Antar Umat Beragama Pondasi Kerukunan Nasional

Bangsa Indonesia dikatakannya  memiliki modal dasar dalam menjalankan moderasi beragama. Seperti, komitmen kebangsaaan yang menjadi konsensus dasar negara.

Kemudian, sikap toleransi yang mudah diterapkan dan sudah menjadi karakter bangsa Indonesia. Sehingga, mudah diterapkan dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal. "Kita memiliki nilai luhur, seperti gotong-royong, santun, ramah dan toleran," tutur Suhairi.

Menurutnya, sikap moderat sudah menjadi karakter dari cara pandang dan perilaku bangsa Indonesia. Namun, moderasi beragama menemukan tantangan di tengah perkembangan era digitalisasi.(OL-11)

Baca Juga

Dok Book My Show

Bersepeda Sembari Beramal di Bike for Hope

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 06:21 WIB
Tujuan utama dari acara Bike for Hope adalah donasi untuk pekerja seni yang terkena dampak...
MI/Adam Dwi

Suryopratomo Mimpi Jadi Pemain Sepak Bola

👤Suryani Wandari Putri 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 04:40 WIB
WARTAWAN senior Suryopratomo, 59, tak pernah sekalipun memimpikan menjadi Duta Besar...
Medcom.id/ Roni Kurniawan

Manfaatkan Puskesmas dalam Upaya Pengendalian Penularan

👤Van/Ant/AFP/X-7 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 04:21 WIB
Pemerintah pusat berencana melakukan vaksinasi pada 9,1 juta warga pada November hingga Desember 2020. Pemerintah Provinsi Jawa Barat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya