Sabtu 17 Oktober 2020, 12:35 WIB

SKK Migas dan KKKS Kembangkan Agroforestry di Papua

Martinus Solo | Nusantara
SKK Migas dan KKKS Kembangkan Agroforestry di Papua

Dok: SKK Migas
SKK migas di LNG Tangguh

 

SATUAN Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mencanangkan pengembangan potensi wanatani atau agroforestry untuk mendukung kelestarian ekologi dan ketahanan pangan, Sabtu(17/10). Hal ini sekaligus sebagai rangkaian acara peringatan Hari Pangan Sedunia.

Kegiatan yang dilaksanakan secara serentak di wilayah Papua dan Maluku, melibatkan pelajar dan masyarakat di daerah penghasil migas ini.

KKKS yang terlibat dalam kegiatan ini yakni BP Indonesia, Genting Oil Kasuri Pte. Ltd., Petrogas Basin Ltd., Petrogas Island Ltd., Pertamina EP Asset 4 Papua Field.

Rangkaian perayaan Hari Pangan Sedunia oleh industri hulu migas di wilayah Papua Barat ini juga sebagai bentuk dukungan keberlanjutan ketahanan pangan sedunia. Kegiatan ini dilakukan dengan melaksanakan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) bidang Lingkungan yang berfokus di Kabupaten Sorong.

Bertempat di Kelurahan Malasom Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, kegiatan pencanangan dan penyuluhan pembibitan tanaman pangan buah produktif dan tanaman penghijauan juga dihadiri oleh Kepala Bidang Teknis BKSDA Papua Barat Tasliman, Lurah Malasom Distrik Aimas, Akmadi dan Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Kab.Sorong, Jarmi.

Baca juga: SKK Migas dan Kontraktor Targetkan 1 Juta Barel Minyak per Hari

Dengan tetap menjalankan protokol kesehatan pencegahan penyebaran covid-19, kegiatan penyuluhan dalam rencana mengembangkan ketahanan pangan lokal melakukan pembibitan bakal tanaman Agroforestry bersama LSM Kasuari sebagai koordinator pelaksana penyuluhan di lapangan.

"Kegiatan PPM bidang Lingkungan merupakan bentuk kepedulian industri hulu migas kepada pelestarian lingkungan, nantinya tidak akan berhenti pada kegiatan pencanangan ini, namun hingga akhir tahun akan terus dilakukan upaya penyemaian hingga mencapai 10.000 bibit tanaman yang terdiri dari bibit Pala, Matoa, Durian, Langsat, Rambutan, Mangga, Sengon, Suren dan Agatis hasil fasilitasi SKK Migas-KKKS serta pihak ketiga industri hulu migas wilayah Papua Barat," ungkap Kepala Departemen Humas Perwakilan SKK Migas wilayah Papua dan Maluku, Galih Agusetiawan.

Galih juga menegaskan penyemaian tanaman agroforesty adalah untuk menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di masa depan. Konsep proses benih hingga menjadi bibit (penyemaian) dan nantinya dilanjutkan pada proses penanaman, sangat serupa dengan siklus konsep kegiatan eksplorasi migas. Karena keberhasilan proses eksplorasi/penyemaian yang dilakukan secara baik, akan diterima manfaatnya oleh generasi masa depan.

"Maka saat ini upaya tersebut harus terus dilakukan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik," tuturnya.

Sementara itu, Nur Cahyo selaku Koordinator program pelaksana penyuluh lapangan pengembangan agroforestry dari LSM Kasuari sangat berharap program ini dapat dimanfaatkan pengelolaan bersamanya sesuai pola kebudayaan masyarakat setempat, serta mengajak pelajar pelajar yang ada di lokasi penyemaian dapat mengetahui teknik-teknik penyemaian tanaman. Pun, ikut memelihara sehingga bisa menjadi bagian dari proses pemeliharaan pertumbuhan dan dapat bertanggung jawab sebagai penerima manfaat secara ekonomi di kemudian hari.

"Kami tidak hanya bertutur dalam melakukan penyuluhan, tapi kami aktif untuk membina masyarakat terhadap pentingnya memulai proses penyemaian bibit bibit tanaman argoforestry dengan melakukan kampanye melalui media flyer, banner, spanduk yang berisi materi penyuluhan, agar secara terus menerus dapat membudaya dalam perilaku pelajar dan masyarakat," ungkap Nur.(OL-5)

Baca Juga

 ANTARA FOTO/Arnas Padda

Kasus Covid-19 di Sulsel Mulai Tinggalkan Zona Merah

👤Lina Herlina 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 11:35 WIB
Kasus covid-19 di Sulawesi Selatan memang mulai membaik, karena telah meninggalkan zona merah  namun warga harus tetap mematuhi...
MI/Kristiadi

Tiga Alat Deteksi Dini Longsor Rusak, Warga Harus Siaga

👤Akhmad Safuan 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 11:12 WIB
Ada tiga alat peringatan dini untuk tanah bergerak dalam keadaan rusak, maka saat hujan datang diharapkan warga tinggal di perbukitan di...
MI/Denny Susanto

Bambu Produk HHBK yang Menjanjikan

👤Denny Susanto 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 10:31 WIB
Dinas Kehutanan Kalsel telah mengembangkan sekitar 16 jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti berbagai jenis madu, olahan bambu (tusuk...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya