Sabtu 17 Oktober 2020, 10:20 WIB

Ini Saran Dokter Hewan di Nagekeo untuk Cegah Virus ASF

Ignas Kunda | Nusantara
Ini Saran Dokter Hewan di Nagekeo untuk Cegah Virus ASF

MI/Ignas Kunda
Peternak memberi makan babi peliharannya

 

VIRUS ASF (African Swine Fever) atau Demam Babi Afrika diketahui sudah masuk ke Nagekeo, NTT, melalui daging babi. Namun, belum ada vaksin di Indonesia yang bisa mengatasi virus tersebut. Apalagi, kesadaran masyarakat masih rendah untuk proaktif menangkal virus ini, sehingga dapat memperparah penyebaran virus ASF dan memperburuk atau merugikan ekonomi rumah tangga setiap keluarga.

Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Nagekeo drh. Fransiskus X.P.G Bethana, Sabtu (17/10).

Fransiskus menganjurkan pemilik ternak babi harus memiliki kandang yang baik agar babi tidak mudah keluar atau hewan lain seperti anjing tidak mudah masuk dan berhubungan dengan babi. Selain itu, beri pembatasan aktivitas manusia yang hendak ke kandang babi, cukup pemberi makan saja yang masuk ke kandang.

“Kalau ada orang yang mau beli babi cukup satu orang yang masuk ke kandang karena dikhawatirkan dia baru pindah dari kandang lain yang terdapat virus ASF,” kata dokter hewan itu.

Menurut Frans, bio security kandang adalah hal penting. Setiap kandang harus mempunyai satu sepatu boot untuk masuk ke kandang. Pada pintu masuk disiapkan air pencuci yang bercampur disinfektan, agar setiap orang masuk dan keluar kandang mencuci tangan serta perlengkapan yang dikenakan.

Baca juga:  Diserang Virus ASF, Ratusan Ekor Babi di NTT Mati

Selain itu, memberikan makan yang baik dan bergizi juga menjadi salah satu cara ampuh menahan serangan virus ASF. Makanan dengan kandungan karbohidrat, protein, hingga vitamin diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuh babi.

“Sehebat dan sebaik apapun kita buat kandang kalau kasih makan hanya batang pisang dan dedak, ya sama saja," imbuhnya.

Frans mengimbau masyrakat tidak memberikan makanan yang mengandung limbah atau olahan babi seperti daging babi sisa, sup babi sisa karena berisiko daging yang dimakan manusia sudah tertular ASF.

“Daging Se’i atu roti babi bisa tetap mengandung ASF kalau menggunakan babi yang sudah terjangkit. Karena itu, air cucian daging babi dengan yang lainnya jangan kasih ke babi lagi,” ungkapnya.

Menurut data Dinas Peternakan Nagekeo, sejak April hingga Oktober telah terjadi kematian 434 ekor babi di Kecamatan Aesesa dan Boawae, empat ekor di antaranya positif ASF.

Fransikus menganjurkan setiap kecamatan menjaga dirinya masing masing, agar babi dari kecamatan lain yang sudah terserang tidak masuk. Masyarakat perlu melapor bila ada kasus kematian babi serta gejala penyakit ASF seperti demam diatas 40 derajat Celsius, muntah diare, bintik merah dibelakang telinga atau bawah perut.

“Kalau sudah ada babi yang mati di walayah itu karena ASF maka bisa dipastikan 100% akan ada babi mati lagi di sekitar wilayah itu. Warga harus lapor biar babinya aman,” pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

ANTARA

Kawasan Wisata di DIY Diingatkan Jalankan Prokes

👤Agus Utantoro 🕔Senin 26 Oktober 2020, 20:41 WIB
Stakeholder pariwisata diharuskan memastikan penerapan protokol kesehatan (prokes) secara konsisten khususnya pada industri pariwisata,...
MI/Nurul Hidayah

Demi Libur Panjang, PSBT di Kota Cirebon Dicabut

👤Nurul Hidayah 🕔Senin 26 Oktober 2020, 20:05 WIB
JELANG libur panjang di akhir bulan, Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon cabut aturan pembatasan sosial berskala terbatas (PSBT), sebab libur...
MI/Heri Susetyo

Polri-TNI AL Perkuat Sinergitas Jaga Kamtibmas Jatim

👤Heri Susetyo 🕔Senin 26 Oktober 2020, 19:43 WIB
Sinergitas dua instansi ini terbukti mampu menciptakan situasi kamtibmas kondusif di Jatim pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya