Sabtu 17 Oktober 2020, 05:05 WIB

Tuah Kail di Desa Wisata yang Terpuruk

(Liliek Dharmawan/N-2) | Nusantara
Tuah Kail di Desa Wisata yang Terpuruk

MI/LILIEK DHARMAWAN
PERTASHOP: Penjual melayani konsumen Pertashop di Desa Karangsalam, Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, pekan lalu.

 

BERILAH pancing, bukan ikan. Pepatah Tiongkok kuno itu sangat bisa diterapkan di masa pandemi.

Sama seperti ribuan desa lain di Indonesia, Desa Karangsalam di Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, juga terdampak wabah.

Namun, berbeda dengan wilayah lain. Di Karangsalam, bukan bantuan sembako atau uang yang datang. Bantuan digulirkan Pertamina. Bentuknya pengoperasian stasiun pengisian bahan bakar Pertashop.

Untuk tahap awal, Pertamina hanya menyewa lahan bengkok sejak Juni lalu. Dengan cara itu, setiap bulannya kas pemerintah desa tetap terisi sebesar Rp1 juta per bulan.

"Ke depan, sudah ada kesepakatan, pengelolaan Pertashop akan diserahkan kepada badan usaha milik desa. Ketika itu datang, kami bisa mengembangkannya dengan membuat warung di sekitar Pertashop sehingga usaha BUM-Des bisa lebih berkembang dan ikut mendorong perekonomian warga," kata Kepala Desa Karangsalam, Daryono.

Sales Branch Manager Pertamina Banyumas-Cilacap Adeka Sangtraga menyatakan, selain memudahkan warga mendapat BBM, kehadiran Pertashop juga diharapkan bisa menggeliatkan perekonomian masyarakat. "Kami bekerja sama dengan BUM-Des sehingga desa bisa mendapat dampak positif."

Tidak hanya di Karangsalam. Pada masa pandemi, Pertashop juga dibangun di tiga titik lain di Banyumas. "Di Karangsalam, perkembangannya paling cepat," aku Adeka.

Ketika pagebluk belum datang, Karangsalam tercatat sebagai salah satu desa yang paling ceria di Banyumas. Setiap akhir pekan atau hari libur, kunjungan wisata ke desa ini berlimpah.

Karangsalam memiliki tiga destinasi wisata, yakni Camp Area Umbul Bengkok, air terjun Curug Telu, dan Taman Bambu. Warga pun melengkapinya dengan suguhan kuliner khas desa.

"Sebulan, jumlah pengunjung bisa mencapai 5.000-6.000 orang. Selama 2019, pengelola wisata menyetor Rp43 juta ke kas desa," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata Karangsalam, Slamet Setiawan.

Namun, pandemi merontokkan semua. Setelah sejak April ditutup, objek wisata di Karangsalam dibuka lagi Agustus. Selama Agustus, hanya ada 1.900 pengunjung. Bulan ini, satu pekan, kurang dari 300 yang datang.

Beruntung, Pertashop dibuka sehingga kas desa yang digunakan untuk membangun Karangsalam bisa terisi. Siapa mau memberi pancing lagi?

(Liliek Dharmawan/N-2)

Baca Juga

MI/Kristiadi

Tiga Alat Deteksi Dini Longsor Rusak, Warga Harus Siaga

👤Akhmad Safuan 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 11:12 WIB
Ada tiga alat peringatan dini untuk tanah bergerak dalam keadaan rusak, maka saat hujan datang diharapkan warga tinggal di perbukitan di...
MI/Denny Susanto

Bambu Produk HHBK yang Menjanjikan

👤Denny Susanto 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 10:31 WIB
Dinas Kehutanan Kalsel telah mengembangkan sekitar 16 jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti berbagai jenis madu, olahan bambu (tusuk...
MI/Benny Bastiandy

Kunjungan Wisatawan ke Pantai Palabuhanratu Relatif Sepi

👤Benny Bastiandy 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 10:23 WIB
Kawasan objek wisata pantai di selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat cenderung masih sepi dari kunjungan wisatawan karena adanya gelombang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya