Sabtu 17 Oktober 2020, 03:40 WIB

Ketika Guru Bertemu Murid yang Hebat

Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo | Sepak Bola
Ketika Guru Bertemu Murid yang Hebat

MI/Seno
Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo

 

KETIKA gantung sepatu dan pensiun dari Arsenal pada 2016, ada tiga pilihan yang dimiliki Mikel Arteta. Pertama, ia membantu Arsene Wenger untuk menangani Arsenal Academy. Kedua, membantu rekannya ketika sama-sama bermain di Paris Saint Germain, Mauricio Pochettino, sebagai asisten pelatih. Ketiga, ia menjadi asisten seniornya di Barcelona, Josep Guardiola, untuk menangani Manchester City.

Pada 3 Juli 2016, Arteta memutuskan untuk mendampingi Guardiola. Ia tidak pernah lupa kata-kata Guardiola empat tahun sebelumnya bahwa ia akan menjadikan Arteta sebagai pelatih yang hebat ketika kelak sudah berhenti sebagai pemain.

Tiga tahun mendampingi Guardiola membuat Arteta banyak belajar. Guardiola memang merupakan seorang guru yang baik. Seperti halnya Guardiola, Arteta merupakan seorang pemikir yang tajam dan juga seorang penata strategi yang andal.

Arteta bukan orang yang suka mengekor. Ia tampil sebagai pribadinya sendiri. Di usianya yang masih 38 tahun, Arteta sudah menemukan sosoknya sendiri. Ia mampu dengan cepat membangun Arsenal sesuai karakter yang ia inginkan.

“Saya menginginkan semua memikul tanggung jawabnya. Saya menginginkan semua yang berkecimpung dalam sepak bola harus menunjukkan gairah dan energi untuk olahraga ini. Kalau tidak bisa memberikan itu apalagi malah memberikan efek negatif, berarti dia tidak cocok dengan kultur yang diperlukan,” kata Arteta.

Tidak usah heran apabila Arteta tidak mau memberikan tempat kepada pemain bintang yang tidak menunjukkan sikap, gairah, dan semangat juang bagi tim. Bintang Piala Dunia 2014 Jerman, Mesut Oezil, tanpa ampun ia bangku cadangkan.

Apalagi, ia kini bukan hanya menjadi pelatih bagi Arsenal. Arteta resmi ditunjuk sebagai manajer tim hingga 2023. Ia dibantu oleh bekas rekan satu timnya, Edu, yang kini ditunjuk sebagai Direktur Olahraga Arsenal.

Melawan guru

Malam ini, Arteta membawa skuadnya ke Stadion Etihad untuk menghadapi Manchester City. Ia kembali harus berhadapan dengan gurunya, Guardiola.

Memang tidak lagi ada rasa sungkan bagi Arteta untuk menghadapi Guardiola. Di semifinal Piala FA musim lalu, Arteta membungkam tim asuhan Guardiola 2-1. Tidak hanya sampai di situ, Arteta mempersembahkan Piala FA dalam debutnya sebagai pelatih. Ia pun menyejajarkan diri dengan legenda Arsenal, George Graham, yang langsung mengangkat piala dalam kiprah pertamanya sebagai pelatih.

Arteta kini semakin percaya diri karena ia mendapatkan pemain asal Ghana, Thomas Partey, dari Atletico Madrid. Partey akan berpasangan
dengan Dani Ceballos atau Granit Xhaka sebagai gelandang tengah.

Pola 3-4-3 akan semakin efektif dijalankan apabila pemain asal Skotlandia, Kieran Tierney, boleh bermain. Tierney diminta untuk menjalankan isolasi mandiri karena saat membela negaranya, melakukan kontak erat dengan rekannya, Stuart Amstrong, yang positif terkena covid-19. Meski hasil tesnya negatif, Tierney tetap diharuskan menjalani isolasi mandiri.

Kehadiran Tierney akan se- makin memperkukuh pertahanan Arsenal yang mempunyai dua center-back asal Brasil, Gabriel dan David Luiz. Kiper Bernd Leno akan semakin tenang apabila didampingi tiga pemain belakang yang solid.

Di barisan depan, pemain asal Chelsea, Willian, semakin padu dengan rekan-rekannya untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan. Bersama Pierre Emerick Aubameyang, ia mampu menggoyahkan pertahanan lawan dengan serangan dari sayap.

Keterampilan untuk memanfaatkan lebar lapangan memudahkan ujung tombak, baik Eddie Nketiah maupun Alexandre Lacazette untuk mendapatkan ruang kosong di jantung pertahanan lawan. Itu yang membuat Arsenal bisa mencuri gol.

Apalagi, Arsenal masih memiliki Bukayo Saka yang bisa menyerang dari lini kedua. Lapangan tengah the Gunners lebih solid karena ada Hector Bellerin yang bisa menjaga keseimbangan untuk membantu rekannya apabila sedang menghadapi tekanan.

Tanpa striker

Guardiola masih dipusingkan dua striker andalan yang masih dibalut cedera. Baik Sergio Aguero maupun Gabriel Jesus dipastikan belum bisa turun malam ini.

Akibatnya, City kembali harus menempatkan seorang false nine. Pilihan Guardiola untuk peran itu masih belum firm karena kadang ia memercayakan kepada Raheem Sterling, tetapi bisa juga diberikan kepada Riyad Mahrez.

Guardiola sangat berharap Kevin de Bruyne bisa benar-benar fit untuk memainkan peran sebagai playmaker. Gelandang asal Belgia itu memang menjadi nyawa bagi City, apalagi setelah ditinggal David Silva.

Pemain muda Phil Foden dan Rodrigo Hernandez menjadi pilihan untuk mendampingi De Bruyne memenangi pertarungan di lapangan tengah. Guardiola tidak boleh lagi bereksperimen di lapangan tengah karena bisa menelan pil pahit ketika dihajar Leicester City 2-5 di Etihad.

Duet Aymeric Laporte dan Ruben Dias menjadi tumpuan untuk mencegah City untuk tidak mudah kebobolan. Guardiola belum bisa membangun pertahanan yang kukuh sehingga tim asuhannya banyak kehilangan poin di awal musim kompetisi ini.

Bek kiri Benjamin Mendy dan bek kanan Kyle Walker harus penuh perhitungan dan tidak membuat kesalahan tidak perlu di kotak penalti. City tidak boleh lagi kehilangan poin apabila ingin kembali mengangkat piala.

Kiper terbaik yang dimiliki City tinggal Ederson Moraes, setelah Claudio Bravo yang pindah ke Real Betis. Namun, kiper asal Brasil itu sering menjadi titik lemah karena kecerobohan yang sering ia lakukan. City lebih banyak kebobolan gawangnya daripada bisa mencetak gol.

Pembenahan barisan depan menjadi krusial karena itulah satu-satunya kunci untuk bisa meraih angka penuh nanti malam. Apabila Bernando Silva bisa turun bermain, harapan untuk lebih menekan lawan semakin kuat. Atau setidaknya Guardiola bisa berharap kepada pemain asal Jerman, Ilkay Guendongan, agar bisa mendorong Foden membantu penyerangan.

Pertarungan malam ini mempunyai dua beban bagi Guardiola. Ia tidak boleh kalah lagi apabila tidak i ngin dipecat sebagai pelatih. Pemilik City sudah mulai melirik mantan pelatih Tottenham Hotspur Pochettino untuk mengambil alih posisi Guardiola.

Kedua, kekalahan dari Arsenal malam ini tidak hanya semakin membenamkan posisi City, tetapi juga Guardiola kembali dipecundangi anak asuhnya. Meski pepatah mengatakan, guru yang bermutu itu akan melahirkan ribuan murid yang hebat.

Baca Juga

AFP

Ozil Tersingkir dari Arsenal Akibat Ulahnya Sendiri

👤Widhoroso 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 23:43 WIB
Ozil merupakan pemain dengan gaji terbesar di Arsenal yang mencapai 350 ribu pound per...
AFP

Presiden FIFA Gianni Infantino Positif Covid-19

👤Widhoroso 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 23:32 WIB
Penampilan publik terakhir Infantino adalah di FIFA's Compliance Summit yang berakhir pada 16 Oktober lalu. Acara itu sendiri digelar...
DOK PSSI

Setelah Kroasia, Timnas U-19 Diupayakan Berlatih di Belanda

👤Akmal Fauzi 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 22:55 WIB
PSSI dan timnas punya harapan tinggi agar bisa berlatih ke Negeri Kincir Angin...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya