Sabtu 17 Oktober 2020, 01:35 WIB

Ngengat untuk Pengendalian Hama

MI | Humaniora
Ngengat untuk Pengendalian Hama

Sumber: Bugguide/Thoughtco/Tim Riset MI-NRC

 

BERBEDA dengan anggapan umum, tidak semua ngengat merupakan hama. Contohnya, kelompok ngengat Larvae geometridae yang dikenal sebagai perampas daun atau defoliator tumbuhan hutan tidak dikategorikan sebagai hama. 

Bahkan, kelompok ini mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga kesehatan vegetasi hutan. Ngengat justru memiliki peran penting, antara lain sebagai penyerbuk, penghasil benang sutra, bioindikator, dan sumber protein. 

Di sisi lain, potensi keragaman ngengat yang tinggi di Indonesia tidak diimbangi dengan data dan informasi yang lengkap. Padahal, Indonesia memiliki keanekaragaman ngengat yang tinggi. Diperkirakan terdapat lebih dari 12 ribu jenis  atau lebih dari 5% dari total jenis Lepidoptera di dunia.

“Data dan informasi biologi ngengat masih sangat sedikit. Informasi yang relatif lengkap hanya pada jenis-jenis ngengat hama pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Informasi biologi hanya dapat diungkap dengan penguasaan pengetahuan sistematika,” kata peneliti bidang zoologi, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Sutrisno dalam orasi pengukuhan sebagai Profesor Riset LIPI di Bogor, pekan lalu.

Hari menjelaskan, pengetahuan sistematika yang kuat terbukti mampu mengungkap keanekaragaman dan komposisi jenis ngengat dalam ekosistem tertentu, bahkan dapat menilai ekosistem mengalami gangguan akibat kegiatan manusia.

“Kita dapat memprediksi kemungkinan terjadinya ledakan populasi hama jenis tertentu di suatu kawasan dan mengungkap jenis hama ngengat baru maupun catatan hama baru. Informasi sistematika ini akan meningkatkan keefektifan pengendalian hama terpadu karena kesuksesan pengendalian hama sangat tergantung dari penguasaan sistematika hama,” tuturnya.

Prioritas pengembangan penelitian ngengat ke depan lebih diarahkan pada pengungkapan jenis-jenis ngengat yang ada di kawasan bagian timur Indonesia. Selain pengembangan database genomik, integrasi sistem digital, sistem kendali, dan sistem informasi memiliki peran penting untuk pemecahan persoalan ngengat di masa yang akan datang.

“Penerapan artificial intelligence atau barcoder dan biosensor mulai banyak diaplikasikan untuk mengungkapkan identitas sebuah jenis hama dan monitoring keberadaannya. Perlu sinergi antara ahli biosistematika, bioinformatika, dan ahli sistem kendali untuk menghasilkan alat ini,” jelasnya.

Hari menuturkan, ngengat sebagai bioindikator lingkungan dapat berfungsi sebagai bagian dari early warning system yang dapat mencegah kerusakan ekosistem dan ledakan hama di sebuah kawasan. (Atikah Ishmah/H-3)

Baca Juga

Antara

Jadi Prioritas, Riset Nuklir untuk Diagnosis dan Pengobatan Kanker

👤Aiw/H-2 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:25 WIB
Selama ini, Indonesia mengimpor lebih dari 90% produk radioisotop dan...
Ist

40 Mahasiswa Raih Penuh Program Beasiswa 8 Miliar Algoritma 2020

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:16 WIB
Program beasiswa pada tahun ini diberikan kepada 40 penerima beasiswa penuh serta 120 penerima beasiswa parsial yang memiliki background...
MI

Program Stunting Terancam Minim Hasil karena Ego Sektoral

👤Emir Chaerullah 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:00 WIB
ANGGARAN program pencegahan stunting Rp27,5 triliun yang tersebar di 23 kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terancam minim hasil...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya