Jumat 16 Oktober 2020, 15:10 WIB

Korona Dan Hari Guru Sedunia

Gerardus Kuma Apeutung, Guru SMPN 3 Wulanggitang, Hewa, Flores Timur, NTT | Opini
 Korona Dan Hari Guru Sedunia

Dok.pribadi
Gerardus Kuma Apeutung

SEJAK kemunculannya pada akhir 2019, hingga kini serangan virus korona belum bisa diatasi. Eskalasi penyebarannya bahkan semakin meluas. Nyaris tak ada negara yang luput dari ancaman virus ini. Jumlah korban pun terus meningkat. Dari hari ke hari, angka yang terinfeksi dan kematian akibat virus korona terus bertambah. Syukurlah, yang dinyatakan sembuh setelah terdiagnosa korona juga banyak.

Dari data yang dipaparkan Kementerian Kesehatan RI, setiap hari terjadi peningkatan kasus positif covid-19 di Tanah Air dan dunia. Dalam skala provinsi, Nusa Tenggara Timur (NTT) pun tak bisa menghindari kasus ini. Berdasarkan laporan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 NTT, Jumat (16/10/20) pukul 15.00 WITA, menembus angka 583 kasus. Di tingkat kabupaten, Flores Timur pun kembali lagi ke zona merah setelah sebelumnya masuk zona hijau.

Serangan korona benar-benar melumpuhkan semua sektor kehidupan, tidak terkecuali pendidikan yang tidak bisa dijalankan sebagaimana biasa. Pembelajaran tatap muka di sekolah terpaksa dihentikan guna mencegah penularan. Sebagai gantinya pembelajaran dijalankan dalam jarak jauh (PJJ).

Sejak awal munculnya korona, pemerintah memang berkomitmen untuk menghindari warga pendidikan dari infeksi virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, Tiongkok ini. Salah satunya ialah mencegah adanya kluster pendidikan dalam penyebarannya. Kesehatan dan keselamatan warga sekolah adalah prioritas utama. 

Untuk mendukung pembelajaran jarak jauh di masa pandemi, berbagai regulasi dikeluarkan pemerintah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beberapa kali harus merevisi aturan penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) agar pemanfaatannya bisa lebih fleksibel guna mengakomodir kebutuhan sekolah di tengah pandemi. Bantuan pun tidak kurang digelontorkan. Paket data untuk pembelajaran jarak jauh misalnya, diberikan secara gratis kepada siswa, guru, mahasiswa dan dosen dengan besaran kuota yang bervariasi.

Upaya pemerintah tersebut, sejauh ini memang mampu menekan angka penularan covid-19 di lingkungan sekolah dan mencegah terjadinya penyebaran korona dari kluster pendidikan. Namun hal tersebut tidak banyak membantu dan menyelesaikan masalah  dalam pembelajaran jarak jauh. Berbagai tantangan dan kendala masih dialami dalam praktik pembelajaran di lapangan. Wilayah nusantara yang sangat luas dengan kondisi geografis, sosial dan ekonomi yang berbeda-beda turut memengaruhi efektivitas pembelajaran jarak jauh di masa pandemi ini.

Kenyataan ini merefleksikan bahwa kita memang tidak siap menjalankan pendidikan dalam jarak jauh. Ketidaksiapan ini tidak hanya terkait infrastruktur pendukung, tetapi juga berkaitan dengan mental. Persoalan mental yang dimaksud berhubungan dengan tanggung jawab dalam proses pendidikan anak.

Refleksi akan tanggung jawab pendidikan didasarkan pada konsep trisentra pendidikan yang digagas Ki Hajar Dewantara. Menurut Bapak Pendidikan Nasional ini, pendidikan merupakan tanggung jawab tiga komponen yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam pendidikan. 

Alih-alih harmonisasi ketiga komponen utama pendidikan ini, yang terjadi adalah pelepasan tanggung jawab. Di satu sisi, pendidikan (anak) telah lama diserahkan ke sekolah. Orangtua dan masyarakat (mem)percaya(kan) sepenuhnya pendidikan anak pada sekolah. Ketika anak sudah sekolah, urusan pendidikan menjadi tugas guru. Sekolah di sisi lain juga begitu percaya diri dan merasa 'di atas angin.'

Ketika secara tiba-tiba pembelajaran di sekolah dihentikan dan anak harus kembali belajar dari rumah, semua menjadi gagap dan gugup. Tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Orang tua bingung bagaimana mendidik anak. Guru begitu cemas memikirkan siswa yang tidak bisa berbuat apa-apa karena terlalu lama dikekang. Masyarakat malah banyak yang bersikap apatis. Secara kultural, kita tidak siap untuk belajar secara mandiri di rumah. 

Dalam kondisi seperti ini, pendidikan harus terus berjalan dengan pendidikan jarak jauh sebagai alternatif pembelajaran di masa pandemi. Walau demikian, kita tidak bisa menihilkan urgensitas peran guru. Karena pendidikan tidak bisa berjalan tanpa guru. Untuk itulah guru tetap berkarya meski dalam situasi sulit sekarang ini. Banyak kisah perjuangan guru mengunjungi siswa dari desa ke desa, rumah ke rumah sekedar menyapa, memotivasi, dan atau memberi materi atau tugas bagi anak-anak. Ya, kehadiran guru sampai kapan pun tidak akan tergantikan oleh teknologi secanggih apapun. 

Refleksi World Teacher’s Day
Pada 5 Oktober lalu, dunia memperingati Hari Guru Sedunia (World Teacher’s Day). Dilansir dari instagram @kemdikbud.ri, Hari Guru Sedunia dideklarasikan UNESCO pada 5 Oktober 1994. WTD bertujuan memperingati diadopsinya rekomendasi ILO/ UNESCO pada 1966 mengenai status guru. Rekomendasi ini menetapkan hak dan tanggung jawab guru serta standar international untuk persiapan awal pendidikan, rekrutmen, pekerjaan dan kondisi belajar-mengajar.

Memaknai World Teacher’s Day ini, izinkan saya membagi pengalaman pendidikan jarak jauh yang dijalankan di sekolah kami, SMPN 3 Wulanggitang, Hewa, Flores Timur, NTT di masa pandemi. Pada awal tahun pelajaran 2020/2021, sekolah di wilayah Flores Timur sudah diizinkan melakukan pembelajaran tatap dengan sistem shif. Di SMPN 3 Wulanggitang, pembelajaran tatap muka dilakukan dua kali dalam seminggu untuk masing-masing tingkat. Pembagiannya adalah kelas 7 pada Senin-Kamis, kelas 8 Selasa-Jumat, dan kelas 9 Rabu-Sabtu.

Namun pada pertengahan September status Kabupaten Flores Timur berubah dari zona hijau ke zona merah. Sekretariat Daerah Kabupaten Flores Timur melalui Surat Nomor: PKO.420/520/PSD-SMP.1/20202 kembali melarang aktivitas pembelajaran di sekolah terhitung sejak 17 September sampai adanya pemberitahuan resmi dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Flores Timur.

Menindaklanjuti surat edaran tersebut, kami kembali merumahkan siswa dan menjalankan pembelajaran jarak jauh. Sebagai sekolah yang berada di desa, kami kesulitan menjalankan pembelajaran jarak jauh secara daring. Berbagai kendala seperti jaringan internet dan ketersediaan fasilitas seperti telepon seluler atau laptop menjadi kendala utama. 

Karena itu pembelajaran luring memang menjadi pilihan. Dalam prosesnya, kami (baca guru) harus mendatangi siswa di setiap desa; melakukan door to door. Karena siswa di sekolah kami tidak berada dari satu desa saja tetapi tersebar di beberapa desa di dua kecamatan (Wulanggitang dan Ile Bura). 

Dalam pembelajaran jarak jauh ini, siswa diberi bahan ajar oleh setiap guru mata pelajaran beserta latihan soal dan tugas untuk dikerjakan di rumah. Selain tugas per mata pelajaran, siswa juga diberi tugas secara umum yaitu setiap siswa wajib menanam tanaman umur panjang, membuat daftar kosa kata sulit dan atau kosa kata baru, dan menulis aktivitas harian mereka pada jurnal praktik baik sebagaimana format yang diberikan oleh sekolah selama masa belajar dari rumah.

Sabtu (5/10) saat peringatan Hari Guru Sedunia, guru-guru SMPN 3 Wulanggitang mengunjungi siswa di setiap desa. Para guru dibagi per wilayah berdasarkan jumlah siswa masing-masing desa. Saya bersama dua rekan guru mendapat tugas mengunjungi siswa di Pantai Oa. Di wilayah ini terdapat 30 siswa di mana kelas IX sebanyak 10 orang, kelas VIII sebanyak 17 dan kelas VII sebanyak 13 orang. 

Dalam kunjungan ini kami mendatangi siswa dari rumah ke rumah untuk melihat kondisi siswa di rumah. Apakah lingkungannya mendukung siswa dalam belajar atau tidak. Hal sederhana misalnya adalah ketersediaana meja dan kursi belajar bagi siswa. Juga mengecek tugas lain seperti tanaman umur panjang, dan daftar kosa kata asing atau sulit yang ditemukan siswa. Banyak yang sudah melaksanakan tugas tersebut, tetapi ada sebagian siswa yang belum menjalankannya.

Saya mengunjungi siswa kelas VIII. Di beberapa rumah, saya berkesempatan bertemu dan berdiskusi dengan orang tua siswa. Beberapa masukan atau lebih tepatnya keluhan tentang kondisi keluarga dan sikap anak menjadi catatan sebagai 'oleh-oleh' yang saya bawa pulang untuk bahan refleksi dalam menjalankan tugas sebagai guru di masa pandemi. 

Muara refleksi ini mengantar saya pada dua poin berikut; pertama, kehadiran guru dalam proses pendidikan adalah suatu keniscayaan. Dalam pembelajaran jarak jauh, figur guru tidak bisa digantikan oleh kehadiran teknologi pembelajaran tetapi malah mengokohkan peran guru. Teknologi hanya sebatas alat bila tidak dipandu atau dibantu oleh guru. 

Kedua, pembelajaran jarak jauh adalah momen untuk merajut kembali hubungan sekolah dan keluarga. Rumah dan sekolah yang 'berjarak' selama ini mesti didekatkan dengan komunikasi yang lebih intens baik itu lewat media komunikasi maupun kunjungan rumah. Semoga. 

Baca Juga

Dok MI

Meredam Dampak La Nina pada Produksi Pangan

👤 Guru Besar Universitas Lampung (Unila), Ekonom Senior Indef, Waketum Perhepi Bustanul Arifin 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 04:23 WIB
Puncak La Nina akan terjadi pada Desember 2020 karena bersamaan dengan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) dari Samudra Hindia....
Medcom.id

Siaga La Nina dan Multibencana Hidrometeorologi

👤Kepala BMKG Dwikorita Karnawati 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 04:04 WIB
Di fitur cuaca dalam aplikasi tersebut sudah tersedia informasi prakiraan cuaca selama 7 hari ke depan, dengan update setiap 3 jam sampai 6...
Dok. Pribadi

UN, AN/AKM dan Literasi Penilaian

👤Syamsir Alam Divisi Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma 🕔Senin 26 Oktober 2020, 03:05 WIB
DUNIA pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, minggu lalu dikejutkan rencana Kemendikbud untuk meluncurkan kembali penilaian...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya