Jumat 16 Oktober 2020, 09:20 WIB

Arkeolog Ungkap Tradisi Kuliner di Masa Prasejarah

Galih Agus Saputra | Weekend
Arkeolog Ungkap Tradisi Kuliner di Masa Prasejarah

Dani NADEL / Haifa University / AFP
Ilustrasi: salah satu situs purbakala era berburu dan meramu yang ditemukan di Israel

KELOMPOK manusia prasejarah yang hidup berburu dan meramu  di Eropa Utara atau wilayah Baltik rupanya sudah mengenal keragaman tradisi kuliner. Hal itu diungkap sekelompok arkeolog yang menganasilis pecahan tembikar dari masa antara 7500 hingga 6000 tahun silam (era prasejarah).

Tembikar itu diambil para arkeolog dari 500 bangkai kapal yang ditemukan di 61 situs arkeologi di seluruh wilayah Baltik. Dalam penelusuran itu mereka juga menemukan perbedaan yang cukup mencolok terkait preferensi makanan dan praktik kuliner di sejumlah kelompok.

Preferensi bahkan terlihat di daerah yang memiliki kesamaan ketersediaan sumber daya. Pada saat itu tembikar sudah digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti ikan laut, anjing laut, berang-berang, babi hutan, beruang, dan rusa, hingga kacang hazel, serta ikan air tawar.

Salah satu penulis makalah penelitian, Harry Robson menjelaskan penemuan ini cukup mengejutkan mengingat tembikar atau pot keramik kurang praktis atau tidak konsisten dengan gaya manusia berburu dan meramu yang hidupnya nomaden. Meski begitu, peneliti juga telah berhasil mengidentifikasi bukti lain yang sebelumnya tak pernah diduga yakni produk susu.

Dari penemuan itu, para arkeolog kemudian menduga manusia di era berburu dan meramu rupanya juga telah menjalin relasi dengan manusia yang hidup di jaman Mesolithikum Akhir atau yang mulai mengenal pertanian.

"Kehadiran lemak susu di beberapa kapal pemburu dan peramu adalah contoh tak terduga dari 'perpaduan budaya' kuliner. Penemuan ini memiliki implikasi bagi pemahaman kita tentang transisi dari gaya hidup pemburu dan peramu ke masa pertanian awal. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas ini mulai ditukar atau mungkin dijarah dari petani terdekat," tutur Peneliti dari Departemen Arkeologi, University of York, itu seperti dilansir dari Sciencedaily, Kamis, (15/10).

Dalam proses penelusurannya, peneliti dalam studi ini mengadopsi teknik molekuler dan isotop untuk menganalisis pecahan tembikar. Rekan Harry, Oliver Craig menjelaskan analisis kimiawi pada produk alami atau sisa makanan yang menempel pada tembikar ini telah merevolusi pemahaman terkait tradisi kuliner menjelang akhir era berburu-meramu dan masa awal pertanian.

"Hasilnya menunjukkan bahwa mereka rupanya juga memiliki kompleksitas pada masakan dan berbeda secara budaya," tutur Oliver.

Adapun analisis residu organik pada pola sub-regional terkait penggunaan tembikar oleh masyarakar pemburu dan peramu ini sebelumnya pernah diterbitkan di Royal Society Open Science.  Penelitian didanai oleh European Research Council yang dihibahkan melalui British Museum. (M-4)

Baca Juga

MI/Tiyok

Jon Bodo: Banjir

👤Tiyok 🕔Minggu 01 November 2020, 03:00 WIB
Udah berapa kali ganti Presiden dan Gubernur, ndak ada yang mampu ngatasin banjir Jakarta ya...
MI/Adam Dwi

Demi Memuaskan Lidah Indonesia

👤Fathurrozak 🕔Minggu 01 November 2020, 02:55 WIB
AYAM bisa dibilang salah satu bahan masakan paling umum di...
AFP/OSCAR DEL POZO

Pesan Korona dari Spanyol

👤Agung Sasto 🕔Minggu 01 November 2020, 02:50 WIB
MENYERAMKAN, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kesan dari foto ruang perawatan pasien covid-19 di salah satu rumah sakit di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya