Kamis 15 Oktober 2020, 17:20 WIB

Maksimalkan Pertumbuhan Balita di 1000 Hari Pertama Kehidupan

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Maksimalkan Pertumbuhan Balita di 1000 Hari Pertama Kehidupan

ANTARA/Maulana Surya
Anggota Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Solo menyiapkan bingkisan berisi telur saat sosialisasi kepada warga di Cinderejo, Jawa Tengah

 

SERIBU hari pertama kehidupan yang meliputi 270 hari di dalam kandungan dan 730 hari di luar kandungan merupakan masa yang sangat penting bagi pertumbuhan anak. Dosen Departemen Gizi Kesehatan FK UGM Emy Huriyati mengatakan, delapan minggu pertama merupakan pembentukan seluruh cikal bakal organ tubuh seperti jantung, hati, pakreas, ginjal, hingga otak dan dibutuhkan zat-zat penting untuk mendukung perkembangannya, termasuk protein. Perkembangan sebagian organ akan berlanjut sampai dua tahun pertama kehidupan.

“Ketika organ-organ itu tidak sempurna, terutama karena kekurangan protein, ini akan mempengaruhi struktur organ-organ tersebut dan yang paling fatal adalah otak. Ketika otak tidak mendapatkan nutrisi yang baik, ketika sudah lahir kemudian kita stimulasi, tidak akan sempurna otaknya,” kata Emy dalam acara webinar Rembuk Pangan Indonesia yang digelar Foodbank of Indonesia bersama Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Kamis (15/10).

Selain itu, pada 0-2 tahun merupakan puncak perkembangan fungsi melihat, mendengar, berbahasa, dan fungsi kognitif yang lebih tinggi. Emy menuturkan, apabila kebutuhan protein dan zat-zat penting lainnya tidak terpenuhi selama seribu hari pertama kehidupan, ampak jangka pendek yang akan dialami yakni perkembangan otak terganggu, pertumbuhan mengalami hambatan dan yang terakhir, dan program metabolism tubuh juga akan terganggu.

Sedangkan pada jangka panjangnya, akan membuat kemampuan kognitif dan pendidikan anak jadi terganggu, menimbulkan stunting, dan penyakit degenerative seperti hipertensi, diabetes, obesitas, hingga stroke.

“Inilah kunci yang paling penting kenapa pada usia-usia emas ini jangan sampai dibiarkan saja. Harus diupayakan semaksimal mungkin,” imbuhnya.

Berdasarkan data Riskesdas 2018, jumlah gizi kurang dan buruk pada balita di Indonesia mencapai 17,7&, jumlah anak yang sangat kurus dan kurus pada 2018 sebesar 10,2%. Proporsi status gizi sangat pendek dan pendek pada balita mencapai 30,8%. Emy menambahkan, berdasarkan studi yang dilakukanya di Yogyakarta pada 200 anak stunting dan 200 anak normal, ditemukan bahwa, beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya stunting yaitu pola asuh balita, pola makan balita, pengetahuan ibu, kesehatan ibu hamil, dan kurang konsumsi makanan beragam.

“Ada dua hal yang menyebabkan stunting, yaitu memang mereka kurang makan atau kelaparan dan mengalami lapar yang tersembunyi, itu yang dikatakan kurang zat gizi mineral dan vitamin,” tuturnya.

Laporan nutrisi global tahunan 2020 mengungkapkan, terdapat beberapa kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan keadilan karena sistem, baik sistem pangan maupun kesehatan. Sebanyak 1 dari 9 orang mengalami kelaparan dan 1 dari 3 orang mengalami kelebihan berat badan (obesitas).

“Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa kelompok yang rentan tidak mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana variasi makanan pada saat balita, kemudian tidak mendapat makanan yang solid dan pakan lunak, ini terjadi pada anak dari kelompok miskin di daerah pedesaan yang pendidikanya juga kurang. Maka marilah kita mencapai, ini harus kita lindungi harus kita berikan keadilan,” tandasnya.

Sementara itu, menurut penelitian FOI, ada sekitar 28% persen anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari. Sementara di beberapa tempat padat penduduk, angkanya bisa mencapai 40-50% bahkan lebih.

Untuk memperingati hari pangan 2020, FOI mengajak masyarakat untuk bergerak  memerdekakan balita dari kelaparan. Menurut founder FOI, Hendro Utomo kegiatan ini dilakukan sebagai upaya FOI memerangi kelaparan pada balita untuk mencapai impian Indonesia merdeka. Hendro berharap kampanye dan aksi ini dapat menginspirasi semua pihak untuk turut berkolaborasi sesuai dengan bidangnya masing-masing demi mendukung balita yang merupakan masa depan Indonesia. “Semoga kerjasama semua pihak dapat menghantarkan Indonesia mencapai impian merdeka 100%”, ujar Hendro. (Aiw/A-1)

Baca Juga

Ilustrasi

Ivermectin Bisa Jadi Alternatif Pengobatan Pasien Covid-19

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 02:10 WIB
Sejumlah negara Amerika Selatan juga telah menggunakan Ivermectin sebagai pengobatan dan tindakan...
Dok. Pribadi

Kowani : Sumpah Pemuda juga Momen Perjuangan Perempuan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 02:01 WIB
"Dua bulan setelah peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, para perempuan Indonesia menginisiasi pembentukan Perikatan...
Dok. Pribadi

Kemenpora : Potensi Pemuda Bangun Bangsa Harus Dioptimalkan

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 01:55 WIB
Zainuddin optimistis, pemuda Indonesia bisa mengembangkan potensi yang dimiliki untuk pembangunan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya