Kamis 15 Oktober 2020, 04:30 WIB

Pasien Covid-19 dengan Komorbid Jadi Perhatian Serius

(Ata/X-7) | Nusantara
Pasien Covid-19 dengan Komorbid Jadi Perhatian Serius

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Pemerintah akan menggunakan 'big data' BPJS Kesehatan terkait peserta Jaminan Kesehatan Nasional yang memiliki penyakit penyerta

 

PEMERINTAH dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menaruh perhatian serius dan khusus terhadap orang dengan penyakit penyerta (komorbid), di masa pandemi covid-19.

Sebabnya, pasien komorbid merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan terpapar virus. Penyandang penyakit tidak menular (PTM) yang terkonfirmasi covid-19 berpotensi besar mengalami perburukan klinis sehingga meningkatkan risiko kematian.

Berdasarkan data dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 per 13 Oktober 2020, dari total kasus yang terkonfirmasi positif covid-19, persentase terbanyak ialah penyakit hipertensi sebesar 50,5%, kemudian diikuti diabetes melitus 34,5%, dan penyakit jantung 19,6%.

Dari jumlah pasien covid-19 yang meninggal, yakni 12.027, sebanyak 1.488 di antaranya memiliki penyakit penyerta (komorbid). Sebanyak 13,2% dengan hipertensi, 11,6% menderita diabetes melitus, serta 7,7% penderita penyakit jantung.

Merespons hal tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian PTM Kemenkes, Cut Putri Arianie, mengatakan hipertensi merupakan penyakit katastropik yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko.

"Upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi harus dilakukan dengan melakukan deteksi sedini mungkin. Bagi orang berisiko, pengukuran tekanan darah dilakukan sebulan sekali. Sementara itu, bagi orang sehat, minimal sekali dalam 6 bulan sampai 1 tahun," ujarnya dalam keterangan resmi, kemarin.

Setelah itu, tambah Putri, ditindaklanjuti dengan rujukan ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sehingga permasalahan hipertensi dapat segera dicegah dan dikendalikan.

Hal senada disampaikan Erwinanto, anggota Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (Perhi). "Semakin tinggi umur Anda, semakin besar kemungkinan terkena hipertensi. Itulah kenapa diperlukan pengukuran tekanan darah secara berkala," terangnya.

Untuk itu, dalam rangka mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya promotif preventif, Kemenkes telah melakukan kegiatan monitoring dan skrining secara berkala dengan melibatkan peran serta masyarakat melalui Pos Binaan Terpadu (Posbindu).

Hingga kini, kata Putri lagi, dari 80 ribu desa tercatat 60 ribu desa telah memiliki Posbindu. Ke depan, ditargetkan setiap satu desa terdapat satu Posbindu. (Ata/X-7)

Baca Juga

Medcom/Amaluddin

Khofifah Dorong Upaya Peningkatan SDM Muslimat NU

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 18:08 WIB
Muslimat NU yang selalu menggaungkan toleransi, keseimbangan, dan keadilan tersebut, dinilai perlu melakukan revitalisasi yang mencakup...
dok.mi

Pasien Sembuh Covid-19 di NTT Tambah 33 Orang, Kasus Baru Nihil

👤Palce Amalo 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 17:30 WIB
PASIEN sembuh dari covid-19 di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah 33 orang, Kamis (29/10). Sebaliknya, tidak ada tambahan kasus...
Antara

Hasil Panen Bawang Merosot Harganya Jadi Meroket

👤John Lewar 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 17:20 WIB
TURUNNYA hasil panen produksi petani bawang merah, putih dan bawang Bombai di beberapa daerah yang menjadi kantong produksi, menyebabkan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya