Kamis 15 Oktober 2020, 00:10 WIB

Penjaga Mahkota Hutan Lereng Merapi

Furqon Ulya Himawan | Humaniora
Penjaga Mahkota Hutan Lereng Merapi

MI/Furqon Ulya Himawan
Musimin

 

SIANG itu langit tampak biru. Awan-awan tipis yang berlarian menutupi teriknya mentari membuat siang tak begitu panas.

Terlihat di depan halaman rumah, seorang lelaki paruh baya sedang menggulung tali ijuk berwarna hitam. Di depannya sudah tertata beberapa batang bunga anggrek (Orchidaceae), yang daunnya hijau dan panjang. Batang-batang itu terikat di potongan kayu jati yang berdiameter sekira 2 cm dan panjang 25 cm.

Musimin, 56, nama lelaki itu. Dia tinggal di lereng gunung berapi yang paling aktif di Pulau Jawa, Gunung Merapi. Tepatnya di sisi selatan Gunung Merapi, Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Siang itu, Senin (12/10), Musimin sudah bersiap memasuki hutan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) untuk membudidayakan tanaman anggrek di dalam hutan. “Tiada hari tanpa menanam, demi kelestarian alam,” katanya.

Musimin lalu memasukkan empat batang anggrek yang telah ditangkar, ke dalam wadah. Tali ijuk tak lupa dia bawa untuk mengikat anggrek ke inangnya di dalam hutan nanti. Sebelum masuk hutan, dia berpamitan kepada istrinya, Sarinah.

Musimin masuk hutan dengan hatihati. Setiap saat dia berhenti untuk mengecek beberapa tumbuhan. Dia tahu betul jenis-jenis bunga anggrek. Sesekali dia berhenti, lalu menuding semaksemak yang ada di bebatuan dan mengatakan ada bunga anggrek di baliknya.

“Itu anggreknya,” katanya sambil menujuk tanaman anggrek yang daunnya berwarna gelap, tetapi bercahaya jika terkena sinar matahari.

Sambil berjalan, lelaki itu menjelaskan, anggrek yang tadi dijumpai ialah Anoectochilus reinwardtii. Dia jenis anggrek yang bisa hidup di semak-semak yang mengandung humus. “Warga Turgo bisa menyebutnya anggrek kuping macan,” imbuhnya.

Setelah berjalan sekitar setengah jam, Musimin sampai di sebuah tempat. Dia menunjuk sekumpulan pohon puspa (Schima wallichii). Pohon-pohon itu diameternya antara 20 cm–50 cm. Merekalah yang menjadi inang bagi anggrek epifit, yakni anggrek yang hidup menempel pada batang, dahan, atau ranting pohon baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Musimin lalu mengeluarkan anggrek yang dibawanya dari rumah. Satu per satu dikeluarkannya. Anggrek yang dia bawa dari rumah ialah anggrek Vanda tricolor, jenis anggrek yang menjadi ikon Gunung Merapi dan warga Turgo menyebutnya anggrek pandan karena mirip dengan pohon pandan.

“Kalau di Boyolai sebelah timur beda lagi, mereka menyebutnya anggrek jalu karena daunnya seperti jalu ayam,” ujar Musimin.

Bapak dua anak itu, lalu naik ke pohon puspa menggunakan tangga. Dengan lihai, tangannya memegang pandan lalu mengikatnya ke batang puspa. Tak memakan waktu lama, empat anggrek pandan yang dia bawa dari rumah sudah terikat di beberapa pohon puspa.


Spesies anggrek

Selama keluar-masuk hutan, Musimin telah menemukan ada seratus lebih spesies anggrek. Semua dia budi dayakan di rumah penangkaran anggrek yang terletak di depan rumahnya. 

Di situ, ada sekitar 156 spesies anggrek dari berbagai daerah, seperti dari Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Tak hanya anggrek yang dari Jawa atau Gunung Merapi. “Kalau yang di Merapi, saya menemukan ada 110 spesies anggrek dan ada hampir 100 spesies yang saya tangkar di rumah penangkaran,” katanya.

Spesies itu, seperti Cymbidium bicolor, Eria hyacinthoides, Eria iridifolia, Pholidota ventricose, Rhynchostylis retusa, Schoenorchis juncifolia, Acriopsis liliifolia, Agrostophyllum stipulatum, Airides odoratus, Appendicula reflexa, Bulbophyllum flavescens, Coelogyne speciosa, Dendrobium mutabile, Dendrobium sagittatum, Dendrobium salaccense, Thrixpermum anceps, Thrixpermum purpurescens, dan Paphiopedilum javanicum.

“Dan masih banyak lagi, seperti Vanda tricolor yang menjadi ikon anggrek Merapi,” katanya.

Musimin meyebutkan satu per satu nama-nama spesies secara cermat. Meski dia hafal betul dengan nama-nama latin anggrek Merapi, menurutnya, masyarakat lokal punya sebutan sendiri untuk namanama setiap angrek.

Seperti anggrek merpati untuk Dendrobium mutabile, anggrek keris atau anggrek gergaji untuk Dendrobium sagittatum, anggrek kuping macan untuk Anoectochilus reinwardtii, anggrek sempritan untuk Arundina graminifolia, anggrek gurem untuk Eria retusa, dan masih banyak sebutan lainnya. Misalnya, anggrek kupu, anggrek jago, dan anggrek kunir.

Dari semua anggrek yang Musimin sebutkan, statusnya dilindungi dan keberadannya sangat langka, seperti Paphiopedilum javanicum. Warga Merapi menyebutnya anggrek lorek atau anggrek selop. 

“Jadi kita harus menjaga dan merawatnya,” ujar Musimin sambil tersenyum. 


Tangkar anggrek

Sebagai orang yang lahir di lereng Gunung Merapi, Musimin sudah mengenal habitat anggrek sejak kecil. Namun, dia hanya tahu nama lokal sesuai daerah masing-masing, bukan nama Latin-nya. “Setiap daerah sebutannya beda-beda,” kata Musimin.

Dia menceritakan, di era 1990-an, keberadaan anggrek masih banyak jenisnya. Orang-orang bisa mengambil dan menjualnya dengan mudah, tak banyak yang memedulikan keberadaannya. Namun, kondisi itu berubah setelah erupsi Merapi pada 1994 yang menghanguskan habitat asli anggrek-anggrek yang di lereng selatan bagian barat Gunung Merapi. 

Pun ditambah dengan kebakaran hutan di kawasan Turgo pada 2001. Saat itu itu, Musimin tebersit keinginan untuk melestarikannya karena banyak sekali habitat tumbuhan dan hewan baik yang kecil dan besar berkurang, terutama anggrek. Sebagai warga lereng Merapi yang sejak kecil melihat keanekaragaman anggrek, Musimin terpanggil untuk melestarikannya.

“Pada 1996, saya mulai mengembangbiakkan 7 spesies anggrek,” katanya dan bertekad untuk menjaga keberadaan anggrek agar tetap lestari dan tidak hilang dari hutan habitatnya.

Terhitung sejak 2003, Musimin sudah rajin menangkar anggrek di depan rumahnya. Lalu, anggrek-anggrek itu dia lepas ke habitatnya di hutan. Saat itu ada program dari pemerintah bernama Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Musimin mendapat bantuan Vanda tricolor atau anggrek panda sebanyak 50 batang untuk dikembangbiakkan.

Seiring berjalannya waktu, pascaerupsi Merapi 2010, Musimin berkenalan dengan peneliti yang melakukan riset soal anggrek. “Mas  Sulistiono,” katanya.

Selama 3 bulan Musimin ikut melakukan pendataan habitat anggrek di hutan Merapi. Dari Sulistiono, Musimin belajar banyak tentang anggrek. Mulai namanama ilmiahnya sampai cara pengembangbiakkan di habitatnya agar anggrek tetap lestari. 

“Alhamdulillah, berjalannya waktu, kami sduah menemukan 110 spesies anggrek,” katanya.

Sekarang, Musimin punya greenhouse di depan rumahnya untuk penangkaran anggrek. Di dalamnya, terdapat 156 spesies anggrek dari berbagai daerah, seperti dari Papua, Kalimantan, dan Sulawesi, jenis anggrek epifit dan teristrik.

Dari 110 spesies anggrek Merapi yang dia temukan, ada 100 spesies yang dia tangkar. “Kalau kita menyayanginya, kita harus menjaga dan merawatnya,” katanya. (M-4)

Baca Juga

dok.medcom

Vaksin Sinovac untuk Covid-19 Masuki Tahap Uji Klinis Fase 3

👤Andhika prasetyo 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 14:35 WIB
GURU Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Prof. Cissu Rachiana Sudjana menjamin keamanan Vaksin Sinovac untuk Covid-19 yang...
Antara/Septianda Perdana

Muslimat NU Diminta Respons Kebutuhan Dakwah Milenial

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 14:24 WIB
Menteri Agama berharap Muslimat NU terus melakukan penerjemahan atas kebutuhan dakwah dan pendidikan agama di tengah kaum...
AFP/Vincenzo Pinto

Vaksin Covid-19, Pakar: Kalau tak Aman, Uji Dihentikan Sejak Awal

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 12:59 WIB
Guru Besar Fak Kedokteran Unpad Cissy mengatakan apabila vaksin Sinovac ditemukan tidak aman atau menimbulkan efek samping berbahaya...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya