Kamis 15 Oktober 2020, 03:00 WIB

Menyelamatkan Manusia versus Ekonomi

Agus Sugiarto Advisor Otoritas Jasa Keuangan | Opini
Menyelamatkan Manusia versus Ekonomi

Dok. Pribadi

PERDEBATAN mengenai prioritas kebijakan yang harus dilakukan pemerintah dalam menangani penularan covid-19 dan krisis ekonomi menjadi pembicaraan yang sangat hangat saat ini. Muncul dua kubu yang masing-masing memiliki argumen sangat kuat. Salah satu kubu melihat bahwa menyelamatkan nyawa manusia dari pandemi merupakan prioritas utama.

Sementara itu, kubu lainnya berangapan bahwa menyelamatkan ekonomi dari krisis yang terjadi saat ini lebih utama untuk didahulukan sebagai kebijakan prioritas pemerintah. Perdebatan tersebut muncul karena adanya ketidakpastian mengenai kapan penularan covid-19 tersebut akan berakhir ataupun dapat dihentikan sehingga muncul antagonis yang bertentangan satu sama lainnya.


Visi epidemiolog versus ekonom

Pakar kesehatan masyarakat atau para epidemiolog beranggapan bahwa menyelamatkan nyawa manusia jauh lebih penting. Maka itu, prioritas kebijakan pemerintah harus difokuskan pada penanganan krisis kesehatan. Nyawa manusia, tidak bisa dinilai dengan uang berapa pun besar nilainya karena hilangnya nyawa manusia tidak bisa diganti dengan uang.

Seorang dokter yang menjadi dosen di beberapa universitas di Amerika Serikat dan Taiwan, yaitu Dr Yenting Chen, mengatakan bahwa cara terbaik untuk menyelamatkan ekonomi selama pandemi ialah dengan menyelamatkan jiwa manusia terlebih dahulu.

Salah satu pertahanan terbaik untuk mengurangi penularan virus tersebut dengan mengurangi pergerakan manusia, semakin sering orang bergerak semakin meluas penularannya.

Lebih lanjut, Dr Chen beranggapan bahwa kematian seseorang akibat pandemi ini menyebabkan hilangnya potensi produktivitas dan juga konsumsi manusia secara permanen. Kubu epidemiolog mempunyai pemikiran yang masuk akal, bahwa nyawa manusia memiliki nilai yang berharga, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa depan.

Kematian manusia bukan hanya akan mengurangi potensi produksi dan daya beli, melainkan juga potensi menurunnya inovasi karena banyak orang pintar yang mati. Pendapat epidemiolog itu juga didukung tokoh dunia, seperti Paus Francis dari Vatikan, yang melihat bahwa menyembuhkan orang yang terkena covid-19 pada saat ini lebih penting jika dibandingkan dengan pemulihan ekonomi.

Korea Selatan, Denmark, Vietnam, Australia, dan Singapura merupakan contoh negara-negara yang sangat peduli terhadap keselamatan manusia jika dibandingkan dengan pemulihan ekonomi.

Sementara itu, para ekonom memiliki pandangan yang terbelah mengenai penangan pandemi ini. Satu kelompok ekonom melihat pandemi ini bukan hanya melahirkan krisis kemanusiaan, melainkan juga telah menghancurkan kondisi perekonomian secara global. Oleh karena itu, sudah saatnya sekarang ekonomi harus segera dipulihkan kembali untuk mencegah kehancuran yang lebih dalam, dalam jangka panjang.

Presiden Donald Trump, di awal pandemi melihat kebijakan penyelamatan ekonomi Amerika Serikat harus diutamakan terlebih dahulu untuk mencegah kehancuran ekonomi negara itu. Kebijakan serupa juga diambil Perdana Menteri Boris Johnson dari Inggris. Adapun Swedia lebih mengutamakan ‘herd immunity’ untuk memerangi penyebaran covid-19 sehingga jalannya roda perekonomian di negara itu tidak terganggu.

Adapun kelompok ekonom lainnya memiliki pendapat netral, artinya pemulihan ekonomi dapat dilakukan bersama-sama dengan penyelamatan jiwa manusia akibat pandemi ini. Pemulihan ekonomi bukan merupakan tradeoff dengan penyelamatan manusia ataupun sebaliknya. Itu karena keduanya sama-sama penting untuk dijadikan prioritas bersama.

Profesor Steven Berry dan Zack Cooper (2020), keduanya guru besar ekonomi dari Universitas Yale, Amerika Serikat, memberikan pandangan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ekonomi dari krisis dengan memerangi penularan virus tersebut.

Dengan kata lain, pemulihan ekonomi tidak bisa dilakukan sendirian. Namun, harus diba rengi dengan kebijakan pencegahan dan penanganan penularan virus secara tepat dan cepat. Pertumbuhan ekonomi mustahil tercapai kalau masih banyak orang yang terkena penularan covid-19.


Kasus Indonesia

Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang dibentuk pemerintah sebenarnya sudah menjabarkan tiga program utama, yaitu Indonesia Sehat sebagai prioritas pertama, Indonesia Bekerja sebagai prioritas kedua, dan Indonesia Tumbuh sebagai prioritas ketiga.

Pemerintah menganggap menyelamatkan nyawa manusia sebanyak-banyaknya dari penularan covid-19 merupakan harga mati sehingga prioritas kebijakan tersebut sesungguhnya sudah sangat tepat. Namun, fakta di lapangan ternyata menunjukkan kondisi yang berbeda.

Hasil survei Polmatrix baru-baru ini mengindikasikan bahwa sekitar 81,1% masyarakat Indonesia lebih memilih pengetatan dalam penerapan protokol kesehatan jika dibandingkan dengan pemberlakuan PSBB. Maka, memungkinkan mereka untuk tetap bisa melakukan aktivitas ekonomi.

Bahkan, sebagian dari masyarakat merasa takut mati karena kelaparan jika dibandingkan dengan mati karena terkena virus korona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana Moneter Internasional (IMF) menegaskan bahwa menyelamatkan nyawa manusia merupakan prasyarat untuk menyelamatkan ekonomi.

Oleh karena itu, kita tidak perlu takut kalau ekonomi kita dihadang resesi ekonomi karena menyembuhkan resesi ekonomi lebih mudah jika dibandingkan dengan menyelamatkan jiwa manusia.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Baca Juga

Dok. Pribadi

UN, AN/AKM dan Literasi Penilaian

👤Syamsir Alam Divisi Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma 🕔Senin 26 Oktober 2020, 03:05 WIB
DUNIA pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, minggu lalu dikejutkan rencana Kemendikbud untuk meluncurkan kembali penilaian...
Dok.pribadi

Perubahan Iklim dan Perikanan Berkelanjutan

👤Sri Yanti, Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 16:05 WIB
Mari bersatu padu membangun negeri lewat pengelolaan perikanan...
Dok. Pribadi

Nasib BUMDes dalam UU Cipta Kerja

👤Muhammad Nalar Al Khair | Pengamat Ekonomi PKP Berdikari |OPINI 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 15:15 WIB
Dengan adanya Undang Undang Cipta Kerja ini, permasalahan badan hukum yang sebelumnya  membuat BUMDes sulit berkembang telah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya