Rabu 14 Oktober 2020, 05:55 WIB

Long Hauler, Kehidupan setelah Covid-19

(Wan/H-2) | Humaniora
Long Hauler, Kehidupan setelah Covid-19

Photo by SPENCER PLATT / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP)
Dalam foto file ini diambil pada 11 November 2014 Dr. Craig Spencer, yang didiagnosis dengan Ebola di New York City bulan lalu

 

SUDAH berbulan-bulan Craig A Spencer, Direktur Kesehatan Global dalam Pengobatan Darurat di New York-Presbyterian/Columbia University Medical Center, membantu merawat pasien covid-19.

Ia mengetahui bagaimana virus ini menyentuh hampir setiap sistem organ dan berapa banyak pasien yang masih belum pulih sepenuhnya dari covid-19 selama berbulan-bulan atau disebut juga dengan long hauler.

Spencer mengungkapkan hal ini bukan hanya terjadi pada covid-19, tetapi penyakit terdahulunya, seperti SARS dan MERS.

"Kelelahan yang berkepanjangan, ketidakmampuan untuk kembali bekerja dan tantangan kesehatan mental yang sedang berlangsung sangat umum terjadi, selain gejala jantung, pernapasan, dan neurologis," tuturnya seperti dikutip dari Washingtonpost belum lama ini.

Spencer tahu betul juga rasanya long hauler karena ia pernah merasakannya setelah selamat dari wabah ebola di Guinea pada 2014 silam. "Selama berbulan-bulan saya mengalami nyeri sendi dan otot. Sakit rasanya berjalan. Rambutku rontok," ungkapnya.

Saat ini Spencer mengalami kesulitan berkonsentrasi. Kemampuannya untuk membuat kenangan baru berkurang drastis. Ia lupa nama dan detail orang yang sangat ia kenal. Rupanya, kabut otak seperti yang dialami Spencer juga dialami banyak penyintas covid-19. Hal itu diketahuinya lewat diskusi dengan berbagai macam orang. Dari studi CDC Amerika Serikat, diketahui 35% penyintas covid-19 belum kembali ke keadaan kesehatan awal.

Dokter spesialis penyakit dalam, Adityo Susilo mengatakan long hauler ialah isu baru yang tengah diwaspadai para tenaga medis di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi ketika pasien masih mengeluhkan gejala covid-19 meski hasil uji usap PCR sudah negatif dan dinyatakan sembuh. "Ini isu yang baru," kata Aditya dalam webinar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Kamis (1/10).

Covid-19 diibaratkannya seperti api yang membakar tubuh pasien karena infeksi paru-paru yang berat. Setelah api padam, jejaknya masih tampak.

Ia menyerukan agar para dokter ataupun perawat bisa menerima kenyataan bahwa mereka akan berhadapan pada keluhan pasien long hauler dan memberikan edukasi kepada pasien untuk terus bersemangat dan terus berhati-hati. (Wan/H-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Siswa SMP di Tarakan Bunuh Diri, KPAI Minta PJJ Dievaluasi

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 10:30 WIB
KPAI akan bersurat pada pihak-pihak terkait untuk pencegahan dan penanganan peserta didik yang mengalami masalah mental dalam menghadapi...
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Satgas Covid-19: Kasus Aktif di Indonesia Makin Menurun

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 09:33 WIB
Prof Wiku Adisasmito mengatakan jumlah kasus aktif di Indonesia sebanyak 60.569 atau 14,9%. Kondisi di Indonesia ini sangat baik jika...
AFP/Luka Gonzales

Akselerasi Persiapan Logistik dan SDM untuk Vaksinasi Covid-19

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 09:20 WIB
Wiku menyebut jumlah SDM yang dipersiapkan sebanyak 739.722 orang. Serta vaksinator di Puskesmas dan rumah sakit sebanyak 23.145 orang atau...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya