Rabu 14 Oktober 2020, 01:25 WIB

Keterbatasan tak Membatasi

(Dro/R-3) | Fokus
Keterbatasan tak Membatasi

DOK,MI/ ROMMY P

TIDAK pernah sekali pun terbayang oleh Jendi Pangabean saat kecil bahwa dirinya dapat menjadi atlet dan mengharumkan nama negara di kancah internasional. Kini Jendi dikenal sebagai atlet renang disabilitas. Dengan berbagai keterbatasan, dirinya mampu tak patah semangat dan terus melangkah maju menghadapi tantangan.

Segala kesuksesan yang diraih, diakui Jendi, merupakan hasil kerja keras dan berkat dukungan dari orang-orang yang ada di sekelilingnya.

"Saya dulu awalnya tinggal jauh dari kota di Sumatra Selatan, di desa. Dari tempat saya ke Palembang itu bisa 3-4 jam. Ketika kecil, tidak pernah terbayang menjadi atlet seperti sekarang," ungkap Jendi akhir pekan lalu.

Pada usia 12 tahun, kata Jendi, dirinya mengalami kecelakaan. Musibah itu menyebabkan Jendi kehilangan kaki kirinya karena harus diamputasi. Jendi mengatakan perkenalan awal dengan olahraga disabilitas terjadi saat ia mulai bersekolah di Palembang. Ia pun sempat bingung menentukan bakat apa yang ia miliki di bidang olahraga.

"Saya teringat kalau saya senang berenang, dulu kami anak desa sering bermain di sungai. Saya rasa saya punya modal di sana," terang Jendi.

"Saya mulai berlatih dan memang ketika itu keadaannya kurang memungkinkan karena saya harus sekolah dan waktu juga tidak ada untuk latihan hingga kendala biaya. Namun, syukurnya pelatih saya terus memotivasi," terang Jendi.

Ia pun menuturkan motivasi yang diberikan pelatih bukan sekadar asal sesumbar. Dirinya mendapat dukungan secara penuh dalam segala kegiatan.

Hal itu yang membuatnya dapat terus bersemangat. Pada 2012, saat Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) Riau, Jendi secara mengejutkan mampu meraih 2 emas, 1 perak, dan 1 perunggu.

Setelah itu Jendi mulai dipangil untuk masuk pelatnas hingga saat ini.Berbagai ajang pun dia ikuti dan tidak hanya di level nasional, tetapi juga internasional. Dia juga menjadi wakil Indonesia ketika Asian Para Games 2018 digelar di Jakarta.

Setelah cukup banyak pengalaman, Jendi menyadari bahwa satu-satunya hambatan yang harus dikendalikan berasal diri sendiri. Menurutnya, rasa jenuh dan malas ialah hal yang wajar, tetapi jangan sampai hal itu merusak segala pencapaian yang ada saat ini.

Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah mencari kegiatan lain yang positif, misalnya, traveling sehingga dapat kembali prima dan berusaha maksimal meraih prestasi. (Dro/R-3)

Baca Juga

ANTARA/DEDHEZ ANGGARA

Terima Nasib

👤MI/AGUNG WIBOWO 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:55 WIB
TIDAK adanya sentuhan teknologi dalam produksi garam tradisional menyebabkan rendahnya kualitas...
ANTARA /YUSUF NUGROHO

Potret Suram Petani Garam

👤Mohammad Ghazi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:45 WIB
STOK garam rakyat di sejumlah sentra produksi garam Kabupaten Pamekasan, Madura, hingga pertengahan Oktober ini masih menumpuk di sejumlah...
 (ghozi/MI)

Butuh Sentuhan Teknologi

👤(UL/PO/E-3) 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:35 WIB
SALAH satu penyebab rendahnya mutu garam dalam negeri ialah proses produksi yang masih dilakukan secara tradisional dan ketidakmampuan para...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya