Selasa 13 Oktober 2020, 14:29 WIB

KPK Panggil PNS Pemkab Bogor Terkait Kasus Rachmat Yasin

Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum
KPK Panggil PNS Pemkab Bogor Terkait Kasus Rachmat Yasin

ANTARA
Tersangka kasus dugaan pemotongan uang dan penerimaan gratifikasi yang juga Bupati Bogor periode 2008-2014 Rachmat Yasin.

 

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan lima saksi dari unsur PNS dalam kasus dugaan pemotongan uang dan gratifikasi yang menjerat mantan Bupati Bogor Rachmat Yasin.

Lima orang saksi yang dipanggil yakni Sekretaris Dinas Pengelolaan Keuangan dan Barang Daerah (DPKBD) Kabupaten Bogor Setyanto Susanto, mantan Sekretaris DPKBD Kabupaten Bogor Ade Jaya Munadi, Sekretaris Satpol PP Kabupaten Bogor Aris Mulyanto, Kasubbag Keuangan DLLAJ Kabupaten Bogor Yuyuk Rusmayati, Kepala Bidang Terminal dan Angkutan Dishub Kabupaten Bogor Dudi Rukmayadi.

Baca juga: Pendekatan Keagamaan lebih Efektif Ciptakan Perdamaian

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RY (Rachmat Yasin)," kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri, Selasa (13/10).

KPK menahan Rachmat Yasin pada 13 Agustus lalu terkait dua kasus dugaan korupsi sekaligus yakni perkara pemotongan anggaran dan gratifikasi. Bupati Bogor periode 2008-2014 itu sebelumnya juga pernah dicokok KPK dalam kasus suap izin kehutanan. Ia sudah menjalani pidana dan bebas.

KPK kemudian mengendus ada dugaan korupsi lain dan menetapkan Rachmat Yasin sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pemotongan anggaran dan gratifikasi pada 2019 lalu.

Dalam kasus terbaru itu, KPK menduga Rachmat Yasin menerima duit Rp8,93 miliar yang didapat dari pemotongan anggaran sejumlah dinas di Kabupaten Bogor. KPK menyebut uang itu diduga untuk kepentingan Rachman maju dalam pemilihan bupati untuk periode kedua.

Rachmat Yasin kemudian memenangi pemilihan untuk periode kedua, namun ia ditangkap komisi antirasuah terkait kasus korupsi perizinan kehutanan pada 2014.

Untuk perkara kedua, Rachmat Yasin disuga menerima sejumlah gratifikasi terkait jabatannya sebagai bupati. Ia diduga menerima gratifikasi berupa tanah seluas 20 hektare dan mobil mewah senilai Rp 825 juta. Gratifikasi tanah diduga terkait dengan perizinan pondok pesantren di Jonggol, Kabupaten Bogor, sedangkan pemberian mobil diduga berasal dari pengusaha rekanan Pemkab Bogor.

Rachmat disangkakan melanggar Pasal 12 huruf f dan Pasal 12 B Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. (OL-6)

Baca Juga

MI/Adam Dwi

Membangun Kemandirian

👤Emir Chairullah 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 03:03 WIB
Perlu dicatat, dalam kondisi pandemi justru ada momentum penting, yaitu berupaya membangun kemandirian dengan mulai menciptakan...
ANTARA/DHEMAS REVIYANTO

Vaksinasi Harus Disiapkan dengan Baik

👤Abdhika Prasetyo 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 02:46 WIB
Selama tujuh bulan menangani pandemi, pemerintah bekerja keras mencari titik keseimbangan antara penanganan kesehatan  dan pemulihan...
MI/ Fransisco Carolio Hutama Gani

Kejagung Bela Kejari Jamuan Makan Kajari Jaksel

👤Tri Subarkar 🕔Senin 19 Oktober 2020, 22:35 WIB
"Apabila tersangka, penasihat hukum, penyidik menambah menu sendiri, maka itu hak mereka. Jadi bukan 'jamuan' tetapi memang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya