Selasa 13 Oktober 2020, 03:40 WIB

Genose dan RT-Lamp Lebih Murah dan Akurat

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Genose dan RT-Lamp Lebih Murah dan Akurat

Dok. Kominfo
Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro .

 

KEMENTERIAN Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) menominasikan dua inovasi buatan dalam negeri untuk dijadikan solusi mengurangi ketergantungan terhadap tes PCR dan skrining yang lebih baik dari yang ada sekarang. Kedua inovasi anak bangsa tersebut ialah Genose yang dibuat Universitas Gadjah Mada (UGM) dan RT-Lamp buatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Hal tersebut disampaikan Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro seusai rapat terbatas melalui konferensi video dengan Presiden, kemarin.

“Kami melaporkan kepada Bapak Presiden terkait dengan hasil riset inovasi testing, tracing, treatment,” katanya.

Bambang menjelaskan tes cepat (rapid test) yang sudah di luncurkan sekitar Mei ini produksinya sudah mencapai 350.000 per bulan. “Ini sudah diproduksi oleh 3-4 swasta yang sudah memulai sehingga diharapkan bisa mencapai 2 juta per bulan,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Presiden memberikan arahan agar penggunaan rapid test mengutamakan hasil inovasi/produk dalam negeri. Menjawab permintaan itu, Bambang mengatakan untuk membantu skrining sekaligus testing yang lebih akurat, sudah ada dua inovasi anak bangsa untuk mengurangi ketergantungan impor.

Pertama, yaitu Genose buat an UGM, yang mampu men deteksi covid-19 melalui embus an napas. Pendekatan ini bisa menghasilkan upaya skrining dan deteksi lebih cepat, murah, serta lebih akurat.

Inovasi kedua tengah dikembangkan LIPI, yaitu RT-Lamp yang dapat menjadi rapid swab test (tes usap cepat). Jika tes usap biasanya butuh waktu lama dan memerlukan laboratorium, RT-Lamp hanya perlu waktu kurang dari 1 jam tanpa menggunakan lab BSL 2.

Terkait dengan treatment, Bambang melaporkan tentang plasma konvalesen yang sudah melakukan uji klinis fase I. Hasilnya tidak ditemukan efek samping yang serius dari terapi tersebut.

Metode plasma konvalesen ini dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang juga sedang membuat vaksin Merah Putih. Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio mengungkapkan saat ini proses pengembangan vaksin Merah Putih pada skala laboratorium telah mencapai 55% pada tahap menghasilkan protein rekombinan.

“Gennya sudah dimasukkan ke sel-sel mamalia atau pun sel ragi yang akan dijadikan seperti ‘pabrik’,” terang Amin kepada Media Indonesia, kemarin. (Aiw/H-1)

Baca Juga

Antara

Jadi Prioritas, Riset Nuklir untuk Diagnosis dan Pengobatan Kanker

👤Aiw/H-2 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:25 WIB
Selama ini, Indonesia mengimpor lebih dari 90% produk radioisotop dan...
Ist

40 Mahasiswa Raih Penuh Program Beasiswa 8 Miliar Algoritma 2020

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:16 WIB
Program beasiswa pada tahun ini diberikan kepada 40 penerima beasiswa penuh serta 120 penerima beasiswa parsial yang memiliki background...
MI

Program Stunting Terancam Minim Hasil karena Ego Sektoral

👤Emir Chaerullah 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:00 WIB
ANGGARAN program pencegahan stunting Rp27,5 triliun yang tersebar di 23 kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terancam minim hasil...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya