Selasa 13 Oktober 2020, 05:48 WIB

Hutan Sosial untuk Lapangan Kerja dan Keadilan

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Hutan Sosial untuk Lapangan Kerja dan Keadilan

ANTARA FOTO/Khairizal Maris
Program perhutanan sosial: petani memetik buah kopi di kebun lahan milik Perhutani

 

BAHASAN perhutanan sosial secara eksplisit diatur dalam RUU Cipta Kerja. Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono menegaskan dengan perhutanan sosial masuk dalam RUU Cipta Kerja, merupakan wujud nyata keadilan kepada masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.

“Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraannya, menjaga keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial budaya. Perhutanan sosial juga menjadi salah satu alternatif penyelesaian berbagai permasalahan kehutanan yang akut dan menahun. Melalui UU Cipta Kerja masyarakat di sekitar hutan dapat bekerja dengan perlindungan hukum yang jelas,” kata Bambang dalam acara Bincang Undang-Undang: Atasi Kesenjangan Multi Tafsir dengan tema Hutan Sosial Untuk Lapangan Kerja dan Keadilan, yang diselenggarakan KLHK, Senin (12/10),

Wakil Ketua DPR RI Komisi IV Dedi Mulyadi menjelaskan secara kultural, perhutanan sosial sudah terbentuk sejak kolonial Inggris dan Belanda. Tujuan utamanya, melindungi areal hutan yang tidak boleh dijamah oleh masyarakat, yang harus terjaga kelestariannya, tetapi ekonomi masyarakat harus tetap hidup.

Saat ini, pemerintah memiliki otorisasi penuh dalam menentukan arah pengelolaan sumber daya kehutanan. Dedi berharap para pengelola di bidang kehutanan dapat meletakkan hutan tidak hanya sebagai sumber ekonomi publik tetapi juga sebagai sumber spiritualitas publik.

“Dalam proses pengembangan-pengembangan hutan sebagai peningkatan ekonomi, perlu diterapkan prinsip-prinsip kepada masyarakat bahwa ekonomi bukan kayunya, ekonomi bukan rantingnya, tetapi ekonomi adalah pelestariannya,” kata Dedi.

Baca juga: Perhutanan Sosial di UU Cipta Kerja Wujud Keberpihakan Pemerintah

Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Bambang Supriyanto menjelaskan program perhutanan sosial tidak hanya untuk distribusi akses tetapi juga didampingi dengan kebijakan pemerataan ekonomi melalui program pendampingan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan dukungan akses, modal serta pasar.

“Data capaian kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS) sejak tahun 2016 hingga 2020 yang terus mengalami peningkatan. Jumlah KUPS hingga Juni tahun 2020 tercatat 7.311 KUPS dan terdapat lebih dari dua juta tenaga kerja sektor Perhutanan Sosial,” ungkap Bambang Supriyanto.

“Dengan masuknya perhutanan sosial ke dalam UU Cipta Kerja akan lebih memperkuat pengelolaan perhutanan sosial dalam kaitannya dengan penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," tambahnya.

Sebagai contoh nyata program perhutanan sosial selama ini sangat berdampak baik pada masyarakat adalah produk petani hutan, madu, minyak kayu putih, jahe merah, yang menjadi produk petani hutan yang laris saat pandemi covid-19.

Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM Prof. San Afri Awang yang hadir dalam kesempatan tersebut menegaskan masuknya perhutanan sosial dalam UU Cipta Kerja, menunjukkan negara hadir untuk masyarakat. Oleh karenanya perhutanan sosial harus diletakkan sebagai sentral karena memuat tiga hal yaitu ekologi, ekonomi dan kesejahteraan.

“Perhutanan sosial menjadi strategis dan penting. Untuk itu perlu diperkuat dalam Peraturan Pemerintah sebagai tindak lanjut dari UU Cipta Kerja. Peraturan Pemerintah terkait perhutanan sosial harus mampu mengatur dengan tata kelola yang baik semua bentuk perhutanan sosial yang digagas KLHK dan yang digagas masyarakat seperti yang dinyatakan dalam definisi perhutanan sosial," kata Prof. San Afri.

“Pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam menciptakan inisiatif-inisiatif program. Jangan lupa juga, social forestry punya kewajiban menanam kayu. Siapapun yang pegang izin, pastikan mereka juga menanam kayu," tuturnya.

RUU Cipta Kerja diyakini berpihak kepada masyarakat dan mengedepankan restorative justice. Penegakan hukum bagi perusak lingkungan juga semakin jelas, tegas, dan lebih terukur. Untuk itu, Undang-Undang ini perlu tersampaikan dengan baik kepada masyarakat sehingga dapat terselenggara sebagaimana tujuannya mewujudkan Indonesia Maju.(OL-5)

Baca Juga

Zoom

17% Warga Indonesia Tidak Percaya Covid-19, Mayoritas Pemuda

👤Siswantini Suryandari 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 12:10 WIB
Anak muda harus digerakkan sebagai agen perubahan untuk memerangi covid-19 karena sampai sekarang masih ada 17% warga Indonesia tidak...
MI/Agus Utantoro

UGM Terima Bantuan Mesin RNA dan Reagen PCR Test

👤Agus Utantoro 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 11:15 WIB
Universitas Gadjah Mada memerima bantuan mesin RNA (extractor ribonucleic acid) dan 2000 reagen PCR Test senilai Rp1,85 miliar dari...
MEDIA INDONESIA/ Yoseph Pencawan

Satgas Ingatkan Pemda Tak Lengah Sikapi Zonasi

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 11:05 WIB
Penanganan penyebaran covid-19 harus terintegrasi dan konsisten di setiap daerah. Pandemi belum dinyatakan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya