Senin 12 Oktober 2020, 15:42 WIB

Timpang, Kontribusi Sektor untuk Pajak dan PDB

M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Timpang, Kontribusi Sektor untuk Pajak dan PDB

ANTARA/Aprillio Akbar
.

 

REFORMASI perpajakan perlu dilakukan. Tujuannya mengoptimalisasi penerimaan perpajakan dan membuat pemerintah menelurkan insentif fiskal yang tepat guna. Diharapkan, reformasi itu akan berbuah pada peningkatan rasio pajak Indonesia.

“Ini harus dipikirkan pelan-pelan dan bersama. Tidak bisa kita katakan, nanti akan ketemu solusi sendiri, tidak mungkin. Harus reformasi sama sama. Harapannya, kalaupun di 2020 tax ratio tertekan cukup dalam, bisa pulih perlahan menuju 2021, 2022, dan seterusnya. Tax ratio harus meningkat,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu dalam diskusi virtual, Senin (12/10).

Dia bilang, setidaknya ada tiga hal utama yang menjadi alasan reformasi perpajakan perlu dilakukan sesegera mungkin. Salah satunya, ada ketimpangan kontribusi suatu sektor usaha terhadap penerimaan perpajakan dengan produk domestik bruto (PDB).

Sektor pertanian, kata Febrio, menjadi salah satu contoh sektor usaha yang timpang berkontribusi pada penerimaan perpajakan. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan, pada 2019 kontribusi sektor pertanian kepada penerimaan perpajakan hanya 1,34%, lebih rendah dibanding kontribusinya pada PDB yang mencapai 13,3%.

Ketimpangan juga terjadi di sektor usaha realestat. Pada 2019, kontribusinya terhadap penerimaan perpajakan hanya 6,77%, lebih rendah dibanding kontribusinya terhadap PDB yang menacapai 14,1%.

Sektor usaha lain seperti perdagangan yang berkontribusi pada perpajakan sebesar 18,67% dan terhadap PDB 13,6%. Demikian halnya sektor industri manufaktur mencatatkan kontribusi pada perpajakan sebesar 27,4% dan kontribusi pada PDB 20,5%.

Padahal, idealnya kontribusi suatu sektor usaha terhadap perpajakan dan PDB harus seimbang. Bahkan bila kontribusinya terhadap perpajakan lebih besar daripada kontribusinya terhadap PDB akan berdampak signifikan pada kondisi keuangan negara.

“Di sinilah kalau kita ingin reformasi sektor perpajakan. Kontribusi sektoral harus dipelajari. Pertimbangkan apakah fair, apakah sesuatu yang harus diubah? Ini jadi bagian dari kebijakan reformasi perpajakan ke depan,” jelas Febrio. (OL-14)

Baca Juga

DOK MANDIRI SYARIAH

BI Dorong Penggunaan Wakaf Lintas Negara untuk Bangun Ekonomi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 08:29 WIB
Bank Indonesia (BI) menilai, wakaf yang tertata dengan baik dan didukung oleh teknologi diharapkan dapat mendorong mobilisasi dana...
Dok Kementan

PUPR Pastikan Irigasi di Food Estate Kalteng Mengalir Baik

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 08:16 WIB
Pengembangan food estate di Kalteng untuk tanaman padi di lahan aluvial seluas 165.000 hektare (Ha) yang merupakan lahan eks-Pengembangan...
Ist/Kementan

Kementan Apresiasi Ekspor Perdana Telur Tetas oleh CJ PIA

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 08:03 WIB
Ekspor yang dilakukan PT CJ PIA ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan ekspor komoditas...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya