Minggu 11 Oktober 2020, 05:55 WIB

Diah Setia Utami Adaptasi, Kunci Sehat Jiwa Lewati Masa Pandemi

PUTRI ROSMALIA | Weekend
Diah Setia Utami Adaptasi, Kunci Sehat Jiwa Lewati Masa Pandemi

MI/M IRFAN
DIAH SETIA UTAMI Adaptasi, Kunci Sehat Jiwa Lewati Masa Pandemi

KESEHATAN mental menjadi salah satu isu yang masih kurang mendapat sorotan di Tanah Air. Padahal, di banyak negara maju, kesehatan mental dipandang sama krusialnya dengan kesehatan fisik.

Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018, dalam setiap 1.000 rumah tangga, terdapat setidaknya 7 rumah tangga yang
memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Dengan begitu, saat ini diperkirakan terdapat 450 ribu ODGJ berat di Indonesia.

Adapun 6,1% penduduk di atas usia 15 tahun mengalami depresi dan 9,8% mengalami gangguan emosional. Pandemi covid-19 amat mungkin akan memperbanyak jumlah
orang yang mempunyai masalah kejiwaan.

Bersamaan dengan momentum Hari Kesehatan Jiwa Dunia yang dirayakan setiap 10 Oktober, Media Indonesia berbincang mengenai isu tersebut bersama Ketua Umum
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Dr dr Diah Setia Utami SpKJ MARS, Rabu (7/10).

Semasa pandemi covid-19 ini, adakah riset tentang pengaruhnya ke kesehatan mental?

PDSKJI sudah membuat studi melalui website, namanya Swaperiksa, untuk ketahui masalah mental masyarakat selama covid-19. Dari sekitar 4.010 orang yang berpartisipasi,
ada 64,8% punya masalah kejiwaan.

Ada tiga kelompok yang muncul, yaitu depresi, kecemasan, dan masalah trauma psikologis. Sayang, kita tidak bisa membandingkan dengan sebelum pandemi. Namun, pandemi
ini memang bisa mencetuskan hal hal yang akhirnya membuat masyarakat pada umumnya mengalami masalah kejiwaan.

Hal-hal apa yang paling memicu masalah kejiwaan tersebut?

Hal-hal seperti melihat keluarganya meninggal karena covid-19, itu menyebabkan trauma psikologis atau dia pernah terpapar covid-19, lalu jadi terstigma di lingkungannya.

Masalah ekonomi juga jadi penyebab karena banyak yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Belum lagi yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama pandemi.

Jadi, luas sekali dampak pandemi terhadap kesehatan jiwa.

Secara umum, bagaimana sikap mental seseorang ketika dihadapkan pada situasi pandemi?

Memang setiap muncul suatu kondisi atau hal baru yang dianggap menakutkan, pasti terjadi reaksi-reaksi dari setiap individu. Stres, ketakutan, tidak nyaman. Namun, setiap orang
sebenarnya memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru. Hanya, kadang ada orang yang tidak mudah beradaptasi dan akhirnya tidak mampu beradaptasi terhadap situsasi baru.

Orang-orang itulah yang kemudian jatuh ke dalam kondisi masalah kejiwaan. Jadi, sebetulnya setiap orang itu memiliki kemampuan untuk berdaptasi. Tiga bulan pertama mungkin
dia masih gelisah, bingung, tapi selewat itu seharusnya sudah bisa beradaptasi dan menerima, misalnya, pandemi ini merupakan masalah di semua tempat dan orang lain juga mengalami yang sama.

Apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan kesehatan mental selama pandemi?

Pertama, kita harus sadari bahwa ini merupakan masalah yang dirasakan semua orang. PDSKJI juga sudah membuat banyak pedoman untuk masyarakat. Misalnya, mereka
harus mencari teman untuk bercerita meski berjauhan, jangan malah menyendiri.

Kedua, batasi membaca berita-berita yang sangat banyak bermunculan dan justru menimbulkan kekhawatiran. Jadi, berusaha untuk menikmati keseharian dan relaksasi. Lakukan apa yang kita sukai selama di rumah, luangkan waktu untuk melakukan hobi kita dengan aman.

Seberapa besar pengaruh kesehatan mental terhadap kesehatan fisik kita secara umum?

Mental dan fisik itu tidak bisa terlepas. Pikiran yang tidak tenang dapat memicu seseorang menderita sakit fisik. Kalau orang sudah punya penyakit berat sebelumnya, stres dapat membuat penyakitnya makin parah. Itu harus dipahami setiap orang, kaitan antara fisik dan psikis itu sangat kuat.

Tidak bisa kita menganggap enteng satu gejala seolah-olah gejala psikis tidak penting. Stres saja bisa memengaruhi sistem metabolisme, saraf, dan bisa menimbulkan gejala-gejala lain yang lebih parah. Jadi, psikis akan memengaruhi saraf dan saraf akan memengaruhi endokrin kita, semua metabolisme kita akan dipengaruhi.

Metabolisme itu yang sangat penting untuk tubuh kita.

Orang dengan komorbid atau penyakit bawaan selama pandemi justru paling tidak boleh stres?

Benar, mereka justru yang harus paling tidak boleh stres. Cukup fokus pada menjaga daya tahan tubuh dan protokol kesehatan. Meski selama ini covid-19 selalu dikaitkan dengan
kematian akibat komorbiditas atau penyakit bawaan, itu jangan sampai menimbulkan ketakutan berlebihan dan malah menurunkan daya tahan tubuh.

Bagaimana kondisi kesehatan mental orang Indonesia secara umum sebelum pandemi, adakah penelitiannya?

Penelitian tidak ada terlalu khusus, tapi kalau dari Riskesdas terakhir (2018), ada peningkatan. Namun, kita harus membedakan yang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) dan ODMK (orang dengan masalah kejiwaan). ODGJ kalau tidak salah sudah melebihi 1% dari jumlah penduduk.

Kalau ODMK, memang tidak terdeteksi langsung. Itu biasanya banyak jenisnya, bisa mulai dari tidak memiliki percaya diri, sulit tidur, hingga gangguan kecemasan. Itu cukup banyak, hanya persisnya berapa kita tidak tahu.

Secara umum kita melihat saja dari kasus-kasus saat ini, khususnya terakhir ini kita sering dengar kasus bunuh diri. Hanya, bunuh diri tidak bisa masuk ke dalam satu kategori
yang boleh terdaftar di rumah sakit.

Biasanya, orang bunuh diri terdaftarnya bukan bunuh diri, tapi penyebab kematiannya. Misalnya, dia gantung diri, jadi terdaftarnya itu kematian karena tidak bisa bernapas. Jadi, sulit didata secara detail. Namun, dari tahun ke tahun cenderung ada peningkatan.

Masalah mental apa yang paling banyak dihadapi di Indonesia?

Saat ini, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dan bunuh diri itu menjadi salah satu masalah gangguan kejiwaan yang banyak ditemui. Itu karena ketidakmampuan individu
untuk beradaptasi dengan perubahan situasi, baik ekonomi maupun sosial. Peningkatan angka kriminalitas juga kita pertimbangkan ada kaitannya dengan masalah kejiwaan.

Memang angka pastinya seluruh Indonesia itu berapa belum diketahui, hanya kalau melihat trennya, selalu ada peningkatan

Kalau kesadaran masyarakat  kita terhadap kesehatan mental bagaimana?

Di Indonesia, stigma terhadap kesehatan mental masih sangat kuat, bahkan di lingkungan tenaga medis. Itu yang masih kita perjuangkan. Di lingkungan masyarakat, tindakan
pemasungan masih banyak terjadi karena malu bila ada keluarganya yang memiliki masalah kejiwaan.

Kesadaran untuk membawa orang dengan masalah kejiwaan untuk mendapat penanganan yang semestinya masih rendah.

Kesiapan dari sisi fasilitas dan tenaga kesehatan seperti apa?

Itu juga jadi salah satu masalah. Akses masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa di Indonesia itu masih sulit, terutama di daerah-daerah terpencil. Dokterdokter
di puskesmas belum memiliki keterampilan untuk menangani masalah-masalah kejiwaan khusus, seperti mungkin skizofrenia.

Karena tidak ada akses itu tadi, dipasung lagi ujungnya. Jadi, ini masih seperti lingkaran setan yang belum ada solusinya. Fasilitas kesehatan untuk menangani masalah
kejiwaan hanya ada di kota-kota besar, di tingkat kabupaten saja masih jarang.

Pemerintah daerah juga umumnya enggan membangun karena jadi harus menyisihkan PADnya. Rumah sakit jiwa itu cost center, bukan revenue center, jadi daerah jarang yang mau membangun rumah sakit jiwa.

Ada dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat untuk pengobatan masalah kejiwaan?

Dukungan pemerintah juga belum sepenuhnya tuntas. Artinya, tidak semuanya bisa dibayar BPJS, apalagi untuk orang dengan masalah kejiwaan. Setelah pengobatan juga
harus ada rehabilitasi sosial, itu juga tidak semuanya bisa dibayari BPJS.

Asuransi juga masih jarang yang mau memberi layanan pada kasus kejiwaan.

Bagaimana dengan tenaga kesehatan?

Masih sangat jauh. Dokter spesialis kedokteran jiwa di Indonesia baru 1.100 orang, itu harus bekerja untuk 270 juta penduduk, tentu masih sangat jauh dari cukup. Seharusnya
setiap 1.000 orang penduduk itu ada minimal 1 dokter spesialis. Jadi, idealnya ada 270 ribu dokter, sekarang baru 1.100. Masih sangat jauh.

Sekarang banyak aplikasi untuk cek kesehatan mental, itu efektif ?

Aplikasi kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, itu ada sisi positifnya. Khususnya dalam kondisi covid-19, itu bisa menolong, menjadi pilihan untuk membantu masyarakat mau bercerita atau konsultasi secara daring.

Namun, aplikasi atau web itu tetap ada aturannya. Itu hanya boleh digunakan, misalnya, pasien yang sudah pernah mendapat penanganan sebelumnya. Jadi, aplikasi hanya untuk media berkomunikasi atau konsultasi mengenai perkembangan dari pengobatan mereka.

Yang menjadi salah ialah bila ada aplikasi atau web yang menyediakan semacam diagnosis atas penyakit jiwa dari pengetesan secara online. Diagnosis harus dengan wawancara
psikiatri. Tidak diizinkan untuk mendiagnosis diri hanya berdasarkan hasil tes online. Takutnya nanti malah orang itu kena gangguan cemas atau stres akibat diagnosis yang
tidak bertanggung jawab.

Biasanya apa tanda-tanda seseorang sudah saatnya berkonsultasi ke dokter jiwa?

Apabila sudah merasa terganggu kehidupan sehari-harinya, itu tanda sudah harus memeriksakan diri ke dokter. Misalnya, dia merasa gelisah terus dan tidak bisa bekerja, tidak
bisa tidur, tidak mau bersosialisasi, atau menjalankan hobi seperti biasanya.

Fungsi sosial, fungsi pekerjaan, dan fungsi rekreaksionalnya sudah terganggu atau hilang, itu berarti waktunya untuk bertemu seorang ahli. (M-2)

Baca Juga

IMDB/Phil Carusso - Summit Entertainment

Hiii... Ini Ternyata Film Horor yang Paling Menakutkan

👤Fathurrozak 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 10:10 WIB
Sineas James Wan pun dinobatkan sebagai 'raja...
www.goethe.de

Yuk, Ajak si Cilik Berkenalan dengan Sains

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 02:13 WIB
Simak belasan film sains yang 'ramah' anak di Science Film Festival...
Instagram/Rara Sekar

Hara, Perjalanan Solo Rara Sekar

👤Fathurrozak 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 00:10 WIB
Setelah bermusik dengan Banda Neira dan Daramuda Project, Rara Sekar kini punya proyek...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya