Minggu 11 Oktober 2020, 02:10 WIB

Anak-Anak Rimba

Damhuri Muhammad | Weekend
Anak-Anak Rimba

MI

LEMBAH itu tempat paling rahasia. Senantiasa memberi suaka saat mereka terhukum secara berjamaah oleh ayah-ibu, lantaran mencuri tebu milik Katib Leman. 

Hingga amarah reda, mereka menghilang, menembus lapisan-lapisan belukar. Dari situ pula mereka melepas batu dari gagang katapel kayu bila datang gerombolan pemburu Murai Batu dengan rupa-rupa bentuk perangkap yang bakal mereka pasang. 

Belum sempat masuk ke titik pemasangan perangkap, batu bergerigi sebesar gundu telah mendarat di pangkal kuping mereka. Makin mendekat ke jalan setapak pintu masuk Rimba Cempaya, kening, dagu, dan batok kepala mereka makin berlumur darah. 

Tak bisa dipastikan dari mana asal batu-batu itu, karena saat melepas pandang ke sekeliling lembah dari arah bawah, yang tampak hanya belukar kusut. Makin lama mereka melacak sumber batu-batu terbang itu, peluang pulang dengan kulit kepala terkelupas makin terbuka.

“Barangkali inilah batu yang jatuh dari cengkraman kaki burung ababil. Yang bisa melihat wujud burung utusan Tuhan itu tentu hanya golongan nabi-nabi,” kata ketua komplotan pemburu Murai Batu.

“Murai Batu di sini dijaga oleh hantu pelempar batu. Sebelum mereka menurunkan hujan batu, lebih baik kita cari rimba yang ramah!” balas salah satu anak buahnya.

“Setuju! Lebih baik kembali tanpa Murai Batu ketimbang menghadang batu-batu terbang kiriman para hantu!”

Derita itu pula yang ditanggung oleh gerombolan begundal pembalak liar yang mengira rimba Cempaya sebagai kawasan tak bertuan. Berbeda dengan cara menggagalkan perburuan Murai Batu, khusus untuk para begundal yang dibiayai tauke-tauke tajir di kota provinsi itu, katapel kayu yang melingkar di leher Injang, Injing, dan Injun tak akan bekerja. 

Komplotan pembalak malah dibiarkan masuk sampai jantung Rimba Cempaya, bahkan mereka diberi waktu hingga beres membangun pondok peristirahatan, yang sekaligus tempat menyimpan perkakas. 

Tapi saat mereka lengah sedikit saja, gergaji mesin lenyap. Bahan bakar dalam beberapa jeriken ditumpahkan di sekeliling pondokan. Satu puntung rokok saja cukup untuk menyulut api, lalu dangau itu jadi abu dalam satu hentakan napas.

Sebagaimana kawanan pemburu Murai Batu, tak satu pun anggota komplotan pembalak liar yang dapat memastikan pelaku pencurian gergaji mesin dan pembakaran pondok tanpa belas kasihan itu. 

Semakin mereka melacak pelakunya, jerat celeng di sela-sela pohon akan menghempaskan tubuh-tubuh bongsor mereka. Lantaran lama menengadah ke lembah penuh belukar, kaki bisa tak sengaja menginjak pemicu jerat celeng.

Tubuh pembalak akan terpelanting jauh. Meski mujur tak membentur pinggang pohon besar, tubuh itu akan menggelantung terkebat tali dalam posisi kaki ke atas dan kepala ke bawah. 

Maka, sebelum babak belur seperti celeng yang dicabik-cabik kawanan anjing lapar, lebih baik lekas menjauh dari rimba Cempaya.

“Kau bilang Hutan Cempaya aman, tapi kita seperti menghadapi ranjau pasukan khusus Angkatan Darat,” keluh seorang anggota pembalak liar.

“Tenang, Katua. Siapa tahu ini hanya ujian guna menakar ketahanan kita,” balas anggotanya.

“Ketahanan gundulmu? Bila perkakas sudah raib, itu lumpuh namanya, Monyet!”

“Siap, Katua!”

Sekali waktu, Injang, Injing, dan Injun ketemu lawan bersengat. Bukan sekadar komplotan pemburu Murai Batu atau begundal pembalak liar. Di area yang cukup sulit dijangkau dari lembah rahasia, sebuah helikopter terbang rendah, dan berputar-putar di titik yang ituitu saja. 

Orang-orang berseragam sibuk bekerja di dalam helikopter itu. Menurunkan tali berpengait, lalu karung demi karung dihela naik. Sekitar 7 sampai 10 orang menyiapkan karung-karung itu di bawah. 

Begitu tali berpengait dapat dijangkau, mereka mengangkat karung-karung itu satu per satu untuk kemudian masuk ke lambung heli. Di luar Hutan Cempaya, orang-orang tahu, kesibukan mereka adalah bagian dari survei lokasi sekelompok peneliti utusan perusahaan tambang. 
Disebutsebut, Hutan Cempaya mengandung uranium. Tentu banyak imingiming yang sempat didengar warga sekitar Hutan Cempaya bila nanti uranium itu benar-benar bisa diangkat ke permukaan.

Tapi, yang dilihat Injang, Injing, dan Injun sama sekali bukan pekerjaan survei oleh tampangtampang sarjana, tapi kesigapan mengangkat berkarung-karung ganja kering siap edar ke atas heli, dan semuanya dikerjakan orangorang berseragam lengkap.

“Batu dari katapel kayu tak mungkin melubangi tangki bahan bakar helikopter,” gumam Injing.

“Kau tahu di mana letak tangki helikopter, Njing? Aha...” ledek Injun.

“Ladang ganja itu tak sepenuhnya bisa mereka sembunyikan. Kokang katapel kalian, arahkan pada orang-orang berseragam itu!” kata Injang, bersemangat.

Tak berapa lama setelah satu-dua batu bersarang di tempurung sisi belakang kepala orang-orang berseragam, ketiga bocah itu lari tunganglanggang ke lembah rahasia. Suara tembakan dari pistol yang diarahkan ke langit membuat mereka gemetar dan pucat.

Dentumannya seolah-olah telah menembus dada mereka. Beberapa sempat berupaya mengejar jejak anak-anak itu dengan pistol di tangan masingmasing. Beruntunglah belukar tebal membuat mereka malas melanjutkan pengejaran.

“Seumur-umur baru kali ini aku mendengar suara pistol,” bisik Injun.

“Itu baru tembakan peringatan. Bagaimana kalau pelor itu menambah lubang pantatmu? Aha...” sahut Injing, berusaha menutupi kegamangannya.

“Cara berkenalan dengan senjata api ialah dengan menjadi polisi atau tentara,” bisik Injang.

Begitulah lembah rahasia menyelamatkan mereka. Tak hanya dari omelan orangtua lantaran kenakalan-kenalan kecil, tapi juga dari kejahilan tangan mereka mengokang katapel kayu atas nama kelangsungan hidup segenap penghuni Rimba Cempaya. 

Tak ada yang tahu tempat persembunyian itu, dan sampai kapan pun kerahasiaannya akan ditutup rapat oleh Injang, Injing, dan Injun.

“Kalau ada yang berkhianat membuka rahasia, akan dibuang dari persekutuan!” kata Injang. Serius. 

“Hukuman paling berat akan ditanggung oleh pembaca dalil ini!” balas Injing, sambil menatap Injang dengan sorot mata tajam. 

“Bila kau sendiri yang melanggar, lembah ini menjadi nerakamu!” sambung Injun.

Selepas remaja, guna menuntaskan penasaran pada panas pelor yang keluar dari moncong senapan, Injang benarbenar mewujudkan niat menjadi aparat. Dari tanah seberang terdengar kabar, putra mendiang pencari madu lebah di Rimba Cempaya tercatat sebagai lulusan terbaik akademi kepolisian. 

Di kota yang berbeda, Injun yang sejak menapak di tanah seberang menghabiskan masa-masa kemahasiswaannya sebagai aktivis pro-demokrasi, telah duduk sejajar dengan elite-elite sebuah partai politik besar. 

“Percuma jadi politikus handal, bila tak bisa membangun tanah kelahiran sendiri,” kata seniornya suatu ketika.  Setelah satu-dua kali menduduki kursi legislatif, kelak akan tiba saatnya, Injun pulang kandang, dan berkhidmat menyejahterakan orang-orang di tanah asalnya. Maka, yang tersisa di lembah rahasia hanya Injing. 

“Baiknya kita pergi dulu, Njing. Mencari pengetahuan, menghimpun kekuatan. Kelak, musuh-musuh kita di Rimba Cempaya akan makin licik,” bujuk Injun sebelum ia bertolak ke tanah seberang.

“Kalau kita terus bertahan sebagai manusia udik, mudah bagi mereka menipu kita,” tambah Injang.

“Tidak, kawan! Aku akan bertahan di Hutan Cempaya sampai mati!” balas Injing cepat. 

“Kalau pergi semua, tak ada yang menjaga lembah rahasia. Aku ambil tugas itu. Pergilah! Aku akan baikbaik saja di sini.”

Meski bersikeras ingin bertahan sebagai anak rimba, jangan mengira Injing bakal terpuruk sebagai orang pandir. Sepanjang dunia terkembang, baru kali ini dusun kecil di pinggang Hutan Cempaya makmur sejahtera.

Anugerah dan keberuntungan itu tak lepas dari tangan dingin seorang dermawan, pemilik ladang ganja di Hutan Cempaya. Tak ada lagi orang-orang berseragam yang dulu memuat berkarung-karung ganja kering ke atas helikopter.  Semua titik ladang ganja di keluasan Hutan Cempaya telah jatuh pada kuasa Injing. Satu-satunya anggota persekutuan lembah rahasia yang tersisa. Dari hasil penjualan ganja, Injing membangun dusun bernama Payahtumbuh, yang kini sudah layak disebut baldatun tayyibatun wa rabbun ghofur dalam skala kecil. 

“Tak ada yang boleh putus sekolah! Pastikan beasiswa mereka sampai S-2 dan S-3! Bila ada yang sungguh berkemauan keras, kirim ke Eropa!” kata Injing pada orang kepercayaannya. 

Empatpuluh persen dari keuntungan bisnis haramnya digunakan Injing untuk membangun Dusun Payahtumbuh. Baik pembangunan fisik, lebih-lebih pembangunan sumber daya manusia.

“Bila mereka membangun masjid atau musala, pantangkan mengemis-ngemis di pinggir jalan dengan kotak infaq! Minta RAB pada panitianya, biayai semuanya! Paham?”

Jalan dari dan menuju Dusun Payahtumbuh kinclong. Musala berdiri megah di setiap penjuru. Petani memperoleh subsidi pupuk, peladang dapat pinjaman modal dengan bunga rendah, anak-anak mereka menerima beasiswa penuh.

Bila tak ada aral yang melintang, satu dua tahun ke depan, Dusun Payahtumbuh akan melahirkan tiga orang Ph.D yang kini sedang merampungkan disertasi doktoral di universitas ternama di Eropa. 

Boleh jadi, sepuluh tahun ke depan, salah satu kursi di kabinet pemerintah, bakal diisi putra kelahiran Dusun Payahtumbuh. Itu semua, sekali lagi, tidak akan pernah terwujud, tanpa campur tangan laki-laki misterius bernama Injing. 

Tak ada yang bisa menemukannya, kecuali yang ingin memilih Hutan Cempaya sebagai pusara. Kalau ada yang nekat ingin membekuk saudagar besar itu dan berusaha mengendap-endap di jalan setapak menuju kedalaman Hutan Cempaya, dipastikan tak akan pulang. Baik sebagai manusia, maupun sebagai arwah.

Perlu talenta khusus untuk membekuk target penting itu. Junaidi Syarkawi, Bupati yang memiliki otoritas penuh atas wilayah itu telah disurati pimpinan pucuk Badan Narkotika dan Zat Adiktif. 

Ia diminta berkontribusi secara terukur guna melancarkan operasi penangkapan, di bawah kendali Komisaris Besar (Pol) Januar Fadil, utusan dari Ibu Kota. “Kami ambilalih operasi ini.  Aparat lokal tak akan sanggup. Mafia ganja nomor wahid itu punya barak berkekuatan tiga kompi dengan persenjataan otomatis!” begitu pembicaraan Kepala Badan Narkotika dan Zat Adiktif dengan kepala kepolisian setempat.

Tapi di luar dugaan, tanpa mengerahkan banyak anggota, bahkan tanpa melepas satu pelor pun, Komisaris Besar Januar Fadil sudah menggiring target bernama Injing dari mulut Rimba Cempaya, dalam keadaan tangan terborgol.

“Jauh-jauh kau ke tanah seberang, hanya untuk belajar cara santun mengkhianati kawan!” bisik Injing pada Kombes, yang dipanggilnya dengan nama; Injang.

“Bupati mana Bupati? Tinggi sekolah kalian, tapi rendah derajat perbuatan. Lebih hina dari para penjerat Murai Batu dan pembalak liar di Rimba Cempaya,” gerutu Injing lagi, yang bagi Kombes Injang terasa menikam dalam sampai ke ulu hati. 

Bupati menerima laporan. Ladang ganja sudah hangus terbakar. Termasuk belukar berlapis-lapis, pintu masuk menuju lembah rahasia. Bupati bernama kecil Injun itu merasa rumah masa kecilnya telah musnah dilalap api.

Dalam perjalanan kembali ke Ibu Kota, Kombes Injang dilanda dahaga tak terkira. Sepanjang penerbangan, ia tak henti-henti menelan liurnya sendiri… (M-2) 

Baca Juga

Netflix

Emily in Paris jadi Kiblat Baru Fesyen

👤Putri Rosmalia 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 12:16 WIB
Siapa yang penasaran dengan bucket hat yang dikenakan Emily? Atau baret merahnya yang mengingatkan pada Anggun C Sasmi saat...
Unsplash.com/Aaron Blanco Tejedor

Ini Tiga Cara untuk Mengendalikan Marah

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 11:00 WIB
Jika sudah mengetahui bahwa akan memunculkan pikiran negatif sebaiknya jauhkan diri dari situasi yang bisa memicu...
Screenshoot

Ideafest Tahun ini Digelar Virtual

👤Fathurrozak 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 10:15 WIB
Tahun ini, Restart menjadi tema Ideafest berkaca dari situasi pandemi yang sudah berjalan kurang lebih selama delapan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya