Minggu 11 Oktober 2020, 01:20 WIB

Uma Lengge Tradisi Lumbung Khas Bima

Heyrus Saputro Samhudi | Weekend
Uma Lengge Tradisi Lumbung Khas Bima

Dok. Heyrus Saputro Samhudi
Situs budaya Uma Lengge di Desa Maria Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

BERADA di situs budaya Uma Lengge di Desa Maria Kecamatan Wawo, sekitar 35 km dari Rabba, ibu kota Kabupaten Bima, di timur Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, rasa nya seperti sedang di Banten atau Pasundan. 

Sebanyak 96 unit uma lengge berjajar mengelompok di satu tempat, terpisah dari permukim an penduduk. Sistem lumbung uma lengge ini sama dengan sistem lumbung di Badui, atau Kesatuan Adat Kasepuhan Banten Kidul di Banten, serta di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Lumbung merupakan bangunan arsitektur umum dalam tradisi masyarakat agraris di Indonesia. Tiap wilayah budaya punya lumbung atau lumbuang. Ada rangkiang di Minangkabau, tongkonan di Toraja, serta leuit di Banten dan Pasundan.  Namun, berbeda dengan di tempat lain, dou (orang) Bima juga menjadikan uma lengge sekaligus sebagai rumah tinggal. Ada dua suku cikal-bakal masyarakat Bima; suku Mbojo sebagai yang terbesar dan suku Donggo yang menghuni kawasan tinggian pegunungan. 

Selain mendapat pengaruh budaya dari suku-suku lain di Pulau Sumbawa, Bima juga mendapat penga ruh budaya Bugis-Makassar dari Sulawesi Selatan, bahkan pengaruhbudaya Jawa di masa Majapahit pada abad ke-14 Masehi. 

Pengaruh ini menghasilkan bentuk masyarakat Bima modern yang kini mendiami kawasan administratif Kota Bima dan Kabupaten Bima. Terkait rumah tinggal, masyarakat Bima sedikitnya mengenal dua rancang bangun arsitektur  tradisional yang khas, yakni uma panggu atau rumah panggung sebagaimana banyak terdapat di kawasan pesisir dan pantai, serta uma lengge.

Dalam Bahasa Mbojo, uma berarti ‘rumah’, dan lengge mengacu pada bentuk ’tinggi dan mengerucut’. Jadi, uma lengge adalah rumah yang (atapnya) tinggi mengerucut. Namun, orang Donggo melafalkan kata lengge sebagai leme. 

Maka orang Donggo menyebut lumbung sekaligus rumah yang ditempatinya itu sebagai uma leme. Bedanya, atap uma leme tampak lebih runcing daripada atap uma lengge. Namun, tradisi di Bima juga mengenal jompa, bangunan lain di pekarangan warga yang (umumnya) tinggal di rumah panggung, dan dikhususkan sebagai lumbung (bukan untuk tempat tinggal) penyimpan hasil panen dan bahan pangan.


Tiga tingkat

Hasil eksplorasi Tim Ekskursi Uma Lengge oleh kelompok mahasiswa arsitektur Universitas Indonesia pada 2017  diterbitkan sebagai buku berjudul Bima: Antara Padi dan Arsitektur yang dipamerkan dengan tajuk sama pada 9–20 Januari 2016 di Museum Nasional, menyebut uma lengge berawal dari lege, gubuk beratap ilalang yang ditempatkan di atas pohon besar. Untuk naik-turun, lege dilengkapi range atau tangga bambu.

Di lege ini , nenek moyang orang Bima dulu diperkirakan tinggal seusai periode tinggal di gua dan celah tebing pinggir sungai. Lege pula yang menginspirasi nenek moyang orang Bima membangun uma lengge.

Kata lengge juga berarti ‘alas’ yang diletakkan di atas kepala saat orang hendak menjunjung barang. Filosofi ini sesuai bentuk ‘alas’ uma lengge yang seperti menopang bagian utama bangunan yang bentuknya mengerucut seperti limas, seperti komposisi barang bawaan yang biasa dijunjung di atas kepala kaum wanita Bima.

Secara keseluruhan, uma lengge berbentuk kerucut setinggi 5 m sampai 7 m, bertiang 4 dari bahan kayu, beratap alang-alang yang menutupi tiga perempat bagian rumah sebagai dinding. 

Memiliki pintu masuk di bagian bawah atap, terdiri atas atap rumah (butu uma) dari alang-alang, langit-langit (taja uma) dari kayu lontar, serta lantai tempat tinggal dari kayu pohon pinang/kelapa. 

Bagian tiang rumah juga digunakan kayu sebagai penyangga, berfungsi sebagai penguat tiap tiang uma lengge. Lengge sendiri bukan bagian utama dari struktur uma lengge. Ia cuma empat buah perangkat kayu pipih serupa piring, berukuran masingmasing 40 cm x 40 cm. 

Lengge berfungsi sebagai alas penopang bagian utama bangunan, sekaligus sebagai penghalang/penghalau tikus atau hewan lain yang ingin naik ke uma lengge. Bagian tengah tiap lengge dilubangi, yang disusupkan tembus ke bagian atas empat tiang utama (disebut ri’i) penopang bagunan di atasnya yang berbentuk kerucut, membentuk rumah panggung. 

Dengan begitu, uma lengge sulit dinaiki atau dipanjat kecuali menggunakan range atau tangga. Di sekelilingnya dipasang papan tebal (kende) agak menonjol keluar hingga tikus pun manusia sulit menggapainya.

Secara umum, uma lengge berbentuk segitiga lancip pada bagian atas dengan panggung yang terbentuk dari empat tiang di bagian bawahnya. Dari kejauhan terlihat seperti limas atau prisma berlapis alang-alang yang rapat. Ada teras di bagian bawah dan tangga yang bersandar di sana.

Teras bagian bawah berbentuk persegi mengelilingi empat tiang utama dengan susunan pelepah pinang membentuk lantainya. Terdapat juga sebuah ekstensi lantai pada bagian utara, teras tambahan yang disebut sencaka. 

Pada teras tersandar dua tangga. Satu untuk naik ke atas teras dan sencaka, satu lagi untuk menuju pintu masuk ruang keluarga yang terdapat pada bagian dasar segitiga. Bagian segitiga ini berperan sebagai dinding sekaligus atap uma lengge, membentuk ruang dalam yang terbagi jadi dua lantai. Lantai bagian bawah yang lebih luas menjadi ruang untuk penghuni rumah beraktivitas, sementara ruang atasnya sebagai lumbung penyimpan hasil ladang.

Terbuat dari kayu, bambu, rumbia atau ilalang sebagai bahan atap dan dindingnya, butuh keahlian khusus untuk membangun uma lengge yang bangun arsitekturnya sederhana, tapi mengandung nilai artistik tinggi.

Berdasarkan adat, tiap uma lengge dibangun gotong royong. Dimulai dengan peletakan batu fondasi, dilanjut pendirian empat tiang utama yang disebut ri’i. Konstruksi dasar yang hanya menggunakan batu dan tiang ini membuat uma lengge tahan guncangan gempa.

Pada ri’i terdapat sebuah penopang yang digunakan untuk meletakan nggapi, yaitu balok yang membentuk bagian teras. Nggapi diikat dengan balok tersebut untuk memperkukuh bagian panggung dan disambungkan ke ri’i. 

Ri’i yang telah berdiri dihubungkan dengan nggapi melalui tjeko sehingga dapat memperkukuh pendirian ri’i. Uma lengge punya bangun struktur yang sama, terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama di bagian bawah berupa ruang terbuka tanpa dinding, dibatasi oleh keempat tiang utama (ri’i) yang umumnya dibentuk menjadi bale-bale. 

Ruang terbuka ini sebagai tempat istirahat, tempat belajar keluarga, bertenun, atau ruang menerima tamu dan ruang leyeh-leyeh antartetangga. Lantai kedua dan ketiga merupakan ruang bersusun sekaligus bagian dalam dari kerucut limas yang membentuk uma lengge . 

Lantai kedua yang berada di sebelah bawah berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur keluarga. Lantai tiga atau tingkat teratas di pucuk uma lengge digunakan sebagai lumbung.


Domain perempuan

Luas uma lengge bervariasi dari 2 x 2 meter hingga 4 x 5 meter, dengan tinggi 5–7 meter. Atapnya yang mengerucut membuat bangunan tak bocor oleh air hujan walau dindingnya hanya dari daun rumbia atau ilalang.

Ruang dalam punya sirkulasi udara yang lancar, suhunya stabil, hingga mampu meminimalkan terjadinya pembusukan pada bahan pangan. Karena itu, turun-temurun uma lengge jadi tempat tinggal sekaligus lumbung ideal dan efektif untuk menabung hasil panen. 

Memiliki uma lengge menjadi satu keharusan bagi laki-laki Bima yang sudah menikah dan jadi kepala rumah tangga. Tradisi ini tak membedakan kasta. Siapa ulet dan rajin bekerja, bisa punya uma lengge.

Kepala rumah tangga berkewajiban mengisi lumbung. Namun, cuma perempuan yang boleh ambil padi atau hasil panen lain yang disimpan di dalamnya. Begitu aturnya karena kaum perempuan atau para ibulah yang tahu seberapa besar kebutuhan keluarga sehari-hari, dan sesuai kebutuhan pula si ibu mengambil simpanan keluarganya di dalam lumbung di ruang atas uma lengge.

Lantai dua dan tiga umumnya tak berhubungan. Untuk keluar-masuk, tiap lantai punya pintu masing-masing, yang dibangun di sisi dinding limas. Kadang pintu masuk dibangun di lantai dasar ruang keluarga. 

Untuk keluar-masuk, digunakan range/tangga kayu/bambu, yang digunakan akan ditarik lagi, disimpan di tempat aman, untuk menghindari aksi pencurian atau ada tamu tak  diundang masuk ke dalam rumah.

Daun pintu uma lengge juga difungsikan sebagai alat bahasa atau perangkat sandi dalam berkomunikasi dengan para tetangga dan tamu. Jika daun pintu lantai pertama dan kedua ditutup, itu isyarat bahwa pemilik rumah sedang berpergian, tapi tak jauh dari rumah. 

Jika semua pintu tertutup, berarti pemilik rumah sedang berpergian jauh dalam tempo relatif lama. Sebentuk tradisi lisan yang diisyaratkan dalam ‘tata krama buka dan tutup pintu rumah’. 

Kearifan dan pembelajaran yang coba ditunjukkan dan dihidupkan para leluhur, bahwa saat meninggalkan rumah sebaiknya juga meninggalkan pesan pada warga sekitar, meski hanya dengan kebiasaan dan bahasa (isyarat) buka-tutup daun pintu. Dengan begitu, calon tamu dan tetangga tahu ada-tidaknya penghuni rumah saat itu. (M-4)

Baca Juga

Unsplash/ Azamat Kinzhitayev

Kurang Dikenal, 5 Kota Asia ini Menawarkan Surga Wisata

👤MI Weekend 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 16:05 WIB
Almaty, Harbin, hingga Bacolod adalah kota-kota indah di Asia yang belum begitu populer bagi turis...
AFP/LUIS ACOSTA

Cek Fakta Baru: Bulan lebih Kaya Air dari yang Diperkirakan

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 15:40 WIB
Kondisi ini meningkatkan peluang astronot dalam misi luar angkasa di masa depan dapat menemukan sumber air dan mungkin bahkan bahan bakar...
 ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/

KEMBALI20; Melihat Bali dengan Cara Berbeda

👤Abdillah Marzuqi 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 15:25 WIB
Helatan yang bakal diadakan 29 Oktober – 8 November itu sebagai perwujudan dedikasi Bali dalam industri seni...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya