Sabtu 10 Oktober 2020, 05:30 WIB

SIAGA BANJIR DI TENGAH PANDEMI

PUTRI ANISA YULIANI | Fokus
SIAGA BANJIR DI TENGAH PANDEMI

ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo (kanan) berbincang dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut, dalam beberapa bulan ke depan Jakar ta akan menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, pandemi covid-19 dan musim hujan dengan potensi banjir.

“Dua tantangan ini harus kita hadapi ber sama-sama. Kita tidak punya pilihan un tuk memilih salah satu. Dua-duanya harus kita hadapi,” kata Anies dalam apel siaga banjir bersama Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya di Jakarta, Rabu (30/9) lalu.

Salah satu persiapan yang telah dilaksanakan dalam menghadapi dua tantangan tersebut ialah mempersiapkan lokasi pengungsian banjir yang memenuhi protokol kesehatan, tujuannya tidak lain agar lokasi pengungsian korban banjir tidak menjadi klaster covid-19.

Anies menjelaskan salah satu persiapannya ialah penambahan jumlah tenda pengungsian demi menerapkan physical distancing atau jaga jarak sosial bagi para penghuni lokasi pengungsian.

Selain itu, petugas juga akan di turun kan untuk mengawasi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan tetap menjaga jarak agar potensi penularan covid-19 bisa ditekan.

“Tempat pengungsian mengikuti protokol kesehatan, jadi di tempat-tempat yang biasanya hanya dipasang satu tenda, maka kali ini tendanya harus lebih banyak lagi,” kata Anies.

Ia pun menyebut ada tiga kunci keberhasilan penanganan banjir di ibu kota, yakni siaga, tanggap, dan galang. Ia mengatakan tiga kunci itu harus dilakukan memasuki musim hujan yang diprediksi akan dimulai pada Oktober di wilayah DKI Jakarta.

Anies mengatakan seluruh komponen dari perangkat pemerintah daerah, TNI, dan Polri bisa bahu-membahu untuk menangani banjir pada tahun ini. Ia mengaku dengan keterlibatan semua pihak, dirinya berharap banjir tahun ini dapat diatasi dengan baik.

Anies mengatakan sebelumnya saat deras lebat di wilayah DKI Jakarta dan ada nya sejumlah genangan di wilayah Ibu Kota dapat ditangani dengan baik. Ia berharap hasil serupa juga terjadi saat musim penghujan nantinya.

“Mudah-mudahan ke depan kita terus di berikan kemudahan untuk bisa mengendalikan ini semua. Kita berikhtiar dan sama-sama berdoa dalam ikhtiar ini ada selalu kekuasaan Allah.

Semoga kita semua dibebaskan dari ancaman banjir,” ujarnya.


Cuaca ekstrem


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan prakiraannya bahwa musim hujan kali ini bisa jadi lebih ekstrem daripada sebelumnya akibat fenomena La Nina.

Curah hujan yang turun bahkan bisa lebih besar 40% dibanding musim hujan sebelumnya.

“Pertama, tentu kita berdoa supaya Jakarta ini bisa selamat dan tidak terkena banjir yang seperti awal tahun ini. Namun, tentu kami tidak hanya berdoa te tapi ada ikhtiar yang terus kami upayakan,” kata Sekretaris Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Dudi Gardesi, Senin (5/10).

Upaya yang dilakukan saat ini salah sa tunya ialah dengan program Grebek Lumpur. Melalui langkah ini, Dinas SDA DKI dan seluruh Suku Dinas SDA mengerahkan alat-alat beratnya dan juga petugas Satgas SDA untuk membersihkan sedimentasi lumpur di saluran-saluran, danau, kali, embung, dan waduk.

“Pembersihan saluran dari sampah dan lumpur dimasifkan di seluruh wilayah terutama yang rawan genangan,” jelas Dudi.

Grebek Lumpur dimaksudkan untuk menambah kapasitas tampungan ruang terbuka biru, termasuk saluran-saluran air.

Di sisi lain, untuk pembebasan lahan normalisasi sungai, pembebasan lahan waduk baru bisa diselesaikan tahun depan karena adanya pandemi membuat Pemprov DKI Jakarta harus merealokasi anggaran ke penanggulangan covid-19, pembe rian bantuan sosial, dan pemulihan ekonomi.

Selain itu, Dinas SDA juga memaksimalkan pengurangan genangan dengan membangun sumur-sumur resapan atau drainase vertikal. Pompa-pompa juga disiagakan selama musim hujan ini agar siap melakukan tugasnya membuang genangan yang membanjiri permukiman warga.

Sementara itu, di lapangan terdapat 7 ribu lebih petugas Satgas yang siap untuk mengendalikan genangan di berbagai lokasi.

“Ada petugas yang siap standby saat hujan deras. Petugas pintu-pintu air juga selalu standby. Kita juga berkoordinasi erat dengan petugas Bendung Katulampa Bogor untuk ketinggian muka air Kali Ciliwung yang terkait dengan air kiriman dari hulu,” kata Dudi.

Sementara un tuk menangani banjir rob, pihaknya akan berkoordinasi dengan para pengembang perumahan di wilayah pesisir Jakarta.

“Kan untuk tanggul-tanggul pantai tidak semuanya tanggung jawab Pemprov DKI. Ada pula yang menjadi tanggung jawab pengembang perumahan. Nah, itu juga perlu keterlibatan mereka dalam menangani banjir rob,” tegasnya.

Dalam kesem pat an terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Ja karta Sabdo Kurnianto mengatakan pihaknya mewaspadai dua dasarian cuaca yang diprediksi akan memiliki curah hujan ekstrem. Prediksi itu berdasarkan prakiraan BMKG.

“Ada dua dasarian yang dimungkinkan pada musim hujan tahun ini akan dilanda hujan ekstrem, yakni dasarian pertama November dan dasarian ketiga Januari,” kata Sabdo.

Pada dasarian pertama November diprediksi hujan ekstrem akan turun baik di hulu, yakni daerah Bogor dan sekitarnya dan juga di daerah Jakarta, sementara para dasarian ketiga Januari diprediksi menjadi puncak musim hujan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI M Insyaf menegaskan pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada perangkat daerah agar mengungkapkan kepada masyarakat di 82 kelurahan yang rawan tergenang banjir.

Masyarakat diimbau untuk mengantisipasi kejadian banjir dan meminimalisasikannya dengan tidak membuang sampah di saluran dan sungai.

“Ke-82 kelurahan itu ialah kelurahankelurahan yang didata berada di sepanjang aliran Kali Ciliwung,” kata Insyaf.

Di sisi lain, pihaknya sampai saat ini menunggu instruksi gubernur berisi pe netapan daftar lokasi posko-posko peng ungsian. Sebab, di masa pandemi co vid-19 ini, BPBD harus menyiapkan posko pengungsian dengan jumlah dua kali lipat sampai tiga kali lipat lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya. Hal itu dimaksudkan agar di lokasi mengungsi, para warga tetap bisa menjalakan protokol kesehatan. (Faj/J-1)

Baca Juga

ANTARA/DEDHEZ ANGGARA

Terima Nasib

👤MI/AGUNG WIBOWO 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:55 WIB
TIDAK adanya sentuhan teknologi dalam produksi garam tradisional menyebabkan rendahnya kualitas...
ANTARA /YUSUF NUGROHO

Potret Suram Petani Garam

👤Mohammad Ghazi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:45 WIB
STOK garam rakyat di sejumlah sentra produksi garam Kabupaten Pamekasan, Madura, hingga pertengahan Oktober ini masih menumpuk di sejumlah...
 (ghozi/MI)

Butuh Sentuhan Teknologi

👤(UL/PO/E-3) 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:35 WIB
SALAH satu penyebab rendahnya mutu garam dalam negeri ialah proses produksi yang masih dilakukan secara tradisional dan ketidakmampuan para...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya