Jumat 09 Oktober 2020, 16:50 WIB

Tokoh Harus Beri Contoh Baik bukan Memprovokasi Massa

Tokoh Harus Beri Contoh Baik bukan Memprovokasi Massa

Dok. Istimewa
Pakar psikologi politik Prof Dr Hamdi Muluk MSi

 

PAKAR psikologi politik Prof Dr Hamdi Muluk MSi mengharapkan seorang tokoh harusnya memberikan contoh yang baik, bukan malah melakukan provokasi terhadap massa dengan menyebar hoaks.

"Kita berharap tokoh-tokoh ini bersikap seperti negarawan, memberikan contoh-contoh yang baik kepada masyarakat, mementingkan negara dulu. Kalau dia sendiri tukang kompor ya repot, apalagi 'follower'-nya banyak, umatnya banyak,” ujar Hamdi di Jakarta, Jumat (9/10)

Apalagi, kata Hamdi, provokasi ini biasanya terkait dengan dua hal utama, yakni hoaks atau 'fake news', kemudian dilanjutkan ke teori konspirasi.

Menurut dia, berita-berita bohong ini adalah yang paling sering, baru kemudian teori konspirasi, jika keduanya digabungkan untuk kemudian digiring ke arah provokasi. Dia menuturkan bahwa masyarakat harusnya disadarkan, diajak diajak untuk berpikir cerdas agar tidak cepat percaya hoaks, tidak cepat percaya teori-teori konspirasi. Ia mengingatkan pentingnya mengecek dulu kebenaran dari berita-berita yang ada, karena dengan teknologi sekarang hal tersebut bisa dimuat degan mudah.

 


Baca juga:  Otto Hasibuan Terpilih Jadi Ketua Umum Peradi 2020-2025

 

"Bisa saja itu diedit sedikit-sedikit kemudian dimasukkan ke grup WA, ke medsos. Covid sekarang juga gitu, anjuran pemerintah untuk pakai masker dan jaga jarak mereka malah bilang ’Covid itu tidak ada, konspirasi, akal-akalan China dan Yahudi biar kita wajib vaksin’, katanya. Kan seperti itu berita yang beredar," ujar Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) itu.

Untuk itu, dia menyarankan agar informasi yang ada itu diimbangi untuk menangkalnya.

Karena itu, Koordinator Program Master dan Doktoral di Fakultas Psikologi UI ini menyarankan bahwa literasi digital penting untuk dilakukan dini, sejak dari TK.

Karena, katanya, media sosial ini sangat susah sekali dikontrol jika dibandingkan dengan media-media yang lain. Karena sekarang medan pertempurannya ialah di internet, di media sosial.

"Kominfo, Badan Siber, BNPT, polisi dan badan-badan keamanan itu harus melakukan monitoring dan sebisa mungkin ditangkal meskipun memang sulit. karena memang ini tantangan-nya sekarang. Nah, Kominfo dan Badan Siber perlu untuk memantau ini, mana yang perlu dimatikan dan seterusnya," tutur dia. (OL-15)

Baca Juga

ANTARA/Asep Fathulrahman

Ada Wewenang Diskresi Kepala Daerah di UU Cipta Kerja

👤Insi Nantika Jelita 🕔Senin 26 Oktober 2020, 10:08 WIB
UU Ciptaker juga mengamanatkan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar mempercepat penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah...
ANTARA/Kemal Tohir

Polri Tegaskan Penangkapan Sugi Nur Sesuai Prosedur

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Senin 26 Oktober 2020, 09:07 WIB
Sugi Nur ditangkap lantaran dianggap telah menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan yang bermuatan SARA dan...
Dok MI

Psikolog Sebut Polisi Rentan Salah Gunakan Narkoba

👤Siti Yona Hukmana 🕔Senin 26 Oktober 2020, 08:34 WIB
Tuntutan menuntaskan kasus dengan cepat bisa membuat kesehatan jiwa polisi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya