Jumat 09 Oktober 2020, 19:45 WIB

Keniscayaan Penta-helix Keolahragaan

Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga FKOR Universitas Sebelas Maret Surakarta | Opini
Keniscayaan Penta-helix Keolahragaan

Dok.pribadi
Prof. Dr. Agus Kristiyanto

SEBULAN sudah berlalu bila melihat tema besar dan lengkap peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2020; “Sport Science, Sport Tourism, Sport Industry: untuk Bangkit dan Bergerak”. Penetapan tema Haornas 2020 tersebut semakin mempertegas arah kebijakan pemerintah yang berperspektif multidimensional, dalam memberhasilkan arah pembangunan keolahragaan nasional. Keolahragaan memang tak terbatas pada urusan spesifik ke-cabangolahragaan, melainkan berdimensi sangat luas dan berkonfigurasi.

Keolahragaan merupakan lukisan besar yang tersusun oleh aneka warna yang saling mengisi. Terdapat warna dominan dalam lukisan itu, namun keindahan warna dominannya tak dapat tampak indah menawan, jika tidak ditambahkankan warna-warna lain.  Keolahragaan harus bangkit dan bergerak yang dipersyarati sentuhan warna sport science, sport tourism, dan sport industry. Bangkit dari keterpurukan, bangkit dari inferioritas, bangkit dari kungkungan jiwa pesimistik. Bergerak berenergi, berakselerasi menuju kejayaan dan kesejahteraan.

Kejayaan dan kesejahteraan adalah dua inti fungsi genetika dalam semesta wujud lukisan pembangunan keolahragaan. Kejayaan keolahragaan setidaknya telah lama diilhami oleh semangat citius (lebih cepat), altius (lebih tinggi), fortius (lebih kuat). Jaya artinya memiliki modal kompetitif, unggul, dan berdaya saing. Kejayaan menghasilkan kekuatan intangible (non-material) berupa nasionalisme, jiwa patriot, rasa bangga dan berbagai nilai energi spirit lainnya. 

Kesejahteraan lebih memfokus pada nilai pembangunan olahraga sebagai instrumen untuk menciptakan nilai kesehatan, kedamaian dan kemakmuran. Kesehatan diwujudkan melalui nilai pragmatis olahraga oleh masyarakat pada umumnya. Olahraga merupakan aktivitas sistematis yang menyehatkan secara fisik, mental, dan sosial. Kedamaian merupakan buah 'lezat' dari tegaknya sportivitas dan fair-play, sedangkan kemakmuran adalah nilai ekonomis yang terkandung dalam bentuk konsekuensi logis nilai barang, jasa, serta aneka multiplier effect yang ditimbulkan dari aktivitas atau event olahraga.

Penta-helix keolahragaan

Sudut pandang penta-helix merupakan keniscayaan untuk mengurai bagaimana kebangkitan dan pergerakan olahraga dapat terakselerasi, terutama oleh peran nyata sport science, sport tourism, dan sport industry. Penta-helix bukan sekadar mendeskripsikan adanya lima organ yang meliputi pemerintah, pengusaha, akademisi, komunitas, dan media. Penta-helix dalam keolahragaan lebih tepatnya merupakan jalinan fungsional yang melibatkan kelima unsur tersebut yang saling mengakselerasi.

Putaran akselerasi yang mensinergis menjadi tantangan tersendiri. Performa jalinan kelima unsur tersebut selama ini sudah ada, tetapi belum merupakan jalinan sistemik dan sistematis, sehingga outcome apa pun cukup sulit mewujud secara optimal. Tumpang tindih dalam peran, segmentasi peran, dan masih kental kesan siapa saja biasa melakukan apa saja, bahkan siapa saja melakukan hal yang sama. Penta-helix keolahragaan menjadi keniscayaan; pertama, pemerintah (pemerintah pusat/pemrov/pemkot/pemkot) jelas berperan di lini birokrat keolahragaan yang lebih fokus pada 'tangan gagah perkasa' dalam memenuhi standar nasional keolahragaan. 

Pencapaian standar nasional keolahragaan, meliputi; standar kompetensi tenaga keolahragaan, standar isi program penataran/pelatihan tenaga keolahragaan, standar sarana dan prasarana olahraga, standar pengelolaan organisasi keolahragaan, standar penyelenggaraan keolahragaan, dan standar pelayanan minimal keolahragaan.

Hakikat pembangunan olahraga adalah mengupayakan standar nasional di seluruh wilayah NKRI. Bukan tuntutan yang berlebihan, karena standar tersebut sebenarnya adalah tuntutan minimal sebagai prasyarat agar olahraga dapat tumbuh dan berkembang menuju pada kemajuan dan daya saing, baik untuk lingkup olahraga prestasi, olahraga pendidikan, maupun olahraga rekreasi. 

Pada sisi yang lain pemerintah memiliki kewajiban mutlak sebagaimana tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang telah diatur pada Pasal 12, Pasal 13, dan Pasal 15 UU Sistem Keolahragaan Nasional. Bahwa pemerintah berkewajiban memberikan dukungan dana, ruang terbuka, dan tenaga keolahragaan guna mewujudkan pembangunan olahraga. Kewajiban inti pemerintah ternyata 'hanya' fokus pada tiga hal tersebut.

Kedua, pengusaha sesuai perannya memiliki peluang berkembang untuk masuk ke jalinan yang bersimbiosis komensalisme atau mutualisme keolahragaan. Pengusaha memiliki permasalahan tersendiri yang tidak boleh selalu dianggap sebagai pihak yang kuat permanen untuk terus 'dipaksa' menjadi orang tua asuh. Sungguh menjadi harapan banyak kalangan bahwa olahraga ke depan sebaiknya masuk dalam konten inti program corporate social responsibility (CSR). Olahraga bisa menjadi promosi sosial jangka panjang bagi perusahaan.

Keran regulasi sport industry dan sport tourism dibuka lebih leluasa untuk memberikan ruang merdeka bagi para pengusaha kreatif. Jalinan kemitraan  antar stakeholder industri kreatif olahraga yang efektif untuk  menuju kemandirian dan daya saing keolahragaan. Ada banyak peluang untuk industri sarana dan prasarana olahraga, maupun industri layanan jasa dan event olahraga pendidikan. Kebijakan pengembangan industri kreatif olahraga sebagai bagian integral dari industri nasional dalam membuka lapangan kerja serta peluang usaha yang memiliki manfaat internal maupun eksternal dari dimensi keolahragaan.

Pariwisata olahraga (sport tourism) dikembangkan ke depan dalam bentuk komodifikasi. Komodifikasi olahraga untuk keberlanjutan dan daya saing pariwisata adalah proses sintesis yang mengawinkan antara sport dan tourism. Hasil perkawinan tersebut melalui formula yang tepat akan menghasilkan varian baru sport tourism yang memiliki sifat-sifat komersial dari sifat yang dibawa oleh olahraga dan popularitas pernik daya tarik destinasi pariwisata. Ada dua model komodifikasi olahraga yang perlu ditelaah, yakni;  (1) Model Sport and destination, dan (2) Model Sport and MICE (Agus Kristiyanto, 2019).

Ketiga, unsur akademisi olahraga merupakan pihak profesional yang paling bertanggung jawab terhadap kontribusi sport science. Hanya saja riset keolahragaan tidak boleh tersekat oleh persoalan akademis yang memiliki nilai pragmatis lemah. Ilmuwan olahraga bekerja melalui riset-riset terbaru untuk dipublikasikan, dikomersialisasikan, dan dihilirisasikan. Tiga tagihan ilmuwan agar olahraga terpupuk dan terawat melalui cara modern dari natural sciences olahraga maupun social science olahraga.

Keempat, unsur komunitas olahraga merupakan habitat dan sektor riil keolahragaan yang memiliki segmentasi. Terdapat komunitas olahraga prestasi, olahraga rekreasi, dan olahraga pendidikan yang masing-masing membutuhkan menu tersendiri secara khas. Ekspektasi, potensi, kendala setiap komunitas menjadi hal terpenting untuk dipahami oleh keempat unsur penta-helix yang lain. Persoalan obyektivitas sering menjadi masalah tatkala seluruh unsur berdiri di unsur komunitas ini. 

Kelima,  unsur media bukan sebatas pada pemberitaan tentang event olahraga, tetapi juga terkait dengan olahraga secara luas, yakni makna olahraga sebagai segala sesuatu aktivitas yang secara sistematis untuk mengembangkan potensi fisik, mental, sosial. Literasi melalui media massa maupun media sosial menjadi kebutuhan primer masyarakat di dunia nyata maupun bagi para warganet (netizen).

Semakin jelas bahwa untaian jalinan antar berbagai unsur harus diperkuat, agar nilai kebangkitan dan pergerakan keolahragaan tersebut muncul dan mendahsyat. Muncul sebagai sesuatu yang lebih menjayakan bangsa melalui prestasi olahraga yang membanggakan, meningkatkan harkat dan juga martabat. Mendahsyat sebagai reservoir dan reaktor energi bagi 'ledakan' kesejahteraan masyarakat yang makin sehat (fisik, mental, sosial), damai, dan makmur melalui jalinan sistematis yang sistemik.

Kebangkitan dan pergerakan olahraga adalah sebuah terminal utama yang akan dituju. Harus jelas kenapa dituju, dengan kendaraan apa sebaiknya dituju, dan dengan cara apa menujunya. Sesuai tema Haornas 2020, penta-helix keolahragaan sepakat mensinergikan sport science, sport tourism, dan sport industry untuk berkontribusi bagi kebangkitan dan pergerakan olahraga ke depan. 

Baca Juga

Dok: Ist

Satu Jam Bersama Jusuf Kalla di Vatikan

👤Padre Markus Solo Kuweta, Anggota Dewan Penasihat Kepausan Bidang Dialog Antar Umat Beragama 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 07:33 WIB
Sebuah pertemuan indah dengan banyak pesan eksplisit dan implisit yang pasti akan selalu membekas di dalam hati dan ingatan. Semua...
Dok. Pribadi

Belajar Merasakan Denyut Nadi Masyarakat

👤Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 03:05 WIB
Dalam progam ini, anak-anak pun diajak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin tidak pernah mereka lakukan di...
Dok. Pribadi

Mendiskualifikasi sang Petahana

👤A Ahsin Thohari Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 03:00 WIB
BADAN Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) telah memberikan rekomendasi kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mendiskualifikasi enam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya