Kamis 08 Oktober 2020, 14:33 WIB

Pilpres AS, Pence-Harris Debat dari Korona hingga Rasisme

Nur Aivanni | Internasional
Pilpres AS, Pence-Harris Debat dari Korona hingga Rasisme

AFP/Robyn Beck
.

 

MIKE Pence dari Partai Republik dan penantang dari Partai Demokrat Kamala Harris berselisih tentang penanganan pandemi virus korona baru atau covid-19 di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Mereka beradu argumentasi selama debat wakil presiden di University of Utah, Salt Lake City, Rabu (7/10).

Dalam debat itu, Harris melakukan serangan pada sejumlah topik, mulai perawatan kesehatan hingga ekonomi serta perubahan iklim dan kebijakan luar negeri. Pence membela catatan pemerintahan Republik yang hampir berusia empat tahun.

"Rakyat Amerika telah menyaksikan kegagalan terbesar dari pemerintahan presiden mana pun dalam sejarah negara kita," kata Harris.

Menanggapi itu, Pence membela upaya pemerintah AS untuk memerangi penyakit tersebut, termasuk keputusan Trump pada akhir Januari untuk membatasi perjalanan dari pusat pandemi di Tiongkok.

"Saya ingin rakyat Amerika tahu bahwa sejak hari pertama, Presiden Donald Trump telah mengutamakan kesehatan Amerika," katanya.

Saat debat, kedua kandidat dipisahkan oleh pelindung plexiglass. Maklum, pandemi korona telah merenggut 210.000 nyawa orang Amerika dan menghancurkan ekonomi.

Dalam debat, Harris menyerang pemerintahan Trump karena mencoba membatalkan undang-undang perawatan kesehatan Affordable Care Act di tengah pandemi.

Ia juga menyerang Trump karena dilaporkan membayar US$750 setahun dalam pajak penghasilan federal sebagai presiden.

"Ketika saya pertama kali mendengarnya, saya benar-benar berkata, 'Maksud Anda US$750.000?'" kata Harris merujuk pada penyelidikan New York Times. "Dan itu seperti, 'Tidak US$750'," tambahnya.

Pence pun berusaha melawan serangan Harris dengan mengalihkan fokus ke ekonomi dan kebijakan pajak. "Pada hari pertama (menjabat), Joe Biden akan menaikkan pajak Anda," katanya.

Harris kemudian menanggapi dengan mengatakan bahwa Biden berjanji untuk tidak menaikkan pajak bagi siapa pun yang berpenghasilan kurang dari US$400.000 setahun.

Seperti dalam debat presiden pekan lalu, debat cawapres juga didominasi oleh pembahasan tentang pandemi dan kemerosotan ekonomi akibat pandemi.

Saat ditanya tentang vaksin potensial, Harris mengatakan dia hanya akan mempercayai kata-kata para ilmuwan, bukan Trump.

"Jika dokter memberi tahu kami bahwa kami harus meminumnya, saya akan menjadi yang pertama meminumnya. Tapi jika itu Donald Trump, saya tidak akan meminumnya," katanya.

Pence pun membalasnya dengan menuduh Harris merusak kepercayaan publik terhadap vaksin. "Saya pikir itu tidak masuk akal," katanya. "Berhenti bermain politik dengan kehidupan orang-orang," tambahnya.

Selain itu, Harris juga menyerang Pence terkait masalah rasisme. Dia mengkritik Trump karena menolak kesempatan untuk mengecam supremasi kulit putih pada debat pekan lalu dengan Biden.

Menanggapi itu, Pence menuduh media mengambil kata-kata Trump di luar konteks dan mengatakan presiden telah berulang kali menyangkal kelompok rasis. (CNA/OL-14)

Baca Juga

Dok. Istana Kepresidenan

AS Nilai Indonesia Punya Peran Vital di Asia Tenggara

👤Andhika Prasetyo 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 15:36 WIB
Sehingga, AS ingin memiliki hubungan yang lebih kuat dengan Indonesia di masa mendatang. Komitmen itu ditegaskan Menlu AS Mike Pompeo saat...
Dok. Kemenlu RI

Indonesia-AS Perkuat Kerja Sama di Masa Pandemi

👤Faustinus Nua 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 13:53 WIB
Kedua negara sepakat untuk memperkuat kerja sama yang bertujuan mempercepat pemulihan ekonomi. Adapun kerja sama menyasar berbagai sektor,...
Antara

Pompeo Puji Sikap Indonesia Hadapi Klaim Tiongkok di LCS

👤Faustinus Nua 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 13:30 WIB
MENLU AS AS Mike Pompeo mengapresiasi sikap tegas Indonesia dalam menghadapi tekanan Beijing atas klaimnya terhadap Laut Cina Selatan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya