Kamis 08 Oktober 2020, 07:57 WIB

Pentingnya Mitigasi Bencana Alam Berbasis Ekosistem

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Pentingnya Mitigasi Bencana Alam Berbasis Ekosistem

ANTARA FOTO/ Muhamad Ibnu Chazar
Ilustrasi: upaya rehabilitasu sungai konsep ekoparian sebagai salah satu upaya mitigasi bencana banjir di Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta

 

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan rapat koordinasi penanganan covid-19 bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Rabu (8/10). Pada rapat trsebt, BNPB juga menyampaikan potensi ancaman bencana alam khususnya di Provinsi Sulawesi Utara.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Evaluasi dan Monitoring Risiko Bencana BNPB Abdul Muhari menjelaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara perlu waspada dengan adanya potensi megathrust yang ada di sekeliling Bumi Minahasa tersebut.

“Provinsi Sulawesi Utara perlu waspada dengan potensi megathrust yang ada di sekeliling wilayahnya, antara lain Megathrust Sulawesi Utara, Megathrust Sangihe dan Megathrust Halmahera,” kata Abdul dalam keterangannya, Kamis (8/10).

Guna menghadapi potensi bencana yang ada, Abdul mengungkapkan mitigasi bencana berbasis ekosistem menjadi hal yang sangat penting, karena dapat digunakan untuk waktu jangka panjang.

“Jika sekedar membangun infrastruktur, hal itu hanya mengurangi dampak kerusakan akibat bencana yang akan terjadi secara sementara. Tapi jika kita melakukan mitigasi berbasis ekosistem seperti misalnya membangun jalur evakuasi dari topografi alami dan vegetasi, hal ini dapat digunakan untuk waktu jangka panjang sekaligus memelihara ekosistem alam,” tutur Abdul.

Baca juga: RI Belajar dari Jepang Mitigasi Gempa Megathrust

Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan munculnya fenomenan La Nina di awal Oktober pada level moderate seiring dimulainya musim hujan pada Oktober-November. Hal ini berpotensi menyebabkan peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

"Dengan adanya fenomena La Nina moderate ini diprediksi akan ada peningkatan curah hujan mulai bulan Oktober sampai November dan berdampak di hampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali di Sumatra. Oleh karena itu saya mengajak semua untuk bersiap, karena ini sudah di depan mata,” kata Dwikorita

Ia menambahkan catatan historis menunjukkan La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan bulanan di Indonesia 20% hingga 40% di atas normalnya, bahkan bisa lebih. Namun demikian, dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada bulan Oktober-November 2020, diprediksi ada peningkatan curah hujan bulanan dapat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatra.

"Pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara dan Papua," pungkasnya.(OL-5)

Baca Juga

DOK KOMINFO

Anak Muda Berperan Besar Satukan Indonesia

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 13:26 WIB
Sejumlah video unjuk bakat beserta kreatifitas anak muda menunjukkan betapa hebatnya budaya bangsa...
MI/Alexander P Taum

Wamenag Minta Warga Wajib Rawat Kebhinekaan dan Jaga Indonesia

👤Alexander P Taum 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 12:44 WIB
Berbicara dalam kesepatan tatap muka bersama FKUB Kabupaten Lembata serta keluarga besar Kementerian Agama, Zainut menegaskan Indonesia...
ANTARA/FB Anggoro

253 Petugas Medis Wafat Akibat Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 12:35 WIB
Dokter dan tenaga kesehatan lainnya merupakan garda terdepan saat menghadapi pandemi covid-19. Perlindungan terhadap mereka juga harus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya