Kamis 08 Oktober 2020, 08:00 WIB

Pneumonia Mirip Gejala Covid-19, Kenali Gejalanya pada Anak

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
Pneumonia Mirip Gejala Covid-19, Kenali Gejalanya pada Anak

MI
Infografis

 

SELAMA masa covid-19, banyak sekali orangtua yang ketakutan memeriksakan anaknya ke dokter. Padahal skrining awal dengan memeriksa gejala-gejala klinis sangat penting, terlebih dalam mengantisipasi munculnya pneunomia pada anak.

Pasalnya, penyakit radang paru-paru ini dapat menyebabkan kematian jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat. Gejalanya pun mirip dengan keluhan pasien covid-19.

"Faktor umur sangat penting. Pada bayi baru lahir hingga 2 bulan penyebabnya karena kuman, pada 3 bulan hingga 5 tahun penyebabnya adalah virus sedangkan pada 5 tahun ke atas disebabkan oleh bakteri dan infeksi," beber Retno.," ucap dokter Spesialis Anak Retno Asih Setyoningrum dalam forum webinar yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Rabu (7/10).

Pneumonia adalah suatu bentuk infeksi pernapasan akut yang menyerang paru-paru karena terendam pus dan cairan, yang membuat penderitanya menjadi sulit bernapas. Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae type B (Hib) ialah penyebabnya. Riset yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan, pneumonia telah membunuh lebih dari 800 ribu bayi dan anak-anak pada 2018 atau satu anak setiap 39 detik.

Mengacu pada definisi klinis, terang Retno, suspek pneumonia akan mengalami demam, nafsu makan yang menurun, influenza, batuk hingga nafas cepat. Sehingga sulit dibedakan dengan covid-19 yang sama-sama menyerang sistem pernafasan. Bedanya penyakit ini merupakan radang paru-paru.

"Penting untuk bisa menentukan kapan pemberian antibiotik, jalani rawat inap, faktor resiko dan sebagainya. Kalau tidak ini akan menjadi bom waktu," cetusnya.

Untuk memastikan pneumonia pada anak, dokter akan memeriksa pola pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, suhu tubuh, dan mendengarkan apakah ada suara napas abnormal dari paru-paru. Dalam pemeriksaan lanjutan, akan diperlukan pencitraan dengan foto Rontgen atau juga test darah.

"Jumlah trombosit dapat dianggap menjadi indikator yang signifikan dari keparahan penyakit dari pada jumlah leukosit," pungkasnya.

Pneumonia menjadi penyebab terbanyak kematian bayi di Indonesia juga dunia, setelah diare. Untuk pencegahan, lakukanlah vaksinasi pneumococcal conjugate vaccine (PCV) yang diberikan dalam tiga kali dosis dasar dan satu kali dosis boosting. Pada anak di bawah usia 1 tahun, vaksin diberikan dengan dosis tiga kali, yaitu pada usia 2, 4, dan 6 bulan. (H-2)

Baca Juga

ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Hari ini Kasus Sembuh Covid-19 Bertambah 3.985 Orang

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 18:00 WIB
Uji pemeriksaan tersebut dilakukan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) di 265 laboratorium serta tes cepat molekuler (TCM)...
MI/Ramdani

Duduk Lama Karena Work From Home, Waspadai Muncul Wasir

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 17:29 WIB
Angka tersebut menunjukkan bahwa selama masa pandemi dan semua orang melakukan WFH masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya hanya...
AFP

Ini Penjelasan Asteroid 2018 VP1 yang Melintas Dekat Bumi

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 16:36 WIB
Pada 2 November 2020 mendatang, Asteroid 2018 VP1 akan melintas di dekat bumi pada pukul 18.33 WIB dengan jarak 0,0028 satuan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya