Kamis 08 Oktober 2020, 01:00 WIB

Kreativitas dan Terobosan Dalam Kampanye Pilkada

Felisianus Novandri Rahmat, Peminat Isu Media, Politik, Sosial. Alumnus Ilmu Komunikasi Pascasarjana UPH | Opini
 Kreativitas dan Terobosan Dalam Kampanye Pilkada

Dok.pribadi
Felisianus Novandri Rahmat

PEMILIHAN kepala daerah (pilkada) serentak kembali dilaksanakan tahun ini di sejumlah daerah di Indonesia. Sebanyak 270 daerah dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten serta 37 kota madya dipastikan akan berpartisipasi dalam meramaikan pesta demokrasi tahun ini. Masing-masing kandidat kepala daerah dan para pendukung tentunya sudah mulai sibuk memoles diri serta mempersiapkan strategi terbaik untuk menarik simpati masyarakat sehingga nanti bisa terpilih.  

Kita tentunya berharap bahwa kontestasi kali ini dapat menghadirkan pertarungan politik yang sehat dengan ide-ide dan konsep pembangunan yang cerdas. Narasi politik yang digaungkan ke ruang publik, hendaknya berkaitan dengan visi dan misi kandidat. Hal itu agar masyarakat mendapatkan edukasi politik yang baik, serta gambaran yang jelas tentang program-program para kandidat untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan masyarakat dalam memilih. 

Harapan ini muncul tidak lepas dari fenomena politik selama ini yang dianggap cenderung menghadirkan pertarungan yang tidak sehat karena narasi-narasi negatif selalu menghiasi ruang publik. Argumentasi-argumentasi politik yang dikumandangkan baik oleh para kandidat, tim sukses, relawan maupun para pendukung masing-masing kandidat dinilai lebih menjurus ke hal-hal yang tidak substantif seperti mencari kelemahan lawan politik atau memainkan isu politik identitas.

Isu politik identitas memang masih menjadi komoditi yang paling laku dalam perhelatan politik kita. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana pilkada DKI Jakarta beberapa tahun lalu, yang sangat kental dengan isu identitas. Masyarakat begitu mudah terbawa dalam perdebatan tentang isu suku, agama dan ras yang kemudian seakan menyudutkan kandidat tertentu. Sehingga tidak mengherankan jika ruang politik menjadi sangat gaduh dengan kampanye negatif yang memecah belah dan konflik pun banyak terjadi yang justru merugikan masing-masing pihak.

Kita semua pastinya tidak menginginkan fenomena politik di pilkada DKI terulang kembali pada kontestasi pilkada di beberapa daerah saat ini. Wajah panggung politik yang selama ini terlalu serius, kaku serta narasi-narasi negatif atau kampanye-kampanye hitam yang menghiasi ruang publik sudah saatnya diubah dengan hal-hal yang positif dan kreatif salah satunya melalui kampanye politik.  

Kampanye kreatif
Kampanye politik secara garis besar dimaknai sebagai suatu aktivitas politik yang bertujuan untuk memperkenalkan kandidat kepada masyarakat atau untuk menarik simpati calon pemilih. Menurut Gore & Peabody tujuan dari kampanye politik dilakukan agar kandidat politik dipilih oleh masyarakat (Rusfian & Nurhajati, 2015). Pandangan senada juga dikemukakan Pawito (2009) mengatakan bahwa kampanye pemilihan adalah upaya dari kandidat atau partai politik yang bertarung dalam pemilihan umum (pemilu) apa saja secara sistematis dengan maksud memengaruhi masyarakat pemilih untuk memberikan dukungan.  

Upaya sistematis yang dimaksudkan di sini adalah terkait dengan sistem manajemen yang ditata dan dikelola dengan rapi dan konsisten. Utamanya dalam beberapa hal seperti organisasi tim kampanye yang diisi oleh orang-orang yang punya kapasitas di bidangnya. Selain itu butuh perencanaan strategi matang (positioning, segmentasi, perumusan isu, strategi media, pemilihan bintang iklan atau endorser yang tepat), pelaksanaan yang konsisten serta monitoring dan evaluasi. 

Adapun aktivitas kampanye yang kita ketahui selama ini dilakukan secara langsung, melalui media arus utama serta media digital, seperti media sosial. Dari ketiga aktivitas kampanye tersebut, tulisan ini secara khusus membahas tentang kampanye melalui media sosial. Pemanfaatan media sosial untuk kegiatan politik bukanlah sesuatu yang baru. Di Amerika Serikat, Presiden Obama di 2 periode masa kepemimpinannya sangat mengandalkan media sosial untuk kampanye politik mendekatkan dirinya dengan masyarakat dan membangun percakapan interaktif melalui media sosial. 

Sementara untuk konteks Indonesia, tren penggunaan jejaring sosial sebagai salah satu media kampanye selain media arus utama mulai booming sejak pemilu Presiden 2014, dengan aktif menyebarkan visi dan misi pasangan calon presiden serta isu-isu politik bangsa lainnya (Rusfian & Nurhajati, 2015).

Hingga saat ini, media sosial menjadi ruang yang kian ramai dan diminati. Banyak isu politik yang berkembang dan aktivitas politik justru terjadi di ruang maya seperti pada kontestasi politik beberapa tahun terakhir, baik pilkada maupun pemilu legislatif maupun pemilu presiden. Media sosial juga dimanfaatkan oleh para politisi untuk berinteraksi dan mendekatkan diri dengan masyarakat, juga untuk membranding dirinya. 

Sehingga tidak mengherankan saat ini banyak politisi seperti Jokowi, Ridwan Kamil, Gandjar Pranowo dan beberapa politisi lainnya yang sangat aktif di media sosial. Hal ini tidak lepas dari masyarakat Indonesia saat ini menurut survei We Are Social adalah salah satu pengguna internet terbanyak yaitu 175,4 juta orang dan 160 juta pengguna aktif di media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, Youtube dan sebagainya (Hariyanto, 2020).

Angka tersebut menegaskan bahwa media sosial menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat bukan semata untuk kepentingan pribadi seperti membangun relasi dan menceritakan diri ke publik luas. Tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas misalnya menjadi media untuk menyampaikan aspirasi atau pandangan politiknya (Nasrulah, 2016). 

Media sosial menjadi ruang bertemu dan berinteraksinya para politisi dengan masyarakat sebagai konstituen. Peluang ini yang kemudian dijadikan sebagai strategi bagi partai politik dan para kandidat untuk menarik simpati masyarakat dengan semakin aktif menyebarkan pesan politiknya, visi dan misi di media sosial. Tidak hanya itu melalui media sosial, masyarakat pendukung mendapatkan panggung dengan mudah untuk menyampaikan argumentasi dalam menanggapi isu-isu politik atau sekadar membantah dan mendukung kandidat yang diusungnya.

Maka dari itu, fenomena ini harus dilihat sebagai peluang yang besar untuk melakukan kampanye politik di media sosial. Kampanye melalui media sosial menjadi suatu kegiatan yang mutlak dilakukan mengingat bangsa Indonesia saat ini tengah dilanda pandemi covid-19. Sebagaimana kampanye dan blusukan juga bisa dilakukan secara virtual seperti yang dilakukan oleh calon wali kota dan wakil wali kota Solo, Gibran dan Teguh yang melakukan blusukan secara daring dalam beberapa waktu lalu patut dicontoh oleh para kontestan pilkada lainnya di berbagai daerah. 

Penerapan model kampanye secara virtual dinilai oleh banyak pihak bisa mencegah munculnya klaster-klaster baru di Indonesia. Selain itu, kampanye virtual juga dapat meminimalisir terjadinya kerumunan massa, mengurangi aktivitas kampanye secara langsung agar pelaksanaan pilkada kali ini tetap mematuhi protokol kesehatan sebagaimana anjuran pemerintah.

Terobosan baru
Terkait dengan kampanye di media sosial, penulis berharap bahwa para kandidat atau pun pendukungnya harus melakukan kampanye sekreatif mungkin dan melakukan terobosan-terobosan baru. Kampanye kratif merupakan salah satu cara membangun politik yang sehat. Proses pilkada selama ini dianggap monoton, kaku dan serius serta cenderung mengarah pada konflik yang melibatkan para pendukung masing-masing kandidat. 

Ada juga black campaign yang sengaja digaungkan dengan narasi-narasi negatif dibangun seperti isu politik identitas atau politik suku, agama dan ras untuk mendiskreditkan kandidat tertentu. Dengan kampanye kreatif tensi politik yang memanas yang menyebabkan benturan di antara masyarakat dan juga pendukung dapat dihindarkan.

Adapun kampanye kreatif yang dimaksudkan penulis di sini adalah kampanye melalui media sosial. Media sosial harus dimanfaatkan dengan baik untuk membangun narasi politik yang sehat, menjadi ruang pertarungan ide dan konsep pembangunan daerah 5 tahun ke depan. Untuk itu, para kandidat beserta para pendukungnya harus secara kreatif menuangkan ide dan konsep atau program yang dicanangkannya melalui konten-konten yang menarik dan kreatif di media sosial Facebook, Instagram, Whatsapp, Twitter dan Youtube. Misalnya, foto pasangan calon dengan caption yang menarik terkait visi dan misi, gambar visi dan misi dan juga keunggulan dari masing-masing pasangan calon, membuat meme-meme politik yang menghibur, video-video pendek tentang profil pasangan calon atau terkait konsep pembangunannya ke depan untuk dibagikan kepada masyarakat.  

Kreativitas di ruang maya ini tentunya sangat diharapkan agar kampanye politik bisa memberikan edukasi politik yang baik kepada masyarakat. Tidak hanya itu melalui kampanye kreatif, narasi-narasi politik yang dikumandakan kepada masyarakat sangat positif,  menarik dan menghibur. Sehingga konflik atau benturan akibat politik di masyarakat dapat dihindari.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Partai dan Pelembagaan Politik

👤Thomas Tokan Pureklolon Dosen Universitas Pelita Harapan 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 03:05 WIB
Perilaku politik suatu bangsa sangat terkait dengan landasan filosofi negara beserta evolusi organ-organ...
MI/Susanto

Soekarno Penyelamat Universitas Islam Al Azhar Kairo

👤Guntur Soekarno Pemerhati sosial 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 03:00 WIB
Menurut Dr Ali Jum’ah, Soekarno sebenarnya seorang yang bukan anggota salah satu partai politik Islam, bahkan ia mengadopsi pemikiran...
MI/ARYA MANGGALA

Sebuah Pesan untuk Generasi Penerus

👤Advisor Otoritas Jasa Keuangan Agus Sugiarto 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 03:47 WIB
Generasi muda sebagai penerus bangsa Indonesia wajib meneruskan amanah dari pendiri bangsa ini untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya