Rabu 07 Oktober 2020, 20:20 WIB

Awali Semua Dari Keluarga 

Imam Nur Suharno, Penulis Buku Keluarga Samara, dan Kepala HRD-Personalia Pondok Pesantren Husnul Khotimah  Kuningan, Jawa Barat | Opini
Awali Semua Dari Keluarga 

Dok.pribadi
Imam Nur Suharno

SEJAK adanya wabah covid-19 awal Maret lalu, perceraian dalam rumah tangga mengalami peningkatan cukup banyak. Beberapa waktu lalu, media sosial Instagram sempat diramaikan video yang memperlihatkan antrean orang yang sedang mengajukan pendaftaran gugaran cerai ke pengadilan agama.

Hal itu tentu memprihatinkan banyak pihak, pasalnya kekokohan keluarga dapat memengaruhi kekokohan bangsa. Bangsa yang kokoh itu bermula dari keluarga-keluarga yang kokoh. Dengan jelas bisa dikatakan, rapuhnya bangsa bermula dari rapuhnya tatanan keluarga.
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga. Itulah sebagian lirik lagu yang tidak asing lagi di telinga. Lagu yang menjadi OST film Keluarga Cemara itu telah menginspirasi kita.

Apalah artinya harta yang melimpah dan jabatan yang tinggi jika keluarga berantakan. Maka itu, sesibuk apapun kita hendaknya tetap memperhatikan urusan keluarga supaya tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Keberadaan keluarga turut memberikan pengaruh besar dalam kehidupan yang lebih luas, misalnya dalam urusan pekerjaan. Hasil penelitian yang dilakukan Frone dan Cooper (1994) menyimpulkan, bahwa kepuasan keluarga mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (Frone, MR, Russel, M & Cooper, ML, 1994, Relationship Between Job Family and Family Satisfaction: Causal or Noncaousal Covariation, Journal of Management).

Hal yang sama dibuktikan oleh Meyer dan Allen (1991), bahwa para pekerja cenderung lebih produktif jika mereka dapat menyeimbangkan peran kerja dan keluarga (Meyer, JP dan NJ Allen, 1991, A Three Component Conceptualization of Organizational Commitment; Human Resource Management Review). Dengan demikian dapat dikatakan, keluarga itu merupakan karier terbaik kita. Sehingga, keberhasilan dalam bidang apapun selalu dipengaruhi oleh keberhasilan kita dalam membangun kehidupan keluarga.

John DeFrain dan Sylvia M Asay dalam Strong Families Around the World: An Introduction to Family Strengths Perspective; Marriage & Family Review Families, in all their remarkable diversity, are the basic foundation of human cultures (keluarga yang kuat merupakan penentu pengembangan komunitas yang kuat). Strong families tend to produce great kids (tempat terbaik untuk menemukan anak-anak hebat adalah dalam keluarga yang kuat). 

Miniatur bangsa
Dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun yang melibatkan 200 peneliti, lebih dari 65 penelitian, lebih dari 3000 anggota keluarga, lebih dari 40 negara di seluruh benua, John DeFrain dan tim menyimpulkan bahwa keluarga tangguh (strong family) adalah keluarga yang saling mencintai dan saling peduli satu sama lain; keluarga yang saling terhubung dan tergantung satu dengan yang lain, memiliki waktu berkualitas bersama pasangan, memiliki komitmen yang kuat, serta saling memberikan apresiasi dan afeksi.

Semua urusan di dunia ini bermula atau berakhir di keluarga; tidak semua keluarga kuat, namun semua keluarga memiliki kekuatan; everything that happens to you happens to me (segala yang terjadi padamu, terjadi pula padaku); hubungan yang kuat antara pasangan merupakan hal sentral di banyak keluarga; keluarga yang kuat cenderung menghasilkan generasi yang kuat; jika Anda besar di dalam keluarga yang kuat, akan lebih mudah bagi Anda untuk membentuk keluarga yang kuat di masa dewasa; dan keluarga yang kuat tidak banyak berpikir mengenai kekuatannya, mereka hidup bersamanya.

Hal itu menegaskan bahwa semua bermula dari keluarga. Keluarga merupakan miniatur suatu bangsa. Jika keluarga baik, bangsa akan menjadi baik. Jika keluarga rusak, menjadi rusak pula bangsa. Maka itu, diperlukan upaya untuk memperkokoh ketahanan keluarga. 
Untuk membangun ketahanan keluarga agar tetap kokoh dimulai dengan mencanangkan visi dan misi yang jelas dan terukur. Keberhasilan membangun keluarga (di dunia) akan menjadi jembatan kokohnya bangunan keluarga hingga di surga (QS at-Thur [52]: 21).

Visi keluarga itu adalah 'terwujudnya keluarga surga di dunia dan surga di akhirat' (QS al-Baqarah [2]: 201). Misinya, membangun dan mengembangkan eksistensi manusia (QS an-Nisa [4]: 1); adanya fungsi tarbiyah (pendidikan) (QS at-Tahrim [66]: 6); dan menjalankan peran dakwah dan kepemimpinan umat (QS al-Furqon [25]: 74). 

Kemudian, ditopang dengan pilar-pilar pembangunan ketahanan keluarga agar tetap kuat. Pertama, tegak di atas landasan ibadah. Keluarga yang kuat dibangun dalam rangka ibadah kepada Allah. Kelak, jika terjadi permasalahan keluarga, akan mudah menyelesaikannya, karena semua telah tunduk kepada ketentuan-Nya.

Kedua, internalisasi nilai-nilai Islam. Internalisasi nilai-nilai Islam secara menyeluruh harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga, sehingga mereka selalu komitmen terhadap adab-adab Islami. Keluarga dituntut menyediakan sarana tarbiyah (pendidikan) yang memadai agar proses belajar, menyerap nilai dan ilmu, dan teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, keteladanan. Keteladanan nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendaknya diterapkan. Orang tua memiliki posisi penting dalam hal ini, sebelum memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran kepada anggota keluarga, harus memberi teladan yang baik. 
Kempat, setiap anggota diposisikan sesuai aturan Islam. Islam telah memberikan hak dan kewajiban bagi setiap anggota keluarga secara tepat dan manusiawi. Apabila hal ini ditepati, akan mengantarkan kepada kebaikan di dunia dan di akhirat. 

Kelima, membiasakan ta’awun (kerja sama) menegakkan adab Islam dalam keluarga. Betapa sulit membentuk suasana islami jika suasana kerja sama dalam keluarga tidak terwujud. Ta’awun ini hendaknya diinternalisasikan dan diimplementasikan dalam keluarga agar tercipta kehidupan keluarga yang harmonis. Jika pilar dalam keluarga tetap kokoh meski dalam pandemi covid-19, akan tetap kokoh pula pilar pembangunan bangsa. Semoga.

Baca Juga

Dok.pribadi

Mewaspadai La Nina dan Cuaca Buruk

👤 Edvin Aldrian, Professor Meteorologi dan Klimatologi BPPT, Inter governmental Panel on Climate Change WG 1 Vice Chair, Anggota Dewan pakar IABIE Ikatan Alumni program Habibie 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 11:55 WIB
Kondisi di perairan laut akan lebih berbahaya pada saat La Nina, terlebih pada masa...
Dok. Pribadi

Urgensi Dana Pensiun pada Generasi Milenial

👤Laras Ayu, Peneliti Junior pada Departemen Penelitian  dan Pengaturan Perbankan OJK 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 11:51 WIB
Saat ini, dana pensiun masih belum menjadi produk keuangan yang diperhatikan oleh generasi...
DOK.PRIBADI

Generasi Muda Harapan Bangsa

👤Ervanus Ridwan Tou | Sekjen Vox Point Indonesia 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 11:35 WIB
Masa depan bangsa ada di tangan pemuda. Untuk itu, setiap generasi muda harus punya rasa optimistis dalam menatap masa depan bangsa dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya