Rabu 07 Oktober 2020, 16:06 WIB

Wisata Selam Labuan Bajo Berusaha Bangkit dengan Lakukan CHSE 

Iis Zatnika | Nusantara
Wisata Selam Labuan Bajo Berusaha Bangkit dengan Lakukan CHSE 

MOH/John Lewar
Destinasi wisata Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Tenggara (NTT).

 

PARA pengusaha wisata selam di Labuan Bajo menyambut positif kegiatan sosialisasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan atau CHSE Usaha Wisata Selam.

Pasalnya, sejak ditutup pada Maret hingga dibuka 15 Agustus, nyaris belum ada pergerakan signifikan pada kegiatan usaha mereka, karena berbagai pembatasan yang dilakukan pemerintah, termasuk pada kedatangan warga asing. 

Panduan CHSE itu, kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat Agustinus Rinus, akan membangun kepercayaan pada para wisatawan serta menjadi panduan untuk para pelaku usaha dan para pekerjanya.

"Di wilayah Labuan Bajo ini ada sekitar 481 kapal yang beroperasi untuk melayani wisatawan dan saat ini sebagian besar kehilangan tamunya. Dengan panduan yang lengkap ini, mulai interaksi di darat, laut hingga situasi darurat, akan meyakinkan pasar bahwa wisata selam, snorkeling hingga live on board atau liburan di atas kapal, aman dilakukan asal patuh pada protokol, " kata Agustinus saat berbicara dalam acara  sosialisasi panduan CHSE bagi para pelaku usaha wisata selam di wilayah Destinasi Super Prioritas (DSP) Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (6/10).

Agustinus menjelaskan, usaha wisata di wilayahnya memang didominasi kegiatan bahari, dengan pangsa pasar terbesarnya adalah wisatawan asing. Covid-19 telah membuat jumlah wisatawan pada 2020 diperkirakan turun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Pada 2018, jumlah kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo mencapai 163.807 orang, sedangkan pada 2019 meningkat menjadi 184.206 wisatawan. Sementara  sumbangan pada pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi mencapai Rp34 miliar pada 2018 dan Rp60 miliar pada 2019 yang disumbangkan dari kapal-kapal wisata yang membawa wisatawan Penyelamat yang didominasi wisatawan asal Jerman, Inggris, Spanyol, Australia dan beberapa negara di Eropa lainnya.

Setiap turis selam, kata Agustinus, menghabiskan rata-rata USD 978 dollar dengan masa tinggal 6,9 hari di Labuan Bajo. 

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handy ani menyatakan pihaknya kini intens mengemukakan para pelaku usaha dan pekerjanya, termasuk di bidang minat khusus, termasuk selam. 

“Sekali lagi yang terpenting dari semuanya dibutuhkan kedisiplinan dari para pelaku usaha wisata selam dan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan,” kata Rizki.

Tim Penyusun CHSE Usaha Wisata Selam Kemenparekraf Daniel Abimanju Carnadie dan Bayu Wardoyo yang juga pelaku usaha selam, menegaskan saat ini sebagian besar industri selam Indonesia tengah tiarap.

"Memang belum ada data pasti tentang jumlah mereka, tapi kita bisa perkirakan, termasuk penyelenggara live on board itu ada sekitar 600, dan mungkin di Labuan Bajo ini ada 120, mayoritas di Bali sebanyak 80% dan sisanya kurang lebih 10% tersebar di seluruh Indonesia," ujar Abimanju. 

Senada dengan Rizki, Abimanju menegaskan yang paling dibutuhkan untuk menegakkan protokol CHSE di dunia selam adalah kedisiplinan, untuk biaya tambahan hanya diperlukan untuk pembelian alat sanitation serta jika diperlukan, tes cepat covid-19 bagi kru kapal.

"Selebihnya adalah disiplin dan rekayasa teknis, ketika sudah di air,  alat yang kita gunakan itu sudah menutup kemungkinan tersebarnya droplet. Namun, interaksi yang terjadi di permukaan itu yang mengundang risiko." kata Wulandari Karunia, pengelola kapal Cordelia Phinisi yang kini telah beroperasi dengan melayani tamu Nusantara menyatakan untuk meyakinkan turis, pihaknya melakukan tes cepat pada seluruh kru kapal yang berjumlah 10 orang serta dua dive master atau pemandu penyelaman.

"Jika tamu meminta swab, kami mengharuskan biaya ditanggung mereka. Sesuai panduan, nantinya kami juga akan atur mengenai pengaturan pembatasan jumlah dan penelusuran asal wisatawan, jika mereka satu rumah maka lebih aman karena masuk kategori keluarga. Tapi jika tidak, harus ada rekayasa," ujar Wulandari.(Zat/OL-09)

Baca Juga

MI/Ignas Kunda

Lari Maraton Untuk Amal Akses Air Bersih

👤Ignas Kunda 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 07:52 WIB
Sebanyak 15 orang melakukan lari maraton malam hari di Nagekeo dalam rangka lari amal untuk membantu masyarakat Nagekeo yang kesulitan...
Humas Polresta Palangkaraya

Satgas Covid-19 Minta Pengunjung Wisata Patuhi Protokol Kesehatan

👤Surya Sriyanti 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 05:27 WIB
Dalam suasana libur panjang saat ini, Satgas Covid-19 Kota Palangka Raya terus berjuang untuk mendisiplinkan protokol kesehatan guna...
anggoro

KITA Berkontribusi, bukan Berdemonstrasi

👤(BY/N-3) 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 04:55 WIB
BUKAN kursi dan posisi yang menjadi obsesi Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA). Politik bukan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya