Rabu 07 Oktober 2020, 14:07 WIB

UU Ciptaker Terhadap Lingkungan Cukup Mengkhawatirkan

M. Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum
UU Ciptaker Terhadap Lingkungan Cukup Mengkhawatirkan

medcom
Ilustrasi

 

UNDANG-Undang Cipta Kerja dinilai bisa menimbulkan dampak buruk terhadap terhadap lingkungan dan pertanian.

"Dampak UU Ciptaker terhadap lingkungan cukup mengkhawatirkan," kata Guru Besar Institut Pertanian Bogor Hermanto Siregar, saat dihubungi, Rabu (7/10).

Menurutnya dengan prosedur amdal yang eksisting dan relatif ketat saja banyak terjadi pencemaran lingkungan. Apalagi jika dipermudah seperti yang tercantum di dalam UU Ciptaker.

Dalam Pasal 88 UU Ciptaker berbunyi: Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau

kegiatannya menggunakan B3, menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi dari usaha dan/atau kegiatannya.

Sementara pada Pasal 88 UU Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) sangat ketat terhadap lingkungan. Karena setiap orang atau korporasi bertanggungjawab mutlak apabila kegiatannya mencemari lingkungan tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.

Selain itu, Hermanto juga menyoroti urgensi UU Ciptaker yang digadang-gadang akan meningkatkan Foreign Direct Investment (FDI). Saat pandemi covid muncul FDI tersebut akan sulit.

Baca juga : Lanjutkan Aksi, KSPI Bantah Demo Dilakukan Secara Ilegal

"UU ini secara potensial memang dapat meningkatkan FDI, namun hal tersebut saya kira tidak terjadi di era pandemi ini. Covid-19 yang belum terkendali berarti uncertainty ekonomi dan bisnis masih tinggi.," jelasnya.

Hermanto menyebutkan bahwa semakin lama penanganan covid oleh pemerintah, maka semakin lama pula investor asing baru masuk ke Tanah Air.

Jika FDI bisa melonjak dan masuk ke sektor pertanian dirinya berharap investor tidak menyentuh budidaya dan hanya pada pengolahan hasil tani.

"Saya kira boleh saja mengundang investor untuk masuk di sektor pertanian. Namun jangan di budidaya, melainkan di pengolahan hasil," jelasnya.

"Sebab, pengolahan hasil pertanian akan memberi nilai tambah yang lebih besar serta menyerap tenaga kerja lokal," pungkasnya. (OL-2)

 

Baca Juga

Medcom.id

KPK Tangkap Kolega Eks Sekretaris MA

👤Tri/P-5 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 04:14 WIB
Pihaknya menangkap Hiendra di sebuah apartemen yang terletak di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Apartemen itu, kata Lili,...
Medcom.id

Bawaslu Koreksi 2 Juta Pemilih di Pilkada 2020

👤Cahya Mulyana 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 04:07 WIB
Bawaslu melihat masih ada permasalahan ketatanegaraan dan administrasi kependudukan yang menghambat seluruh masyarakat, terutama kelompok...
DOK KPI

Digitalisasi Penyiaran Cegah Ancaman Ketahanan Nasional

👤Ifa/S3-25 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 03:58 WIB
Banyak keuntungan digital teresterial televisi ini. Karena itu, hal ini harus segera dijalankan dan kami sudah lama mendorong hal ini agar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya