Rabu 07 Oktober 2020, 05:59 WIB

Curah Hujan Menurun, Hutan Amazon Berisiko Jadi Sabana

Faustinus Nua | Humaniora
Curah Hujan Menurun, Hutan Amazon Berisiko Jadi Sabana

AFP/ Florian PLAUCHEUR
Deforestasi di wilayah Sinop, Mato Grosso State, Brazil, berada di area Amazon, Agustus 2020

 

SEBANYAK 40% hutan hujan tropis di Amazon berisiko melintasi titik kritis menjadi sabana karena emisi gas rumah kaca telah mengurangi curah hujan yang dibutuhkan untuk mempertahankan ekosistem uniknya. Hutan sangat sensitif terhadap perubahan yang mempengaruhi curah hujan untuk waktu yang lama. Dan pepohonan bisa mati jika suatu area terlalu lama tanpa hujan. Hal ini dapat berdampak signifikan terhadap alam dengan hilangnya habitat tropis serta iklim karena menyusutnya hutan dan kehilangan kemampuan untuk menyerap emisi buatan manusia. Perubahan ini juga memicu risiko kebakaran hutan.

Sebuah tim ilmuwan yang berbasis di Eropa menggunakan data atmosfer terbaru yang tersedia untuk mensimulasikan bagaimana hutan tropis dapat merespons perubahan tingkat curah hujan. Secara khusus, mereka mensimulasikan efek emisi berkelanjutan dari pembakaran bahan bakar fosil antara sekarang dan akhir abad ini.

Mereka menemukan bahwa curah hujan di Amazon sudah sangat rendah. Sehingga 40% dari hutan itu berisiko terjungkal ke lingkungan seperti sabana, dengan pohon yang jauh lebih sedikit dan keanekaragaman hayati juga berkurang.

Peneliti utama Arie Staal, dari Stockholm Resilience Center melaporkan bahwa hutan hujan biasanya menciptakan curah hujannya sendiri melalui uap air, mempertahankan tingkat pohon dan bahkan memperluas jangkauannya. Tetapi kebalikannya ketika tingkat curah hujan turun, hutan mulai menghilang.

"Saat hutan menyusut, kita mendapatkan lebih sedikit curah hujan melawan angin. Dan ini menyebabkan kekeringan, menyebabkan lebih banyak kebakaran dan hilangnya hutan. Ini lingkaran setan,” kata Staal.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, mengeksplorasi ketahanan hutan hujan tropis di bawah dua skenario ekstrim tambahan. Pertama, para peneliti melihat seberapa cepat hutan dunia akan tumbuh kembali jika tiba-tiba menghilang. Kedua mempelajari apa yang akan terjadi jika hutan hujan menutupi semua wilayah tropis di Bumi.

baca juga: BMKG Gelar Latihan Mitigasi Tsunami IOWave 2020

Mereka menemukan bahwa banyak dari hutan hujan dunia akan berjuang untuk tumbuh kembali setelah hilang, yang mengarah ke campuran hutan dan padang rumput yang jauh lebih luas seperti sabana. Selain hilangnya Amazon, tim tersebut menemukan bahwa hutan di lembah Kongo berisiko berubah menjadi sabana, dan petak besar tidak akan tumbuh kembali setelah hilang.

"Kami sekarang memahami bahwa hutan hujan di semua benua sangat sensitif terhadap perubahan global dan dapat dengan cepat kehilangan kemampuannya untuk beradaptasi," kata Ingo Fetzer juga dari Stockholm Resilience Center.

"Setelah hilang, pemulihannya akan memakan waktu puluhan tahun untuk kembali ke kondisi semula. Dan mengingat bahwa hutan hujan menampung sebagian besar spesies global. Semua ini akan hilang selamanya," pungkasnya.(AFP/OL-3)

Baca Juga

ANTARA FOTO/FB Anggoro

Faskes Diminta Patuhi Ketentuan Tarif Swab Tes

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 11:14 WIB
Fasilitas kesehatan pun sudah diingatkan berkali-kali agar mematuhi ketentuan soal harga tes usap...
ANTARA/Muhammad Iqbal

BATAN Kembangkan Radioisotop dan Radiofarmaka untuk Kesehatan

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 10:18 WIB
Kebutuhan dalam negeri terhadap radioisotop dan radiofarmaka, saat ini, terus meningkat seiring dengan berkembangnya pemanfaatan iptek...
MI/ANDRI WIDIYANTO

Macet Sejak Lama, Tunjangan Kinerja Karyawan TVRI Akhirnya Turun

👤Syarief Oebaidillah 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 09:01 WIB
Setelah berjuang selama tiga bulan, Direktur Utama TVRI Iman Brotoseno berhasil menyelesaikan tunggakan tunjangan kinerja karyawannya...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya