Rabu 07 Oktober 2020, 05:25 WIB

Produsen tidak Ingin Jadi Kambing Hitam

(Ant/E-3) | Ekonomi
Produsen tidak Ingin Jadi Kambing Hitam

ANTARA FOTO/Syaiful Arif/foc
PASCAKENAIKAN CUKAI ROKOK: Pekerja perempuan memasang pita cukai di industri rokok rumahan di Desa Plandi, Kabupaten Jombang, Jawa Timur

 

PENAIKAN harga rokok yang dipicu oleh rencana pemerintah untuk menaikkan cukai industri hasil tembakau (IHT) serta harga jual eceran rokok tidak menjamin penurunan prevalensi merokok.

“Satu bukti penelitian, 43% jika harga rokok naik, akan memilih beralih ke produk lain, sedangkan sebanyak 57% tidak beralih produk rokok sehingga harga yang berubah tidak berpengaruh terhadap perubahan konsumsi rokok usia dini,” ujar Ketua Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Sulami Bahar, di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut Sulami mengatakan industri rokok keberadaannya sudah sangat tertekan akibat kenaikan cukai, kenaikan HJE, rencana revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012, hingga rencana ekstensifi kasi cukai, terlebih kondisi perekonomian saat ini sedang sulit karena pandemi covid-19.

“Jangan sampai pemerintah mengambinghitamkan industri rokok karena hal ini. Industri rokok ialah salah satu sektor padat karya yang menghindari rasionalisasi buruh rokok dan memberikan kontribusi yang nyata, tetapi tidak diberikan proteksi yang baik oleh pemerintah,” kata Sulami.

Lebih lanjut Sulami mengatakan pihaknya mendukung upaya pemerintah dalam menekan prevalensi atau kebiasaan merokok, terutama pada anak di Tanah Air yang semakin meningkat.

“Kami mendukung pemerintah untuk menurunkan prevalensi merokok anak. Kami pun dari industri rokok sebenarnya juga tidak menghendaki adanya kenaikan prevalensi merokok anak karena kita sudah mengikuti peraturan pemerintah,” ujar Sulami dalam pernyataannya di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi merokok pada anak dan remaja meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% pada 2018. Angka itu jauh dari target RPJMN 2015-2019 yang menargetkan perokok anak turun hingga 5,4% pada 2019.

Menurut Sulami, faktor dominan penyebab rokok usia dini disebabkan ada anggota keluarga yang juga merokok, pendidikan, lingkungan sosial, teman sekolah dan kondisi psikologis, dan faktor lainnya.

Ia menuturkan upaya edukasi dan sosialisasi tentang pengaruh merokok di usia dini merupakan tanggung jawab berbagai pihak. (Ant/E-3)

Baca Juga

Antara

Presiden Optimistis Perekonomian Lekas Membaik, Ini Indikatornya

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 21:35 WIB
"Tetapi dibandingkan dengan negara-negara lain, kontraksi ekonomi Indonesia relatif lebih landai dan saya meyakini Insyaallah mampu...
ANTARA/Abriawan Abhe

Tiga Bulan, Tripartit Nasional Bahas RPP Turunan UU Ciptaker

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 20:30 WIB
Saat ini pemerintah bersama Tripartit Nasional (perwakilan pemerintah, pengusaha, dan SP/SB) dan akademisi telah mulai membahas...
ANTARA/Kahfie Kamaru

Industri Halal Dukung Neraca Dagang

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 20:15 WIB
Produk makanan menjadi pangsa Brasil dengan 10,51%. Produk kosmetik di urutan pertama dari Prancis sebesar 17,38%. Obat-obatan didominasi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya