Rabu 07 Oktober 2020, 02:30 WIB

Bertahan sebab Berdagang Daring

(Depi Gunawan/Kristiadi/N-3) | Fokus
Bertahan sebab Berdagang Daring

MI/IDEP
BUDI DAYA JAMUR TIRAM: Dante Putratama merawat jamur tiram yang dibudidayakan di garasi rumahnya di kawasan Kota Cimahi, Jawa Barat.

DANTE Putratama, 26, tidak pernah merasa ada pandemi saat dia berada di tengah ladang jamur tiram miliknya. Pasalnya, produksi jamur meningkat terus dan pesanan mengalir deras.

"Saya memulai usaha ini saat pandemi covid-19 datang. Bukan pilihan yang terbaik, tapi saya bertekad melakukannya," ujar warga Jalan Nusantara, Kompleks Kaveling IPTN, Kelurahan Cibabat, Kota Cimahi, Jawa Barat, itu. Modalnya cukup besar bagi kantong seorang anak muda. Pada April lalu, ia merogoh kocek Rp4 juta untuk memulai.

Kuncinya hanya satu. "Saya yakin budi daya jamur tiram memiliki prospek yang bagus dan menjanjikan. Jamur tumbuh setiap hari, panen terus, sehingga perputaran uang juga cepat," ujarnya.

Dengan memanfaatkan garasi rumah, setelah lima bulan berusaha, pesanan dan konsumen tidak berhenti datang. Dante memasarkan jamur tiramnya lewat media sosial. Ia membatasi bekerja di area Bandung Raya.

"Sehari bisa terjual 7 kilogram. Saya yakin usaha ini akan berkembang karena jamur sudah dikonsumsi semua kalangan," tegasnya yakin.

Pemasaran daring juga harus dilakukan Iis Komala, 36, pemilik usaha kerajinan bambu di Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak masa pandemi, memajang hasil kerajinan di ruang pamer Toko Annur Saputra, miliknya, tidak lagi ideal.

Dalam sehari, konsumen yang datang bisa dihitung jari. Ekonomi keluarga Iis sempat goyah.

Media sosial pun dipilih untuk memperbesar peluang. Penjualan piring rotan, sapu lidi, injuk, dan sandal pun mulai terkatrol.

Rian Agung, 50, perajin peralatan dapur berbahan seng dan tembaga, juga tidak asing dengan pemasaran daring. Warga Dawagung, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmlaya, itu bisa menjual berbagai produknya, seperti wajan, loyang, kastrol, oven, hingga pembakaran satai secara daring.

"Kalau berharap penjualan langsung, rasanya cukup sulit di masa pandemi ini. Beruntung ada media sosial sehingga saya bisa memasarkan produk dan mendapat pelanggan baru dari berbagai daerah," lanjut Rian.

Kabid UMKM Dinas Perindustrian Tasikmalaya Amir Sudyana mengakui banyak perajin di wilayahnya yang bertahan berkat pemasaran secara daring. "Kami berusaha mendampingi mereka bukan dengan pemberian modal, melainkan pelatihan, merancang produk dan kemasannya." (Depi Gunawan/Kristiadi/N-3)

Baca Juga

ANTARA/DEDHEZ ANGGARA

Terima Nasib

👤MI/AGUNG WIBOWO 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:55 WIB
TIDAK adanya sentuhan teknologi dalam produksi garam tradisional menyebabkan rendahnya kualitas...
ANTARA /YUSUF NUGROHO

Potret Suram Petani Garam

👤Mohammad Ghazi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:45 WIB
STOK garam rakyat di sejumlah sentra produksi garam Kabupaten Pamekasan, Madura, hingga pertengahan Oktober ini masih menumpuk di sejumlah...
 (ghozi/MI)

Butuh Sentuhan Teknologi

👤(UL/PO/E-3) 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 00:35 WIB
SALAH satu penyebab rendahnya mutu garam dalam negeri ialah proses produksi yang masih dilakukan secara tradisional dan ketidakmampuan para...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya