Senin 05 Oktober 2020, 19:25 WIB

Pandemi, Kesempatan Ajak Anak Terapkan Pola Makan Sehat

Eni Kartinah | Humaniora
Pandemi, Kesempatan Ajak Anak Terapkan Pola Makan Sehat

Dok.Ist
ilustrasi

 

PANDEMI yang ‘memaksa’ kita untuk lebih banyak di rumah bisa mejadi kesempatan emas bagi orangtua untuk lebih memerhatikan asupan gizi anak. Termasuk, memperbaiki pola makan anak yang selama ini mungkin kurang sehat. Tapi perlu diingat, upaya ini harus dilakukan dengan cara menyenangkan, baik bagi anak maupun orangtua.
 
“WHO (Badan Kesehatan Dunia) menyatakan, dibanding makan di luar, makanan rumahan lebih sehat dan bergizi untuk anak yang sedang bertumbuh kembang. Karena saat kita masak di rumah, kita tahu persis bahan-bahan yang kita pakai,” ujar dokter spesialis gizi klinis, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, pada acara virtual gathering Bicara Gizi yang digelar oleh Danone Specialized Nutrition, pekan lalu.

Baca juga: Pemerintah Jamin Kebutuhan Gizi Anak Selama Pandemi

Konsumsi anak sehari-hari, lanjut dr. Juwalita, idealnya sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Yaitu mengandung zat gizi dengan jenis dan jumlah yang sesuai kebutuhan.  Anak harus mendapat nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) dalam jumlah seimbang. Untuk panduan mudahnya, kita dapat mengikuti panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan. Yakni, dalam piring makan pastikan terdapat makanan pokok sebanyak 1/3 dari piring, sayuran 1/3 piring, lauk pauk 1/6 piring, dan buah 1/6 piring.

“Biasakan anak makan dengan jadwal teratur, tiga kali makan besar dan dua kali makan selingan (snack) di antara waktu makan besar. Makana selingan bisa berupa buah, kacang-kacangan, agar-agar, atau susu. Makan dengan jadwal teratur menjadi salah satu langkah pentin g untuk mencukupi kebutuhan gizi anak,” papar dr. Juwalita.

Selain itu, lanjutnya, pastikan anak mendapat makanan dengan jenis yang bervariasi. Hal ini untuk menjamin anak mendapat zat-zat gizi secara lengkap. Sebab, bisa jadi satu jenis makanan kaya akan vitamin C misalnya, namun kurang atau bahkan tidak mengandung vitamin jenis lainnya.

Pun demikian dengan jenis protein, idealnya mencakup protein hewani dan nabati sebab masing-masing punya keunggulan. Protein hewani asam aminonya lebih lengkap, protein, vitamin, dan mineralnya lebih mudah diserap tubuh. Adapun protein nabati mengandung lemak baik, isoflavon (antioksidan dan antikolesterol), serta, dan bisa menjadi alternatif pengganti protein pada intoleransi laktosa (tidak tahan/alergi susu sapi).

“Sebagai contoh, olahan protein nabati dari kacang-kacangan seperti olahan soya bisa dijadikan alternatif variasi dalam menu gizi seimbang. Terutama nutrisi untuk anak berbasis soya yang difortifikasi, dapat menjadi pilihan ibu karena dapat dikonsumsi oleh siapa saja, tidak hanya terbatas pada anak dengan kondisi medis tertentu,” imbuh dr. Juwalita.

Untuk mendukung pertumbuhan anak yang optimal, pastikan sebanyak 12 hingga 15 persen dari porsi makanan hariannya merupakan sumber protein. Protein berguna untuk membantu pertumbuhan, pemeliharaan, dan perbaikan tubuh anak.

Jangan lupa juga untu kmencukupi kebutuhan serat. Asupan serat yang tinggi didapat dari sayur, buah, kacang-kacangan, polong-polongan, dan biji-bijian. “Penelitian menunjukkan, pada anak yang asupan seratnya tinggi, ternyata asupan lemak total dan lemak jenuhnya (jenis lemak jahat) lebih rendah, dan asupan vitamin B-6, magnesium, besi, dan kaliumnya lebih tinggi,” kata dr. Juwalita.

Pada kesempatan sama, psikolog dari Tiga Generasi, Putu Andani M.Psi, mengungkapkan, banyak orangtua mengaku kesulitan mengajak anak makan. Hal ini bisa diatasi dengan mengajak anak terlibat mulai dari memilih menu hingga proses menyiapkan makanan yang tentunya disesuaikan dengan usia anak. “Untuk memilih menu, orangtua bisa bertanya, hari ini mau makan nasi goring atau sop ayam ya? Buahnya mau jeruk atau apel?,” ucap Putu.

Ketika tiba waktu menyiapkan makanan, lanjut Putu, anak yang masih kecil bisa ikut mencuci buah dan sayur, mengeringkan, dan memasukkan ke tempat tertentu. Atau, ikut memilah sayur dan buah, mengeksplorasi nama, warna, dan aroma dari berbagai jenis makanan, menghitung jumlah makanan atau alat makan yang akan disiapkan. Untuk anak yang lebih besar, bisa ikut memotong, mencampur adonan, mengenal dan mencampur bumbu, menentukan porsi makan, dan menata peralatan makan di meja.

“Mengapa melibatkan anak dalam proses menyiapkan makanan menjadi penting? Karena, sepanjang tahap kehidupannya, anak memiliki berbagai kebutuhan psikologis yang perlu dipenuhi, antara lain merasa bisa mandiri, berinisiatif, dan menghasilkan suatu karya. Melibatkan anak pada proses dan memberikan keleluasaan untuk menentukan pilihan akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut sehingga kesehatan psikis anak tetap terjaga dan anak lebih mudah diajak makan,” terang Putu.

Keluhan lain yang kerap diungkapkan orangtua ialah anak susah makan sayur. Bagaimana triknya? Putu menyarankan untukmengajak anak makan bersama. Orangtua mencontohkan makan sayur, tapi tidak perlu meminta anak makan sayur. Cukup sajikan di meja agar anak bisa melihat orangtua mengambil dan menikmati sayuran tersebut.

“Lama kelamaan, anak akan tertarik untuk mencicipi. Ketika ini dilakukan anak, orangtua hendaknya tetap ‘santai’, tidak perlu terlalu excited atau berkomentar ‘Nah, gitu dong dek, makan sayurnya.’ Komentar seperti itu justru bisa mengurungkan niat anak makan sayur karena regulasi emosi anak kan masih berkembang, bisa jadi dia malah malu dan enggan. Biarkan saja dia mengambil dan mencoba. Nah, kalau suatu waktu dia bercerita, “Ma, aku sudah makan sayur lho,” ini saatnya orangtua menunjukkan apresiasi, “ Iya, Mama tadi lihat, Mama senang sekali Adek makan sayur’,” papar Putu.

Putu menambahkan, kadang membimbing anak menerapkan pola makan sehat cukup harus melalui proses yang lumayan berat hingga memicu stres pada anak maupun orangtua. Hal ini perlu diantisipasi. “Kondisi psikis orangtua dan anak saling berkaitan. Stres berkepanjangan yang tidak diolah dengan baik dapat memengaruhi perilaku makan anak di rumah. Padahal asupan nutrisi adalah sumber pertahanan imun untuk saat ini. Untuk itu, orang tua perlu memantau mood anak dengan baik di samping mengelola stresnya sendiri.”

Berbagi pengalaman mengenai membiasakan gizi seimbang selama beraktivitas di rumah, artis yang juga seorang ibu, Soraya Larasati, menuturkan bahwa situasi saat ini membuatnya khawatir si kecil akan bosan dengan menu makanan sehat di rumah. Karena itu, ia berusaha kreatif dalam menyajikan makanan maupun menyiapkan berbagai kegiatan agar anak tidak bosan di rumah saja.

“Selain saya ajak anak terlibat dalam menyiapkan makanan, saya juga mengenalkan anak dengan sumber nutrisi yang belum pernah ia coba. Saya sering membuatkan menu makanan nabati. Ragam makanan nabati yang sangat bervariasi dari jenis kacang-kacangan dan sayuran baik untuk dikenalkan pada anak-anak. Biasanya, saya lengkapi dengan nutrisi untuk anak berbasis soya yang difortifikasi dengan serat, vitamin, dan mineral lainnya karena nutrisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak. Saya percaya bahwa pangan nabati sama pentingnya dengan pangan hewani,” tutur ibu dua anak ini. (Nik/A-1)

Baca Juga

OZAN KOSE/AFP

Tsunami Pada Gempa Turki Tidak Berdampak ke Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 06:24 WIB
BMKG menegaskan masyarakat diimbau tetap tenang karena tsunami tidak berdampak ke wilayah...
Shutterstock/Medcom.id

Evaluasi Segera Sistem Pembelajaran Jarak Jauh

👤Ata/Wan/X-8 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 03:58 WIB
Peristiwa memilukan itu terjadi pada 27 Oktober lalu. Korban ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi tempat tinggalnya. Dia nekad...
AFP Photo/Paolo Miranda/Medcom.id

Banyak Perawat Mulai Kelelahan

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 03:39 WIB
Tugas para perawat yang tidak terinfeksi covid-19 kian berat karena bisa double shift. Pemerintah diharapkan makin memperhatikan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya