Minggu 04 Oktober 2020, 02:30 WIB

Mereka Wajah Series Indonesia

Fathurrozak | Weekend
Mereka Wajah Series Indonesia

Dok. Jadi Ngaji
Series Jadi Ngaji

KIAN maraknya platform OTT (over the top) yang beroperasi di Indonesia telah mendorong kelahiran berbagai series orisinal OTT. 

Fenomena itu memperkaya keberadaan series, yang pada masa-masa awal, acap tayang di kanal Youtube sebagai satu bentuk pemasaran digital oleh sejumlah brand. Series yang muncul di kedua platform ini, setidaknya memberikan penyegaran model tayangan yang disajikan televisi konvensional saat ini. 

Beberapa series garapan rumah produksi Cerita Films, seperti Sore: Istri dari Masa Depan (2017), Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode (2018), dan Janji (2019), menjadi judul-judul jjj yang diminati penonton di Youtube.

Ada pula Rewrite (Viu-2019) dan Yowis Ben The Series (We Tv-2020) produksi sineas Fajar Nugros. Namun, tidak sedikit orang yang membandingkan series buatan lokal dengan buatan asing. Mulai dari segi cerita hingga kualitas gambar.

Dalam cuitannya di Twitter, medio Mei, produser dan sutradara Angga Dwimas Sasongko mengatakan, “ Banyak yang nanya, bisa enggak film maker Indonesia bikin series sebagus series-series dari luar negeri? Bisa. Asal bujet sama waktu produksi nya sama. Di sini nyari US$75K per episode aja susah. Jangan bandingin sama US$1 juta per episode. Empat hari syuting per episode jangan dibanding sama yang dua minggu syuting per episode.”

Cuitan itu pun memunculkan diskusi di antara para pengikutnya. Faktor lain, yang juga disebutkan Angga, ialah masih ada keengganan penonton untuk merogoh kocek demi menikmati konten.

Sutradara Muthia Zahra Feriani, yang belum lama ini menggarap series Jadi Ngaji (Goplay-2020), berpendapat bujet bukan kendala utama. Walakin, saat ini belum ada pola yang jelas dalam produksi serial di Indonesia. 

Muthia mengingat semasa ia kecil, era 1990-an menjadi puncak popularitas serial di televisi. Saat itu, menurut Muthia banyak bermunculan serial menarik. Namun, mulai era 2000-an ke atas, situasi berubah.

“Belum punya pattern industri, dan membuat iklim industri belum punya pencerahan. Kehadiran OTT saat ini membuat konten dan cerita menjadi diutamakan. Perbedaannya dengan TV karena mungkin harus terusterusan, supply harus cepat, demand tinggi, jadi sirkulasi secara bisnis tidak mungkin cukup punya waktu untuk mendesain cerita sebaik mungkin,” kata Muthia via sambungan telepon, Jumat (2/10).

Ia pun melihat perlu adanya peningkatan kemampuan para pekerja kreatif di Indonesia. Di sisi lain, banyak sineas berbakat, tapi tidak ditunjang dengan ekosistem yang baik.  “Kebutuhan produksi terus naik, inovasi konten, supply terus-terusan ada. Bukan hanya bersaing di dalam negeri, tetapi juga bersaing dengan series dari luar. Sekarang pilihan penonton jadi lebih luas dan beragam. Sekarang juga banyak series dari Thailand sudah menjamur dan kualitasnya jauh lebih baik. Ini sebenarnya memungkinkan series kita dikenalkan di luar. Makanya kreator kita juga perlu upgrade skill,” ujarnya. 


Lini masa

Sementara itu, produser Cerita Films Hernu Rasyid mengamini pendapat Angga perihal kendala waktu. Baginya, lini masa produksi menjadi salah satu urgensi.

“Kalau mau diurutkan, yang pertama ya tentu timeline produksi. Baru bicara bujet. Mau dikasih bujet gede pun dengan waktu yang sempit, enggak akan maksimal,” katanya saat dihubungi, Kamis (1/10).

Berbeda dengan OTT cukup mafhum proses produksi audio visual, beberapa brand disebut Hernu belum siap dengan linimasa produksi yang cukup lama.

“Sebenarnya semua pihak secara bisnis aman, baik yang menggarap series untuk orisinal OTT maupun series untuk brand tertentu. Soal bujet kendalanya karena series barang baru di industri marketing. Jadi standarnya belum ada. Dalam setahun bisa ketemu sampai 20 brand yang mau bikin series, tetapi yang siap paling 1-2,” ucapnya.

Sineas Fajar Nugros berpandangan, bentuk ideal yang tengah dicari saat ini dalam produksi dan industri serial dalam negeri bisa mengacu pada situasi yang tengah berkembang saat ini. 

“Ideal atau tidak, adalah bagaimana kita menyikapinya. Saya pikir ke depannya kita akan menemukan sistem ideal sendiri. Tidak harus mengacu pada series luar. Seperti film, market kita masih Indonesia saja dengan bioskop yang terbatas, sedangkan Hollywood memiliki market dunia. Maka ideal buat Hollywood adalah biaya produksi yang sesuai marketnya. Mungkin series kita juga akan begitu, jika produknya sudah bisa ditonton dan menarik secara luas,” ungkapnya kepada Media Indonesia melalui surat elektronik, Kamis (1/10).

Dalam produksi suatu series, ia memberikan gambaran secara kasar biayanya hampir setara dengan produksi satu setengah kali bujet film. Angka kasar itu setara dengan produksi untuk satu musim series berjumlah 12 episode.

Sebagai kreator, bagi Nugros series menjadi medium baru yang menantang untuk dieksplorasi. “Series ialah medium baru bagi saya. Bagaimana kualitasnya harus lebih baik dari series yang ada di TV, saya juga harus mempelajari cara penonton dalam menikmatinya,” kata Nugros. (M-2)

Baca Juga

Unsplash/ Yuris Alhumaydy

Ini Caranya Agar Tidak Salah Menghadapi Orang yang Menangis

👤MI Weekend 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 06:40 WIB
Buru-buru menenangkan orang yang menangis nyatanya belum tentu...
AFP

Inilah Tiga Teratas Barang Belanjaan Daring di Asia Tenggara

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 19:00 WIB
Semakin banyak orang yang kini mulai mencoba berbelanja secara daring akibat ruang gerak yang terbatas disebabkan pembatasan...
ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

39 Perupa Berpameran Daring di Galeri Nasional Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 18:40 WIB
Pameran ini dikurasi oleh Citra Smara Dewi dan Heru Hikayat. Menampilkan 40 karya berupa lukisan, patung (3D), video art, dan sketsa, dari...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya