Minggu 04 Oktober 2020, 00:35 WIB

Strategi untuk Berdamai

Abdillah Marzuqi | Weekend
Strategi untuk Berdamai

MI/Andri Widiyanto
Pameran Berdamai karya dua pelukis, yakni Aisul Yanto dan Chryshnanda Dwilaksana di Balai Budaya

TIDAK banyak yang bisa dilirik dari lukisan abstrak, selain sengkarut garis dan kelindan sapuan warna. 

Kebanyakan orang bakal mengerutkan dahi sembari merenung ketika berhadapan dengan sebingkai karya abstrak. Tidak banyak pula dari mereka yang mampu menyelami dan memahami lukisan tersebut. 

Setidaknya itulah yang kerap bermain di pikiran publik. Di balik anggapan tersebut, lukisan abstrak tentu saja menyimpan nilai estetika tersendiri. Sebagai seni, abstrak tidak serta-merta bisa dipukul dengan paham segaris. 

Bagi pencintanya, lukisan abstrak tentulah menarik dengan gaya khas yang sulit ditemukan dalam model lukisan lain. Sulit dipahami tak berarti tertutup untuk dinikmati. Tengok saja lukisan dalam pameran Berdamai di Balai Budaya pada 22 September - 2 Oktober 2020. 

Meski terbatas dalam ruang nyata, pameran itu masih bisa tersaji daring hingga 22 Oktober 2020. Unjuk karya itu dilakukan dua pelukis, yakni Aisul Yanto dan Chryshnanda Dwilaksana.

Aisul menyajikan 13 karya dan Chrysh nanda 9 karya. Semua karya punya luasan rerata ukuran di atas 1 meter. Beberapa karya tersebut dibuat bareng dalam selingkup ruang dan waktu.

“Jadi kami minggu lalu melukis bersama dengan kanvas ukuran sama, dijejerkan. Kita melukis saja di situ seenaknya, dalam sehari penuh menghasilkan beberapa karya,” ucap Aisul, Rabu (30/9).

Menurut Aisul, ia dan Chryshnanda bersepakat untuk berkarya bersama. Dua kanvas dijejer, dua pelukis menghadap kanvas masing-masing. Mirip seperti latih tanding dalam satu ring, energi mereka saling bertemu, saling bertarung secara positif sembari berdamai dengan yang lain.Hal itu dibahasakan Aisul dengan kata strategi.

“Memang style-nya agak keluar dari kebiasaan saya karena saya harus memiliki strategi untuk melukis dengan cepat ketika ber-sparing partner dengan pelukis Chryshnanda,” tambahnya.

Karya tersebut lalu dipamerkan di Balai Budaya. Pemilihan lokasi pameran juga dimaksudkan agar Balai Budaya kembali bergeliat. Sejak pandemi merebak, hampir tak ada aktivitas kegiatan pameran. Pandemi memaksa orang untuk atur strategi, termasuk dalam berpameran.

Perdamaian ekspresi, susunan kata itu dilontarkan Joko Kisworo dalam kuratorial. Rasa-rasanya tepat untuk membingkai semangat dalam pameran lukisan kali ini. ‘Chryshnanda Dwilaksana dan Aisul Yanto berpacu dalam ekspresi, rasa, dan karsa, melalui irama energi saling berdamai dengan situasi yang terjadi saat ini melalui warna dan kanvas’, tulis Joko.

Menurut Joko, kanvas mereka berdua tidak hendak mengekspresikan dunia luar seperti yang dialami seniman kebanyakan. Sebaliknya, mereka hanya merasakan adanya sebuah perintah dari sesuatu yang tidak dipahami. Mereka hanya merasakan dorongan yang kuat mendesak sehingga tidak mampu ditolak.

“Dari ekspresi langsung yang saya cermati di kanvas mereka berasal dari dunia yang ada didalam diri, di dalam jiwa, di dalam kehidupannya. Simbolsimbol goresan warna penuh dengan nuansa perasaan yang menyatu. Walau cenderung abstrak, lukisan mereka terselesaikan dan berdiri sendiri. Tampak jelas mereka menggambarkan sebuah proses penting yang dibutuhkan untuk mengenali diri secara psike dan spiritual. Dari hasil cermatan saya teringat relevansi untuk menebar kearifan yang tak lekang oleh waktu,” tandas Joko.

Menurut Joko, karya Chryshnanda adalah refleksi yang keluar dari sebuah keresahan dan keprihatinan jiwa yang terjadi saat ini.  Chryshnanda berusaha untuk masuk pada kedalaman jiwa dan hati nuraninya dalam menyikapi tema dalam pameran Berdamai.

Hal itu tampak dalam judul karya Berdamai dengan Hati (2020), Berdamai dengan Diri Sendiri (2020), Berdamai dengan Alam (2020), dan Berdamai dengan Pandemi (2020). Aisul menyajikan beberapa karya seperti yang dibuatnya bersamaan dengan Chryshnanda seperti Seri Energi Damai #1 (2020), Seri Energi Damai #2 (2020), dan Seri Energi Damai #3 (2020).

Seluruh karyanya cenderung berwarna hitam-putih, begitupun karya lain semisal Energi Gwangju (2012), Energi Jakarta (2012), Energi #25 (2015). Menurut Joko, di lukisan itu banyak sekali bertebaran warna hitam-putih dengan ekspresi yang menampakkan sumelehnya singgasana jiwa. 

Bentukbentuk garis-garis pendek yang supel, titik-titik warna hitam dengan hamparan warna putih, abu-abu adalah hamparan kedalaman rasa yang tersugesti oleh kekuatan energinya. Energi yang tak pernah lekang oleh roh keseniannya, tak pernah lekang oleh instrumen kehidupan yang pernah dijalaninya. (M-4)

 

Baca Juga

123Rf

Hidup Ceria Demi Terhindar Pikun

👤Galih Agus Saputra 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 23:42 WIB
Antusiasme dan keceriaan bisa mengurangi risiko anjloknya daya...
Ist

Pengguna Spotify Kuartal Ketiga Naik Menjadi 320 Juta

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 22:40 WIB
Pengguna platform streaming musik Spotify naik menjadi 320 juta orang pada kuartal ketiga tahun...
Ilustrasi

Cara Seru Menikmati Libur Panjang Kala Pandemi

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 21:00 WIB
Staycation di rumah tetapi bebas dari pekerjaan sehingga mirip seperti liburan sesungguhnya dibandingkan harus menempuh perjalanan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya