Jumat 02 Oktober 2020, 22:37 WIB

Nadiem: Batik Wujud Filosofi Kehidupan Rakyat Indonesia

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Nadiem: Batik Wujud Filosofi Kehidupan Rakyat Indonesia

Dok. Kemendikbud
Pembentangan batik motif Garuda Nusantara

 

11 tahun yang lalu, tepatnya pada 2009, pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional usai UNESCO secara resmi mengakui batik sebagai warisan budaya dunia.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, batik bukan hanya sekedar sebuah kerajinan tangan, tetapi juga mengandung makna filosofis kehidupan rakyat Indonesia sejak lahir hingga kembali kepada Tuhan YME yang dipengaruhi oleh alam sekitar hingga pengaruh zaman.

“Batik diturunkan dari generasi ke generasi melalui pemaknaan simbol warna dan corak kehidupan. Warisan ini menuangkan kreativitas dan spiritualitas masyarakat Indonesia yang tidak lekang oleh waktu dan sudah sepatutnya kita menjaga warisan budaya ini,” kata Nadiem dalam Pembentangan Perdana Mahakarya Kain Batik Garuda Nusantara, Jumat (2/10).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menuturkan bahwa pengakuan UNESCO terhadap batik merupakan sebuah berkah karena menjadi wujud apresiasi dunia kepada salah satu kekayaan bangsa ini. Namun, pengakuan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi masyarakat untuk terus merawat, melestarikan, dan mengenalkan batik kepada dunia.

“Kami selaku garda depan diplomasi Indonesia tidak pernah lelah untuk mempromosikan batik Indonesia kepada masyarakat internasional. Kami para diplomat Indonesia dalam setiap kesempatan kerap kali mengenakan pakaian batik dan juga kain nusantara lainnya terutama pada saat momen-momen istimewa,” ujar Retno.

Baca juga : Hari Batik Nasional Momentum Kebangkitan Produk Lokal

Dia mengungkapkan, saat ini 47 ribu unit usaha batik yang didominasi oleh usaha kecil dan menengah serta menyerap lebih dari 200 ribu tenaga kerja ikut terdampak pandemi covid-19. Permintaan batik menurun secara signifikan hingga menyebabkan banyak pengrajin berhenti berproduksi serta workshop terpaksa ditutup.

Oleh sebab itu, Retno berharap pemerintah dan masyarakat Indonesia dapat bekerja sama dalam membantu industri batik agar dapat kembali menggeliat.

“Di Kementerian Luar Negeri kami telah meminta seluruh perwakilan Republik Indonesia di luar negeri untuk membeli batik hasil UMKM sebagai promosi. Sejauh ini telah berhasil diperoleh komitmen pembelian batik senilai lebih dari Rp1,6 miliar. Hal yang sama akan kita lakukan juga untuk kain Nusantara lainnya. Saya yakin dengan kerjasama serta kolaborasi kita semua dapat saling bahu-membahu memulihkan kembali industri batik serta ekonomi saudara-saudara kita para pengrajin batik,” tandasnya.

Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari ini (2/10) juga digelar secara daring akibat pandemi covid-19. Peringatan ini ditandai dengan pembentangan kain Batik Garuda Nusantara (BGN) sepanjang 74 meter di Taman Purbakala Museum Nasional dan peluncuran sentra pasar digital batik Indonesia Kuklik Batik oleh Yayasan Tjanting Batik Nusantara (TBN). (OL-7)

Baca Juga

Antara/Herviyan Perdana Putra

Pembangunan Keluarga Penting untuk Cegah Stunting

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 20:12 WIB
Presiden RI Joko Widodo telah mencanangkan agar prevalensi stunting ditekan serendah-rendahnya dengan target 14% pada tahun...
Antara/Idhad Zakaria

Potensi Bencana Tinggi, Kepala Daerah Dituntut Lakukan Mitigasi

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 17:29 WIB
Megawati mengaku sudah belajar praktik di Tiongkok dan Jepang soal metode menghadapi bencana...
Ist

Muda Konsumsi Kedelai, Tua Sehat Bugar 

👤Iis Zatnika 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 17:02 WIB
Dr.Rimbawan menuturkan, kedelai dan produk olahannya sesungguhnya kaya manfaat kesehatan, namun kerap dibayang-bayangi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya