Jumat 02 Oktober 2020, 05:33 WIB

Institut Pasteur Klaim Temukan Khasiat Obat Lama Untuk Covid-19

Faustinus Nua | Internasional
Institut Pasteur Klaim Temukan Khasiat Obat Lama Untuk Covid-19

AFP/DENIS CHARLET
Ahli biologi dari Institut Pasteur de Lille Prancis melakukan uji swab kepada warga untuk mendeteksi covid-19.

 

INSTITUT Pasteur di kota Lille, Prancis utara mengonfirmasi penemuan obat yang sangat menjanjikan dalam memerangi pandemi virus korona, tanpa menyebut namanya. Ketika tingkat infeksi meningkat di banyak negara Eropa, termasuk Prancis, Institut Pasteur di Lille baru-baru ini mengkonfirmasi penemuan molekul obat pada Juni lalu yang telah menjanjikan sebagai pengobatan terapeutik untuk melawan virus. Ini bukan obat baru tetapi telah digunaan di masa lalu untuk mengobati penyakit lain. Sempat muncul dugaan bahwa obat itu adalah hydroxychloroquine yang secara kontroversial disebut-sebut sebagai pengobatan korona yang dilakukan pada awal pandemi.

Obat yang tidak disebutkan namanya telah menjalani sejumlah penelitian laboratorium, yang menemukan bahwa obat tersebut bisa melawan virus.

"(Memiliki) kekuatan yang cukup besar untuk melawan virus," kata Dr. Benoît Deprez, direktur ilmiah Institut Pasteur di Lille.

Obat tersebut diharapkan untuk memulai uji klinis awal, yang diperkirakan menelan biaya € 5 juta pada musim dingin ini, sebelum disetujui untuk digunakan pada pasien dengan diagnosis Covid-19 yang dikonfirmasi.

Dikutip France24, Dirjen Institut Pasteur di Lille, Dr. Xavier Nassif menjelaskan bahwa obat itu ditemukan melalui reposisi obat. Mereka memiliki kesempatan untuk mengakses bank yang berisi 2.000 molekul obat di awal pandemi.

"2.000 molekul ini kemudian digunakan kembali. Banyak yang diidentifikasi sebagai aktif, tetapi dengan dosis yang cukup tinggi dibandingkan dengan kecepatan penggunaannya," ungkapnya.

Molekul yang menonjol tidak hanya aktif, tetapi mampu menghalangi virus untuk bereplikasi dalam sel dengan kecepatan yang sesuai dengan penggunaan manusia normal. Terlebih lagi, obat tersebut telah digunakan selama bertahun-tahun, memiliki sedikit efek samping dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik yang menjadikannya kandidat yang kuat.

Studi laboratorium lebih lanjut menunjukkan bahwa itu menghalangi virus untuk bereplikasi di beberapa jenis sel, termasuk dalam sel paru manusia primitif.

"Semua tes dilakukan secara in vitro l atau di laboratorium, jadi kami berhati-hati, karena kami masih harus memastikan efisiensi obat in vivo, yang berarti apakah molekul tersebut mampu memblokir replikasi secara efisien pada manusia," terangnya.

Menurutnya, bila mereka menunjukkan bahwa molekul ini dapat memblokir replikasi virus pada manusia, maka molekul tersebut siap untuk segera digunakan. Ini adalah obat dengan beberapa karakteristik yang sudah diberikan kepada manusia tanpa terlalu banyak efek samping. Dan dapat diberikan secara enteral atau melalui saluran pencernaan, bukan melalui jalur subkutan atau intravena. Uji klinis akan memberi tahu peneliti apa saja indikasi terbaik untuk digunakan.

"Ini akan mencegah subjek menjadi sakit parah setelah terinfeksi. Juga bisa mencegah mereka yang melakukan kontak dengan subjek menjadi pembawa virus," tambah Dr. Nassif.

Lebih lanjut, obat tersebut, bila diberikan kepada pasien tanpa gejala, dapat mencegah mengeluarkan virus dalam jangka waktu lama, sehingga mengurangi karantina. Hasil uji klinis akan membantu peneliti untuk menentukan penggunaan obat yang tepat dan dampak akhir bagaimana epidemi dikelola.

Dr Nassif menambahkan bahwa molekul tersebut tidak terlalu mahal. Sehingga bisa diproduksi dan didistribusi secara massal.

"Terserah pabrikan untuk melihat apa yang bisa dilakukan. Kami telah menghubungi mereka untuk memberi tahu mereka tentang penemuan kami. Mereka sangat membantu, sangat kooperatif, dan saya pikir akan dilakukan semaksimal mungkin untuk membuat obat ini tersedia. Jika obat ini sangat efisien dan perlu didistribusikan dalam skala massal, langkah-langkah harus diambil di tingkat manufaktur untuk menanggapi permintaan," katanya.

Pihaknya pun bersedia untuk mempublikasikan hasil uji klinis pada jurnal ilmiah. Dia mengatakan bahwa mereka akan mencoba mendemonstrasikan khasiat obat secara in vivo dengan menggunakan monyet kera sebagai subjek uji. Jika berhasil, tentu akan mempublikasikan hasilnya.

"Kami tidak sabar untuk memulai uji coba pada hewan. Jika semuanya berjalan lancar harus mulai uji November," tambahnya.

baca juga: India Buka kembali Sekolah dan Bioskop

Pihaknya berharap untuk memulai uji coba pada manusia di musim dingin ini, setelah memiliki otorisasi yang diperlukan. Kemungkinan keberhasilan menggunakan monyet akan mempercepat maju ke percobaan manusia.

"Uji klinis mahal. Kami berharap komunikasi seputar penemuan kami akan membantu kami mengumpulkan dana baik dari donor publik dan atau swasta. Saat ini, yang kita butuhkan adalah uang," pungkasnya.(OL-3)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Tiongkok: Kehadiran Pompeo di Indonesia Bentuk Provokasi

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 15:27 WIB
Tindakan dan pernyataan keliru Pompeo belakangan ini telah semakin menyingkapkan intensi buruk...
AFP/THIBAULT CAMUS

Indonesia Kutuk Penistaan Islam oleh Presiden Macron

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 13:20 WIB
Kebebasan berekspresi hendaknya tidak dilakukan dengan cara yang menodai kehormatan, kesucian dan kesucian nilai dan simbol...
AFP/Alex Edelman

Rekor, AS Catat 90.000 Kasus Baru Korona dalam 24 Jam

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 11:35 WIB
Tercatat ada 91.295 kasus baru dalam 24 jam sampai dengan Kamis pukul 20.30 waktu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya