Jumat 02 Oktober 2020, 01:45 WIB

Biden Ungguli Trump dalam Isu Ekonomi

Faustinus Nua | Internasional
Biden Ungguli Trump dalam Isu Ekonomi

AFP
Calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden melakukan kampanye di depan para pekerja di New Alexandria, Pennsylvania, AS

 

JOE Biden dari Partai Demokrat secara konsisten menang dalam jajak pendapat melawan Presiden AS Donald Trump menjelang pemilihan presiden November mendatang.

Terlepas dari tanggapan soal Trump yang gagal menangani pandemi covid19, Biden dinilai mempertahankan keunggulan marjinal pada pertanyaan tentang kandidat mana yang lebih baik untuk ekonomi AS.

Menurut Nouriel Roubini selaku profesor ekonomi di Sekolah Bisnis Stern Universitas New York, pemerintahan Demokrat cenderung memimpin pertumbuhan (ekonomi) yang lebih cepat, pengangguran yang lebih rendah, dan pasar saham yang lebih kuat daripada presiden dari Partai Republik.

“Faktanya, resesi AS hampir selalu terjadi di bawah pemerintahan Republik. Resesi tahun 1970, 1980-1982, 1990, 2001, 2008-2009, dan, sekarang semuanya terjadi ketika seorang Republikan berada di Gedung Putih,” katanya.

Begitu pula dengan krisis keuangan global tahun 2008-2009, dipicu oleh krisis keuangan tahun 2007-2008, yang juga terjadi dalam pengawasan Partai Republik. Selain itu, pilihan wakil presiden Joe Biden, Senator AS Kamala Harris dari California, terbukti moderat. 

Lalu sebagian besar senator Demokrat, yang akan duduk di Kongres nanti, lebih sentris daripada sayap kiri partai mereka. “Ya, pemerintahan Biden mungkin menaikkan tarif pajak marjinal pada perusahaan dan 1% rumah tangga teratas, yang dipotong oleh Trump dan anggota Kongres Partai Republik hanya untuk memberikan sumbangan US$1,5 triliun kepada donor dan perusahaan kaya,” ujar Roubini.


Fokus pada pekerja

Kebijakan ekonomi Trump dinilai telah menjadi bencana bagi pekerja AS dan daya saing ekonomi jangka panjang. Kebijakan perdagangan dan imigrasi Trump yang dianggap sebagai langkah untuk memulihkan pekerjaan AS ternyata memiliki efek sebaliknya.

Menurut Roubini, jika ingin mengisi pekerjaan bernilai tinggi di masa depan, Amerika Serikat perlu melatih angkatan kerjanya, bukan malah merangkul proteksionisme dan senofobia yang merusak Amerika sendiri.

“Pilihan bagi pemilih AS yang mengkhawatirkan prospek ekonomi Amerika sangat jelas. Biden, yang telah lama terlibat dalam masalah pekerja kelas bawah, adalah satu-satunya kandidat presiden dalam sejarah baru-baru ini tanpa latar belakang Ivy League,” ungkapnya.

Ditambahkannya, Biden memiliki peluang yang lebih baik daripada siapa pun untuk membangun kembali koalisi Demokrat dan memenangkan kembali dukungan dari pemilih kelas pekerja yang tidak terpengaruh.

Roubini juga menyebut Partai Republik selama ini secara konsisten mengejar kebijakan fiskal yang sembrono, membelanjakan sebanyak yang dilakukan Demokrat, tetapi menolak untuk menaikkan pajak untuk menutupi kekurangan anggaran yang dihasilkan.

Pada awal 2009, tingkat pengangguran AS sudah melampaui 10%, pertumbuhan terjun bebas, defisit anggaran telah melebihi US$1,2 triliun, dan pasar saham turun hampir 60%. Namun, pada akhir masa jabatan kedua Obama di awal 2017, semua indikator itu telah menunjukkan perbaikan.

“Faktanya, bahkan sebelum resesi akibat covid-19, lapangan kerja AS dan pertumbuhan PDB serta kinerja pasar saham lebih baik di bawah Obama dari pada di bawah Trump,” imbuhnya. (AFP/X-11)

Baca Juga

AFP

Biden Menang, Hubungan Indonesia-AS Lebih Clear

👤Nur Aivanni 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 02:15 WIB
Jika Trump yang keluar sebagai pemenang, akan ada stagnansi ketidakpastian dalam hubungan AS-Indonesia meski tidak ada yang secara akurat...
Antara

Serangan Rudal Armenia, 21 Orang di Azerbaijan Tewas

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 21:00 WIB
Militer Azerbaijan mengatakan serangan rudal di dekat Nagorno-Karabakh pada Rabu (28/10) telah menewaskan 21 orang dan puluhan lainnya...
AFP/Ahmad Gharabli

Indonesia Panggil Dubes Prancis dan Kecam Pernyataan Macron

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 20:51 WIB
Pemerintah Indonesia keberatan terhadap pernyataan Presiden Macron yang mengindikasikan ada kaitan antara agama dan tindakan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya